<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836</id><updated>2011-11-27T15:51:04.897-08:00</updated><title type='text'>Pengajian Bahrain</title><subtitle type='html'>halaqoh ilmiah muslim expatriate di kingdom of Bahrain</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>23</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836.post-4361606328779972687</id><published>2008-12-28T20:32:00.000-08:00</published><updated>2008-12-28T20:33:34.991-08:00</updated><title type='text'>Bulan Suro Dalam Persepsi Islam dan Masyarakat (2)</title><content type='html'>Posted: 28 Dec 2008 05:01 PM CST&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa Sial Dengan Waktu Tertentu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah tinjauan kedua kita yaitu merasa sial dengan waktu tertentu. Merasa sial biasa muncul ketika seseorang mendapatkan bencana atau musibah. Ketika terjadi seperti ini barulah dia mengatakan, “Waduh! Bencana ini karena kesialan dari Si A atau kesialan pada bulan ini.” Itulah yang dicontohkan oleh Fir’aun. Ketika dia mendapatkan bencana barulah dia mengatakan bahwa ini semua disebabkan oleh Musa. Artinya Musa-lah yang mendatangkan kesialan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami.” Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al A’raaf [7]: 131)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah ayat di atas. Ketika Fir’aun dan pengikutnya mendapatkan hujan, kesuburan, rizki yang melimpah dan keselamatan, mereka menyatakan bahwa itu adalah karena mereka memang pantas untuk mendapatkannya. Mereka tidaklah mengakui bahwa limpahan nikmat tersebut berasal dari Allah lalu mensyukuri-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tatkala hujan tidak turun, kekeringan dan berbagai bencana datang, mereka menyatakan bahwa ini semua adalah kesialan dari Musa dan pengikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah juga kelakuan orang Arab dahulu. Tatkala mereka ingin melakukan sesuatu, terlebih dahulu mereka menggertak (membentak) buruk. Jika burung tersebut terbang ke arah kiri, ini pertanda sial. Namun, jika burung terbang ke arah kanan, ini pertanda baik (berkah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah pada penutup Al A’rof ayat 131 di atas. Terakhir, Allah Ta’ala katakan bahwa kesialan yang menimpa mereka sebenarnya adalah ketetapan dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ahli tafsir Qur’an, mengatakan: maksud ayat terakhir ini adalah bahwa apa saja yang menimpa mereka berasal dari ketetapan Allah. (Lihatlah penjelasan ini dalam Zadul Masir pada tafsir surat Al A’raaf ayat 131)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beranggapan sial dalam agama ini dikenal dengan istilah tathoyyur. Istilah ini berasal dari perbuatan orang Arab yang kami ceritakan di atas. Ketika mereka melakukan sesuatu, mereka membentak burung terlebih dahulu. Jika burung tersebut ke arah kiri, ini berarti pertanda sial sehingga mereka mengurungkan niat mereka untuk melakukan sesuatu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa merasa sial seperti di atas dan contoh lainnya bukan hal yang biasa-biasa saja bahkan perbuatan ini termasuk kesyirikan sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam nyatakan sendiri. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;« الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ». ثَلاَثًا « وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beranggapan sial termasuk kesyirikan, beranggapan sial termasuk kesyirikan. (Beliau menyebutnya tiga kali, lalu beliau bersabda). Tidak ada di antara kita yang selamat dari beranggapan sial. Menghilangkan anggapan sial tersebut adalah dengan bertawakkal.” (HR. Abu Daud no. 3912. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 429. Lihat penjelasan hadits ini dalam Al Qoulul Mufid - Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, beranggapan sial dengan sesuatu baik dengan waktu, bulan atau beranggapan sial dengan orang tertentu adalah suatu yang terlarang terlarang bahkan beranggapan sial termasuk kesyirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah bahwa setiap kesialan atau musibah yang menimpa, sebenarnya bukanlah disebabkan oleh waktu, orang atau tempat tertentu! Namun, semua itu adalah ketentuan Allah Ta’ala Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang patut direnungkan. Seharusnya seorang muslim apabila mendapatkan musibah atau kesialan, hendaknya dia mengambil ibroh bahwa ini semua adalah ketentuan dan takdir Allah serta berasal dari-Nya. Allah tidaklah mendatangkan musibah, kesialan atau bencana begitu saja, pasti ada sebabnya. Di antara sebabnya adalah karena dosa dan maksiat yang kita perbuat. Inilah yang harus kita ingat, wahai saudaraku. Perhatikanlah firman Allah ‘Azza wa Jalla,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy Syuraa [42] : 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Sholih bin Fauzan hafizhohullah mengatakan, “Jadi, hendaklah seorang mukmin bersegera untuk bertaubat atas dosa-dosanya dan bersabar dengan musibah yang menimpanya serta mengharap ganjaran dari Allah Ta’ala. Janganlah lisannya digunakan untuk mencela waktu dan hari, tempat terjadinya musibah tersebut. Seharusnya seseorang memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya serta ridho dengan ketentuan dan takdir-Nya. Juga hendaklah dia mengetahui bahwa semua yang terjadi disebabkan karena dosa yang telah dia lakukan. Maka seharusnya seseorang mengintrospeksi diri dan bertaubat kepada Allah Ta’ala.” (Lihat I’anatul Mustafid dan Syarh Masa’il Jahiliyyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, waktu dan bulan tidaklah mendatangkan kesialan dan musibah sama sekali. Namun yang harus kita ketahui bahwa setiap musibah atau kesialan yang menimpa kita sudah menjadi ketetapan Allah dan itu juga karena dosa yang kita perbuat. Maka kewajiban kita hanyalah bertawakkal ketika melakukan suatu perkara dan perbanyaklah taubat serta istighfar pada Allah ‘azza wa jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pantaskah  bulan Suro dianggap sebagai bulan sial dan bulan penuh bencana? Tentu saja tidak. Banyak bukti kita saksikan. Di antara saudara kami, ada yang mengadakan hajatan nikah di bulan Suro, namun acara resepsinya lancar-lancar saja, tidak mendapatkan kesialan. Bahkan keluarga mereka sangat harmonis dan dikaruniai banyak anak. Jadi, sebenarnya jika ingin hajatannya sukses bukanlah tergantung pada bulan tertentu atau pada waktu baik. Mengapa harus memilih hari-hari baik? Semua hari adalah baik di sisi Allah. Namun agar hajatan tersebut sukses, kiatnya adalah kita kembalikan semua pada Yang Di Atas, yaitu kembalikanlah semua hajat kita pada Allah. Karena Dia-lah sebaik-baik tempat bertawakal. Inilah yang harus kita ingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai Ritual di Bulan Suro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, kita akan melihat berbagai macam ritual yang dilaksanakan di bulan Suro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Solo akan diarak seekor Kebo (dinamakan Kyai Slamet) di tengah manusia lalu diambil berkah dari kotorannya. Ada yang menganggap bahwa kotoran ini –jika disimpan- akan mendatangkan banyak rizki dan memperlancar usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami cuma bisa berkomentar, “Ini suatu yang tidak masuk akal. Kok hanya kotoran apalagi  kotoran kebo bisa diambil berkahnya [?] Sunggguh sangat tidak logis! Apalagi ini adalah ngalap berkah yang termasuk kesyirikan karena di dalamnya terdapat ketergantungan pada selain Allah dalam mengambil manfaat dan menolak bahaya. Na’udzubillahi min dzalik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat lain ketika memasuki bulan Suro yang dianggap sangat sakral, kita juga akan melihat orang-orang membersihkan pusaka atau benda-benda keramatnya seperti keris, kereta peninggalan leluhur dan lain sebagainya. Ada juga yang melakukan arak-arakan tumpeng lalu diambil berkahnya. Juga ada yang melakukan ritual kum-kum untuk penyucian diri. Dan masih banyak ritual lainnya ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan suro dianggap amatlah sakral, sehingga jadi ajang ritual-ritual tadi. Yang jelas, ritual-ritual tadi tidak terlepas dari kesyirikan dan bid’ah (sesuatu yang diada-adakan). Agama Islam tidak pernah mengajarkan ritual-ritual semacam itu. Ritual-ritual tadi hanya warisan leluhur yang turun temurun yang tidak pernah diajarkan sama sekali oleh agama ini. Seorang yang beriman pada Allah dan Rasul-Nya dengan benar tentu tidak akan melakukan ritual-ritual semacam ini apalagi ritual ini tidak terlepas dari kesyirikan dan bid’ah. Maka seharusnya seorang muslim berpikir berulang kali untuk melakukan ritual-ritual tadi karena akibat syirik dan bid’ah yang sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara bahaya syirik adalah akan menghapus seluruh amalan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al An’am[6]: 88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila orang seperti ini tidak bertaubat, maka diharamkan baginya surga. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al Maidah [5]: 72)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, sungguh sangat mengerikan sekali dampak dari berbuat syirik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dampak dari berbuat bid’ah. Pelaku bid’ah tidak akan merasakan nikmatnya meminum air di telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhirat nanti dan mereka tidak akan mendapatkan syafa’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu.’” (HR. Bukhari no. 7049)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain dikatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّهُمْ مِنِّى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Wahai Rabbku), mereka betul-betul pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sebenarnya engkau tidak mengetahui bahwa mereka telah mengganti ajaranmu setelahmu.” Kemudian aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku.” (HR. Bukhari no. 7051)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah do’a laknat untuk orang-orang yang berbuat bid’ah. Seharusnya ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja yang kita ikutilah dan itu akan membuat kita merasa cukup. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang telah kami jelaskan di awal bahwa bulan Muharram adalah bulan yang mulia. Bulan ini disebut bulan haram karena berbagai macam keharaman seperti pembunuhan dilarang ketika itu. Ini berarti keharaman yang lebih besar dari pembunuhan lebih keras lagi untuk dilarang. Jadi, perbuatan syirik dan bid’ah lebih keras pelarangannya ketika dilakukan pada bulan haram termasuk bulan Suro (bulan Muharram). Wallahu a’lam bish showab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita dijauhkan oleh Allah dari berbuat syirik dan bid’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memperbaiki aqidah dan keyakinan kaum muslimin. Semoga Allah memudahkan dalam setiap hajat kita. Da semoga kita termasuk orang-orang yang bersabar ketika menghadapi musibah dan setiap takdir Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahumman fa’ana bima ‘alamtanaa, wa ‘alimnaa maa yanfa’una wa zidna ‘ilma. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diselesaikan di rumah tercinta Pangukan, Sleman pada pagi hari yang diberkahi, 28 Dzulhijah 1429 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin, Maktabah Al ‘Ilmi&lt;br /&gt;   2. Faidhul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, Abdur Rouf Al Manawi, Al Maktabah At Tijariyah Al Kubro, Mesir&lt;br /&gt;   3. I’anatul Mustafid dan Syarh Masa’il Jahiliyyah, Syaikh Sholih bin Fauzan&lt;br /&gt;   4. Syarh As Suyuthi li Sunan An Nasa’i, Abdur Rahman bin Abi Bakr Abul Fadhl As Suyuthi, Asy Syamilah&lt;br /&gt;   5. Syarh Masa’il Jahiliyyah, Syaikh Sholih bin Fauzan&lt;br /&gt;   6. Syarh Shohih Muslim, An Nawawi, Asy Syamilah&lt;br /&gt;   7. Tuhfatul  Ahwadzi bi Syarhi Jami’ At Tirmidzi, Muhammad Abdur Rahman bin Abdur Rohim Al Mubarokfuri Abul ‘Ala, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, Beirut&lt;br /&gt;   8. Zadul Maysir, Ibnul Jauziy, Asy Syamilah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T.&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5587366944880896836-4361606328779972687?l=pengajianbahrain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/4361606328779972687/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5587366944880896836&amp;postID=4361606328779972687' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/4361606328779972687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/4361606328779972687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/2008/12/bulan-suro-dalam-persepsi-islam-dan_28.html' title='Bulan Suro Dalam Persepsi Islam dan Masyarakat (2)'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836.post-258766785361452968</id><published>2008-12-28T20:31:00.000-08:00</published><updated>2008-12-28T20:32:50.470-08:00</updated><title type='text'>Bulan Suro Dalam Persepsi Islam dan Masyarakat (1)</title><content type='html'>Posted: 28 Dec 2008 04:50 PM CST&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita telah memasuki bulan Suro. Nama ini begitu populer di kalangan orang Jawa, meskipun tak menutup kemungkinan banyak penduduk Indonesia lainnya yang mengenalnya. Bulan yang dinamakan Suro ini, tak lain adalah bulan Muharram menurut kalender Islam. Terlebih dahulu marilah kita melihat, bagaimanakah penilaian Islam mengenai bulan Suro (bulan Muharram). Semoga Allah memudahkan urusan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam Menilai Bulan Suro Termasuk Bulan Haram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam agama ini, bulan Muharram atau bulan Suro, merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan suci. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah [9] : 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Hal ini dijelaskan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;« …السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“… satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan suci. Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3025)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; (4) Rojab. Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram ? Berikut penjelasan ulama mengenai hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, “Dinamakan bulan haram karena dua makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula sangat diagungkan jika dilakukan pada bulan haram ini.” (Lihat Zadul Maysir, Ibnul Jauziy, tafsir surat At Taubah ayat 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam Menyebut Bulan Muharram sebagai Syahrullah (Bulan Allah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 2812)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat mulianya bulan Muharram ini. Bulan ini betul istimewa karena disebut syahrullah yaitu bulan Allah, dengan disandarkan pada lafazh jalalah Allah. Karena disandarkannya bulan ini pada lafazh jalalah Allah, inilah yang menunjukkan keagungan dan keistimewaannya. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 1/475)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan yang sangat bagus dari As Zamakhsyari, kami nukil dari Faidhul Qodir (2/53), beliau rahimahullah mengatakan, “Bulan Muharram ini disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada lafazh jalalah ‘Allah’ untuk menunjukkan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut ‘Baitullah‘ (rumah Allah) atau ‘Alullah‘ (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus di sini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukkan adanya keutamaan pada bulan tersebut. Bulan Muharram inilah yang menggunakan nama Islami. Nama bulan ini sebelumnya adalah Shofar Al Awwal. Bulan lainnya masih menggunakan nama Jahiliyah, sedangkan bulan inilah yang memakai nama islami dan disebut Muharram. Bulan ini adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa penuh setelah bulan Ramadhan. Adapun melakukan puasa tathowwu’ (puasa sunnah) pada sebagian bulan, maka itu masih lebih utama daripada melakukan puasa sunnah pada sebagian hari seperti pada hari Arofah dan 10 Dzulhijah. Inilah yang disebutkan oleh Ibnu Rojab. Bulan Muharram memiliki keistimewaan demikian karena bulan ini adalah bulan pertama dalam setahun dan pembuka tahun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hafizh Abul Fadhl Al ‘Iroqiy mengatakan dalam Syarh Tirmidzi, “Apa hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah?” Beliau rahimahullah menjawab, “Disebut demikian karena di bulan Muharram ini diharamkan pembunuhan. Juga bulan Muharram adalah bulan pertama dalam setahun. Bulan ini disandarkan pada Allah (sehingga disebut syahrullah atau bulan Allah, pen) adalah untuk menunjukkan istimewanya bulan ini. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah Ta’ala kecuali bulan Allah - Muharram. (Dinukil dari Syarh Suyuthi li Sunan An Nasa’i, 3/206)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melihat penjelasan Az Zamakhsyari dan Abul Fadhl Al ‘Iroqiy di atas, jelaslah bahwa bulan Muharram adalah bulan yang sangat utama dan istimewa. Selanjutnya kita melihat berbagai anggapan masyarakat mengenai bulan Muharram (bulan Suro).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggapan Masyarakat Mengenai Bulan Suro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan suro adalah bulan penuh musibah, penuh bencana, penuh kesialan, bulan keramat dan sangat sakral. Itulah berbagai tanggapan masyarakat mengenai bulan Suro atau bulan Muharram. Sehingga kita akan melihat berbagai ritual untuk menghindari kesialan, bencana, musibah dilakukan oleh mereka. Di antaranya adalah acara ruwatan, yang berarti pembersihan. Mereka yang diruwat diyakini akan terbebas dari sukerta atau kekotoran. Ada beberapa kriteria bagi mereka yang wajib diruwat, antara lain ontang-anting (putra/putri tunggal), kedono-kedini (sepasang putra-putri), sendang kapit pancuran (satu putra diapit dua putri). Mereka yang lahir seperti ini menjadi mangsa empuk Bhatara Kala, simbol kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kesialan bulan Suro ini pula, sampai-sampai sebagian orang tua menasehati anaknya seperti ini: “Nak, hati-hati di bulan ini. Jangan sering kebut-kebutan, nanti bisa celaka. Ini bulan suro lho.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena bulan ini adalah bulan sial, sebagian orang tidak mau melakukan hajatan nikah, dsb. Jika melakukan hajatan pada bulan ini bisa mendapatkan berbagai musibah, acara pernikahannya tidak lancar, mengakibatkan keluarga tidak harmonis, dsb. Itulah berbagai anggapan masyarakat mengenai bulan Suro dan kesialan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah saudaraku bahwa sikap-sikap di atas tidaklah keluar dari dua hal yaitu mencela waktu dan beranggapan sial dengan waktu tertentu. Karena ingatlah bahwa mengatakan satu waktu atau bulan tertentu adalah bulan penuh musibah dan penuh kesialan, itu sama saja dengan mencela waktu. Saatnya kita melihat penilaian agama Islam mengenai dua hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencela Waktu atau Bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kita ketahui bersama bahwa mencela waktu adalah kebiasaan orang-orang musyrik. Mereka menyatakan bahwa yang membinasakan dan mencelakakan mereka adalah waktu. Allah pun mencela perbuatan mereka ini. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa (waktu)’, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al Jatsiyah [45] : 24). Jadi, mencela waktu adalah sesuatu yang tidak disenangi oleh Allah. Itulah kebiasan orang musyrik dan hal ini berarti kebiasaan yang jelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dalam berbagai hadits disebutkan mengenai larangan mencela waktu. Dalam shohih Muslim, dibawakan Bab dengan judul ‘larangan mencela waktu (ad-dahr)’. Di antaranya terdapat hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim no. 6000)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lafadz yang lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَقُولُ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ. فَلاَ يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ. فَإِنِّى أَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَهُ فَإِذَا شِئْتُ قَبَضْتُهُمَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mengatakan ‘Ya khoybah dahr’ [ungkapan mencela waktu, pen]. Janganlah seseorang di antara kalian mengatakan ‘Ya khoybah dahr’ (dalam rangka mencela waktu, pen). Karena Aku adalah (pengatur) waktu. Aku-lah yang membalikkan malam dan siang. Jika suka, Aku akan menggenggam keduanya.” (HR. Muslim no. 6001)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shohih Muslim (7/419) mengatakan bahwa orang Arab dahulu biasanya mencela masa (waktu) ketika tertimpa berbagai macam musibah seperti kematian, kepikunan, hilang (rusak)-nya harta dan lain sebagainya sehingga mereka mengucapkan ‘Ya khoybah dahr’ (ungkapan mencela waktu, pen) dan ucapan celaan lainnya yang ditujukan kepada waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dikuatkan dengan berbagai dalil di atas, jelaslah bahwa mencela waktu adalah sesuatu yang telarang. Kenapa demikian? Karena Allah sendiri mengatakan bahwa Dia-lah yang mengatur siang dan malam. Apabila seseorang mencela waktu dengan menyatakan bahwa bulan ini adalah bulan sial atau bulan ini selalu membuat celaka, maka sama saja dia mencela Pengatur Waktu, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa mencela waktu bisa membuat kita terjerumus dalam dosa bahkan bisa membuat kita terjerumus dalam syirik akbar (syirik yang mengekuarka pelakunya dari Islam). Perhatikanlah rincian Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah dalam Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencela waktu itu terbagi menjadi tiga macam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama; jika dimaksudkan hanya sekedar berita dan bukanlah celaan, kasus semacam ini diperbolehkan. Misalnya ucapan, “Kita sangat kelelahan karena hari ini sangat panas” atau semacamnya. Hal ini diperbolehkan karena setiap amalan tergantung pada niatnya. Hal ini juga dapat dilihat pada perkataan Nabi Luth ‘alaihis salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هَـذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah hari yang amat sulit.” (QS. Hud [11] : 77)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua; jika menganggap bahwa waktulah pelaku yaitu yang membolak-balikkan perkara menjadi baik dan buruk, maka ini bisa termasuk syirik akbar. Karena hal ini berarti kita meyakini bahwa ada pencipta bersama Allah yaitu kita menyandarkan berbagai kejadian pada selain Allah. Barangsiapa meyakini ada pencipta selain Allah maka dia kafir. Sebagaimana seseorang meyakini bahwa ada sesembahan selain Allah, maka dia juga kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga; jika mencela waktu karena waktu adalah tempat terjadinya perkara yang dibenci, maka ini adalah haram dan tidak sampai derajat syirik. Tindakan semacam ini termasuk tindakan bodoh (alias ‘dungu’) yang menunjukkan kurangnya akal dan agama. Hakikat mencela waktu, sama saja dengan mencela Allah karena Dia-lah yang mengatur waktu, di waktu tersebut Dia menghendaki adanya kebaikan maupun kejelekan. Maka waktu bukanlah pelaku. Tindakan mencela waktu semacam ini bukanlah bentuk kekafiran karena orang yang melakukannya tidaklah mencela Allah secara langsung. –Demikianlah rincian dari beliau rahimahullah yang sengaja kami ringkas-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka perhatikanlah saudaraku, mengatakan bahwa waktu tertentu atau bulan tertentu adalah bulan sial atau bulan celaka atau bulan penuh bala bencana, ini sama saja dengan mencela waktu dan ini adalah sesuatu yang terlarang. Mencela waktu bisa jadi haram, bahkan bisa termasuk perbuatan syirik. Hati-hatilah dengan melakukan perbuatan semacam ini. Oleh karena itu, jagalah selalu lisan ini dari banyak mencela. Jagalah hati yang selalu merasa gusar dan tidak tenang ketika bertemu dengan satu waktu atau bulan yang kita anggap membawa malapetaka. Ingatlah di sisi kita selalu ada malaikat yang akan mengawasi tindak-tanduk kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (16) إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan para malaikat Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.” (QS. Qaaf [50] : 16-17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-bersambung insya Allah-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T.&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5587366944880896836-258766785361452968?l=pengajianbahrain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/258766785361452968/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5587366944880896836&amp;postID=258766785361452968' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/258766785361452968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/258766785361452968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/2008/12/bulan-suro-dalam-persepsi-islam-dan.html' title='Bulan Suro Dalam Persepsi Islam dan Masyarakat (1)'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836.post-8331209432892286736</id><published>2008-12-28T19:09:00.000-08:00</published><updated>2008-12-28T19:11:03.970-08:00</updated><title type='text'>Pentingnya Tauhid (2)</title><content type='html'>Jika dilihat dari judulnya, mungkin banyak di antara kaum muslimin sendiri yang malas untuk membaca tulisan dengan judul ini. Karena menganggap bahwa masalah tauhid ini; anak kecil juga tahu kalau Allah subhanahu wa ta’ala itu Tuhan yang Satu (Esa), Dialah yang menciptakan alam semesta ini beserta segala isinya, jadi buat apa diperpanjang lebar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah Bahwa Penghuni Surga Itu Sedikit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jadi masalah adalah ketika penghuni surga jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah penghuni neraka sebagai mana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah berfirman: “Wahai Adam!” maka ia menjawab: “Labbaik wa sa’daik” kemudian Allah berfirman: “Keluarkanlah dari keturunanmu delegasi neraka!” maka Adam bertanya: “Ya Rabb, apakah itu delegasi neraka?” Allah berfirman: “Dari setiap 1000 orang 999 di neraka dan hanya 1 orang yang masuk surga.” Maka ketika itu para sahabat yang mendengar bergemuruh membicarakan hal tersebut. Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah siapakah di antara kami yang menjadi satu orang tersebut?” Maka beliau bersabda: “Bergembiralah, karena kalian berada di dalam dua umat, tidaklah umat tersebut berbaur dengan umat yang lain melainkan akan memperbanyaknya, yaitu Ya’juj dan Ma’juj. Pada lafaz yang lain: “Dan tidaklah posisi kalian di antara manusia melainkan seperti rambut putih di kulit sapi yang hitam, atau seperti rambut hitam di kulit sapi yang putih.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kita ketahui bahwa kaum muslimin saat ini adalah hampir separuh penduduk dunia dan terus bertambah, sedangkan kaum kuffar di Eropa jumlahnya kian berkurang karena mereka ‘malas’ untuk menikah dan punya anak. Bahkan ada di antara negara-negara Eropa yang memberikan tunjangan agar penduduknya mau menikah dan punya anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar yang sedikit menggembirakan kita adalah kenyataan bahwa Ya’juj dan Ma’juj yang akan keluar menjelang hari kiamat itu jumlahnya sangat banyak, hingga mampu meminum air danau thobariah hingga kering, sebagaimana dikabarkan dalam hadits yang shahih. Akan tetapi kita tidak mengetahui berapa perbandingan sebenarnya antara orang yang mengaku islam dengan orang-orang kafir. Sedangkan orang yang mengaku Islam dan mengucapkan kalimat syahadat belum tentu masuk surga. Sebab…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengucapkan Kalimat Syahadat Bukan Jaminan Masuk Surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, ngawur ente!!” (berdasarkan hadits “Siapa yang mengucapkan laa ilaaha illallah akan masuk surga”). Mungkin itu komentar yang muncul, setelah membaca sub judul di atas. Akan tetapi yang kami maksudkan di sini adalah, bahwa hanya sekedar perkataan tidaklah bermanfaat bagi kita jika kita tidak memahami dan mengamalkan maknanya. Karena kaum munafik juga mengatakan kalimat tersebut, mereka juga sholat, puasa, mengeluarkan zakat, dan pergi haji seperti kaum muslimin yang lainnya. Akan tetapi, mengapa kaum munafik ditempatkan pada jurang neraka yang paling dasar? Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيراً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisaa’: 145)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih mengherankan, apa yang menyebabkan mereka tidak bisa menjawab 3 pertanyaan yang mudah (siapa Rabbmu? apa agamamu? dan siapa nabimu? di dalam kubur?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban mereka adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هاه، هاه، لا أدري، سمعت الناس يقولون شئ فقلته&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah… hah… aku tidak tahu, aku mendengar orang mengatakan sesuatu, kemudian aku mengatakan hal tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya memang mudah, tetapi menjawabnya sangatlah sulit. Karena hati manusia di akhirat merupakan hasil dari perbuatannya di dunia. Jika di dunia dia meremehkan agamanya, maka dia tidak akan bisa mengatakan bahwa agamanya adalah Islam. Sekarang, jika kaum munafik yang mengucapkan syahadat kemudian mengamalkan sholat, puasa, zakat, dan haji, tidak dianggap telah mengamalkan makna syahadat, maka apa sih makna syahadat yang (harus kita amalkan) sebenarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Kalimat Syahadat “Laa Ilaaha Illallah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna kalimat syahadat tersebut bukanlah pengakuan bahwa Allah adalah pencipta, pemberi rezeki dan pengatur seluruh alam semesta ini. Karena orang Yahudi dan Nasrani juga mengakuinya. Akan tetapi mereka tetap dikatakan kafir. Bahkan kaum musyrikin yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga meyakini hal tersebut. Sebagaimana difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam banyak ayat di Al Quran, di antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah (wahai Muhammad): “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yunus: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kaum musyrikin tersebut mengatakan bahwa penyembahan mereka terhadap berhala-berhala yang merupakan patung orang-orang shalih itu adalah dengan tujuan untuk mendapatkan syafaat mereka dan kedekatan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala (sebagaimana para penyembah kuburan para wali di sebagian negeri kaum muslimin). Hal tersebut dinyatakan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan mudarat dan manfaat bagi mereka, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah.” (QS. Yusuf: 106)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu mengimani, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah pencipta, pemberi rezeki dan pengatur alam semesta, akan tetapi mempersekutukan-Nya dalam peribadatan. Secara ringkas makna syahadat “Laa ilaaha illallah” adalah tidak ada sembahan yang haq (benar) kecuali Allah. Seorang yang bersaksi dengan kalimat tersebut harus meninggalkan pengabdian kepada selain Allah dan hanya beribadah kepada Allah saja secara lahir maupun batin. Sama saja, baik yang dijadikan sembahan selain Allah itu malaikat, nabi, wali, orang-orang shalih, matahari, bulan, bintang, batu, pohon, jin, patung dan gambar-gambar. Jika kita masih merasa tenang dengan menganggap diri kita adalah ahli tauhid serta memandang remeh untuk mendalami dan medakwahkannya maka perhatikanlah beberapa hal berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Penciptaan Jin dan Manusia Adalah untuk Menauhidkan Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka (hanya) menyembahku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang tidaklah dianggap telah beribadah kepada Allah jika dia masih berbuat syirik, sebab amalan ibadah dari orang yang mempersekutukan Allah akan dihapuskan dan tidak bermanfaat sedikit pun di sisi Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنْ الْخَاسِرِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tauhid adalah menunggalkan Allah dalam peribadatan, maka syirik membatalkan tauhid sebagaimana berhadats dapat membatalkan wudhu. Jika sholatnya orang yang berhadats tidaklah sah, dalam arti kata belum dianggap telah melakukan sholat sehingga harus diulangi, maka begitu pun syirik jika mencampuri tauhid, akan merusak tauhid tersebut dan membatalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid Merupakan Tujuan Diutusnya Para Rasul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya manusia adalah umat yang satu, berasal dari Nabi Adam ‘alaihissalam. Mereka beriman dan menyembah hanya kepada Allah saja. Kemudian datanglah syaitan menggoda manusia untuk mengada-adakan bid’ah dalam agama mereka. Bid’ah-bid’ah kecil yang semula dianggap remah saat generasi berganti generasi, bid’ahnya pun semakin menjadi. Hingga pada akhirnya menggelincirkan mereka kepada bid’ah yang sangat besar, yaitu kemusyrikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis terbilang cukup ’sabar’ dalam melancarkan aksinya selama sepuluh abad untuk menggelincirkan keturunan Adam ‘alaihissalam kepada kemusyrikan -sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu (lihat “Kisah Para Nabi”, Ibnu Katsir)- Hingga tatkala seluruhnya tenggelam dalam kemusyrikan, Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nuh ‘alaihi salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, setiap kali kemusyrikan merajalela pada suatu kaum, maka Allah mengutus rasul-Nya untuk mengembalikan mereka kepada tauhid dan menjauhi syirik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thoghut (sembahan selain Allah).” (QS. An Nahl: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا أَرْسَلنَا مِن قَبلِكَ مِنْ رََسُولٍ إِلا نُوحِي إلَيهِ أنَّه لا إِلهَ إلا أنَا فَاعْبُدُونِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: bahwa tidak ada sembahan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al Anbiya: 25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, Allah subhanahu wa ta’ala tidak lagi mengutus rasul. Hal ini bukanlah dalil bahwa kemusyrikan tidak akan pernah terjadi lagi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagaimana dikatakan beberapa orang. Akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala menjamin bahwa akan senantiasa ada segolongan dari umat ini yang berada di atas tauhid dan mendakwahkannya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid Adalah Kewajiban Pertama Bagi Manusia Dewasa dan Berakal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mendahulukan perintah tauhid dan menjauhi syirik, sebelum memerintahkan yang lainnya dalam setiap firmannya di Al Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا وَبِالوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي القُرْبَى وَاليَتَامَى وَالمَسَاكِيْنَ وَالْجَارِ ذِي القُرْبَى وَالجَارِ الجُنُبِ والصَّاحِبِ بِالجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيْلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun. Dan berbuat baiklah pada kedua orang tua (ibu &amp; bapak), karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabiil dan hamba sahayamu.” (QS. An Nisa: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelanggaran Tauhid Adalah Keharaman yang Terbesar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ تَعَالَوْاْ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: Janganlah kamu mempersekutukan suatu apapun dengan Dia, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua…” (QS. Al An’am: 151)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah mendahulukan penyebutan pengharaman syirik sebelum yang lainnya, karena keharaman syirik adalah yang terbesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid Harus Diajarkan Sejak Dini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada Ibnu Abbas tentang tauhid sejak beliau masih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إذا سألت فاسأل الله و إذ استعنت فستعن بالله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika engkau hendak memohon, maka mintalah kepada Allah, jika engkau hendak memohon pertolongan, maka memohonlah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid Adalah Materi Dakwah yang Pertama Kali Harus Diserukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنك تأتي قوما من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله - و في رواية : إلي أن يوحدوا الله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kamu akan mendatangi kaum Ahli Kitab, maka hendaklah dakwah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah syahadat Laa ilaaha illallah (dalam riwayat lain disebutkan: agar mereka menauhidkan Allah).” (HR. Bukhari, Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita masih menganggap bahwa, itu jika yang menjadi objek dakwah kita adalah orang kafir. Jika kaum muslimin maka tidak demikian. Maka ingatlah, betapa banyak kaum muslimin yang jika tidak mendapatkan kesembuhan dari penyakit secara medis mereka berbondong-bondong mengunjungi dukun atau yang dikenal dengan istilah sekarang sebagi paranormal. Ingatlah, betapa banyak kaum muslimin yang tinggal di pesisir pantai yang melakukan penyembelihan kurban kepada selain Allah (baca: Nyi Roro Kidul) yang mereka istilahkan dengan sedekah laut. Ingatlah, betapa banyak kaum muslimin yang menyembelih kerbau untuk ditanam kepalanya di bawah jembatan yang hendak mereka bangun, sebagai persembahan agar mereka tidak diganggu oleh jin penunggu daerah tersebut? Berapa banyak kemusyrikan-kemusyrikan yang merajalela di tengah umat ini, sedangkan sebagian kaum muslimin yang lain mengatakan bahwa hal tersebut adalah ‘kebudayaan’ bangsa yang harus dilestarikan? Betapa sedikitnya kaum muslimin yang memahami dan mengamalkan tauhid? Lahan dakwah tauhid masih terlalu luas, akankah kita berdiam diri dan tetap meremehkan masalah ini? Wallahu waliyyut taufiiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rujukan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Firqotun Naajiyah (Syaikh Muhammad bin Jamil Zaini)&lt;br /&gt;   2. Syarah Qowaidul Arba’ (Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Aalu Syaikh)&lt;br /&gt;   3. Mutiara Faidah Kitab Tauhid (Ustadz Abu Isa Abdullah bin Salam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Abu Yahya Agus Wahyu (Alumni Ma’had Ilmi)&lt;br /&gt;Murojaah: Ust. Afifi Abdul Wadud&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5587366944880896836-8331209432892286736?l=pengajianbahrain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/8331209432892286736/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5587366944880896836&amp;postID=8331209432892286736' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/8331209432892286736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/8331209432892286736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/2008/12/pentingnya-tauhid-2.html' title='Pentingnya Tauhid (2)'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836.post-2215359107068179077</id><published>2008-12-28T19:07:00.000-08:00</published><updated>2008-12-28T19:08:34.088-08:00</updated><title type='text'>Pentingnya Tauhid (1)</title><content type='html'>Posted: 22 Dec 2008 04:58 PM CST&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid adalah sesuatu yang sudah akrab di telinga kita. Namun tidak ada salahnya kita mengingat beberapa keutamaannya. Karena dengan begitu bisa menambah keyakinan kita atau meluruskan tujuan sepak terjang kita yang selama ini yang mungkin keliru. Karena melalaikan masalah tauhid akan berujung pada kehancuran dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Diciptakannya Makhluk Adalah untuk Bertauhid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz Dzariyaat: 56). Imam Ibnu Katsir rohimahulloh berkata, yaitu tujuan mereka Kuciptakan adalah untuk Aku perintah agar beribadah kepada-Ku, bukan karena Aku membutuhkan mereka (Tafsir Al Qur’anul ‘Adzhim, Tafsir surat Adz Dzariyaat). Makna menyembah-Ku dalam ayat ini adalah mentauhidkan Aku, sebagaimana ditafsirkan oleh para ulama salaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Diutusnya Para Rasul Adalah untuk Mendakwahkan Tauhid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman, “Sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul (yang mengajak) sembahlah Allah dan tinggalkanlah thoghut.” (An Nahl: 36). Thoghut adalah sesembahan selain Allah. Syaikh As Sa’di berkata, Allah Ta’ala memberitakan bahwa hujjah-Nya telah tegak kepada semua umat, dan tidak ada satu umatpun yang dahulu maupun yang belakangan, kecuali Allah telah mengutus dalam umat tersebut seorang Rasul. Dan seluruh Rasul itu sepakat dalam menyerukan dakwah dan agama yang satu yaitu beribadah kepada Allah saja yang tidak boleh ada satupun sekutu bagi-Nya (Taisir Karimirrohman, Tafsir surat An Nahl). Beribadah kepada Allah dan mengingkari thoghut itulah hakekat makna tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid Adalah Kewajiban Pertama dan Terakhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasul memerintahkan para utusan dakwahnya agar menyampaikan tauhid terlebih dulu sebelum yang lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ta’ala ‘anhu, “Jadikanlah perkara yang pertama kali kamu dakwahkan ialah agar mereka mentauhidkan Allah.” (Riwayat Bukhori dan Muslim). Nabi juga bersabda, “Barang siapa yang perkataan terakhirnya Laa ilaaha illalloh niscaya masuk surga.” (Riwayat Abu Dawud, Ahmad dan Hakim dihasankan Al Albani dalam Irwa’ul Gholil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid Adalah Kewajiban yang Paling Wajib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Allah mengampuni dosa selain itu bagi orang-orang yang Dia kehendaki.” (An Nisaa’: 116). Sehingga syirik menjadi larangan yang terbesar. Sebagaimana syirik adalah larangan terbesar maka lawannya yaitu tauhid menjadi kewajiban yang terbesar pula. Allah menyebutkan kewajiban ini sebelum kewajiban lainnya yang harus ditunaikan oleh hamba. Allah Ta’ala berfirman, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah pada kedua orang tua.” (An Nisaa’: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban ini lebih wajib daripada semua kewajiban, bahkan lebih wajib daripada berbakti kepada orang tua. Sehingga seandainya orang tua memaksa anaknya untuk berbuat syirik maka tidak boleh ditaati. Allah berfirman, “Dan jika keduanya (orang tua) memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya…” (Luqman: 15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati yang Saliim Adalah Hati yang Bertauhid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah di dalam tubuh itu ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (Riwayat Bukhori dan Muslim). Allah Ta’ala berfirman, “Hari dimana harta dan keturunan tidak bermanfaat lagi, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang saliim (selamat).” (Asy Syu’araa’: 88-89). Imam Ibnu Katsir rohimahulloh berkata, yaitu hati yang selamat dari dosa dan kesyirikan (Tafsir Al Qur’anul ‘Adzhim, Tafsir surat Asy Syu’araa’). Maka orang yang ingin hatinya bening hendaklah ia memahami tauhid dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid Adalah Hak Allah yang Harus Ditunaikan Hamba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah yang harus ditunaikan hamba yaitu mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun…” (Riwayat Bukhori dan Muslim). Menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya artinya mentauhidkan Allah dalam beribadah. Tidak boleh menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun dalam beribadah, sehingga wajib membersihkan diri dari syirik dalam ibadah. Orang yang tidak membersihkan diri dari syirik maka belumlah dia dikatakan sebagai orang yang beribadah kepada Allah saja (diringkas dari Fathul Majid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah adalah hak Allah semata, maka barangsiapa menyerahkan ibadah kepada selain Allah maka dia telah berbuat syirik. Maka orang yang ingin menegakkan keadilan dengan menunaikan hak kepada pemiliknya sudah semestinya menjadikan tauhid sebagai ruh perjuangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid Adalah Sebab Kemenangan di Dunia dan di Akhirat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshor radhiyallahu ta’ala ‘anhum adalah bukti sejarah atas hal ini. Keteguhan para sahabat dalam mewujudkan tauhid sebagai ruh kehidupan mereka adalah contoh sebuah generasi yang telah mendapatkan jaminan surga dari Allah serta telah meraih kemenangan dalam berbagai medan pertempuran, sehingga banyak negeri takluk dan ingin hidup di bawah naungan Islam. Inilah generasi teladan yang dianugerahi kemenangan oleh Allah di dunia dan di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Orang-orang yang terdahulu (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah ridho kepada mereka dan mereka pun telah ridho kepada Allah. Allah telah menyiapkan bagi mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At Taubah: 100)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sangat disayangkan, kenyataan umat Islam di zaman ini yang diliputi kebodohan bahkan dalam masalah tauhid! Maka pantaslah kalau kekalahan demi kekalahan menimpa pasukan Islam di masa ini. Ini menunjukkan bahwa ada yang salah dalam akidah. Wallahu A’lam bish showaab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5587366944880896836-2215359107068179077?l=pengajianbahrain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/2215359107068179077/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5587366944880896836&amp;postID=2215359107068179077' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/2215359107068179077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/2215359107068179077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/2008/12/pentingnya-tauhid-1.html' title='Pentingnya Tauhid (1)'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836.post-3617734570680200352</id><published>2008-12-28T19:05:00.000-08:00</published><updated>2008-12-28T19:07:14.232-08:00</updated><title type='text'>Celana Membawa Sengsara</title><content type='html'>Posted: 20 Dec 2008 09:16 AM CST&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku… semoga Allah merahmatimu. Tidak ada yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya kecuali kemaslahatan dan kebaikan umat ini. Semua perintah dalam agama pasti di dalamnya mengandung kebaikan untuk diri kita. Begitu pula segala macam larangan, tidak diragukan lagi di dalamnya banyak mengandung kemudhorotan bagi umat ini, baik disadari hikmahnya ataupun tidak. Oleh sebab itu Islam adalah agama yang sempurna. Karena segala sesuatu yang dapat menghantarkan makhluk kepada kebahagiaan dan segala hal yang dapat menjerumuskan makhluk ke dalam jurang kesengsaraan sudah dijelaskan dalam syari’at kita yang mulia ini dengan sejelas-jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah wahai saudaraku… sesungguhnya ada celana yang dapat menjatuhkanmu ke lembah kesengsaraan (baca: neraka). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa saja yang di bawah mata kaki maka di neraka.” (HR. Bukhari). Maksudnya bagian kaki yang terkena sarung/celana yang berada di bawah mata kaki, akan diazab di neraka, bukan sarung/celananya. Jadi, perbuatan menurunkan pakaian hingga menutupi mata kaki (baca: isbal) baik dilakukan dengan kesombongan ataupun tidak, maka pelakunya (musbil) akan diazab di neraka. Hanya saja bedanya jika dilakukan dengan kesombongan maka ini lebih parah dan lebih dahsyat lagi siksanya. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga golongan yang Allah tidak berbicara dengan mereka pada hari kiamat, tidak memperhatikan mereka dan tidak mensucikan mereka (dari dosa) serta mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu pelaku isbal (musbil), pengungkit pemberian (mannan) dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Ibnu Majah, An Nasa’i)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakaian Rasulullah Sampai Setengah Betis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman, ” Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat.” (Al Ahzab: 21). Saudaraku… apa yang menghalangimu untuk mengikuti dan mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihatlah pakaian beliau! Beliau orang yang paling bertaqwa, paling takut kepada Allah, paling tidak mungkin untuk sombong, paling rajin beribadah, paling mulia di sisi Allah, tetapi pakaian yang beliau kenakan tidak menutup mata kaki beliau. Bahkan celana beliau hanya sampai setengah betis. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sarung seorang muslim hingga tengah betis dan tidak mengapa jika di antara tengah betis hingga mata kaki. Maka apa yang di bawah mata kaki, tempatnya di neraka. Barangsiapa yang menyeret sarungnya (sampai menyapu tanah-pen) karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya.” (HR. Abu Dawud, Malik, dan Ibnu Majah) Bukankah Rasulullah adalah qudwah/teladan kita di segala aspek kehidupan?! Lalu mau dikemanakan hadits beliau, “Barangsiapa yang meniru-niru gaya suatu golongan, maka ia termasuk bagian dari golongan tersebut.” ?! Apakah kita tidak ingin bergabung dengan golongan beliau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Isbal Bukan Perkara ‘Kulit’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah ‘Umar bin Khaththab ketika dalam kondisi yang sangat kritis (setelah ditikam perutnya hingga robek ususnya), masih menyempatkan diri untuk melarang kemungkaran yang satu ini (baca: isbal). Ini menunjukkan bahwa isbal bukan masalah sepele. Kalau benar isbal adalah masalah sepele, lalu apakah kita akan mengatakan masuk neraka adalah masalah sepele?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudaraku… semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita. Marilah kita mengenakan pakaian dengan menggunakan tuntunan agama. Jangan sampai pakaian yang kita pakai, celana yang kita kenakan justru menjadi bumerang bagi kita yang ujung-ujungnya menghantarkan kita sampai ke dalam neraka. Wal ‘iyaadzu billah. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Abu Yazid Nurdin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5587366944880896836-3617734570680200352?l=pengajianbahrain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/3617734570680200352/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5587366944880896836&amp;postID=3617734570680200352' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/3617734570680200352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/3617734570680200352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/2008/12/celana-membawa-sengsara.html' title='Celana Membawa Sengsara'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836.post-2996220131680942114</id><published>2008-12-19T04:55:00.000-08:00</published><updated>2008-12-19T04:57:42.205-08:00</updated><title type='text'>Resep Hidup Bahagia</title><content type='html'>Kategori: Akhlaq dan Nasehat, Tazkiyatun Nufus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya kita bertanya kepada orang-orang di sekeliling kita dari berbagai agama, bangsa, profesi dan status sosial tentang cita-cita mereka hidup di dunia ini tentu jawaban mereka sama “kami ingin bahagia”. Bahagia adalah keinginan dan cita-cita semua orang. Orang mukmin ingin bahagia demikian juga orang kafir pun ingin bahagia. Orang yang berprofesi sebagai pencuri pun ingin bahagia dengan profesinya. Melalui kegiatan menjual diri, seorang pelacur pun ingin bahagia. Meskipun semua orang ingin bahagia, mayoritas manusia tidak mengetahui bahagia yang sebenarnya dan tidak mengetahui cara untuk meraihnya. Meskipun ada sebagian orang merasa gembira dan suka cita saat hidup di dunia akan tetapi kecemasan, kegalauan dan penyesalan itu merusak suka ria yang dirasakan. Sehingga sebagian orang selalu merasakan kekhawatiran mengenai masa depan mereka. Terlebih lagi ketakutan terhadap kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman dalam surat Al Jumu’ah ayat 8:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاَقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al Jumu’ah: 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang beranggapan bahwasanya orang-orang barat adalah orang-orang yang hebat. Mereka beranggapan bahwasanya orang-orang barat hidup penuh dengan kebahagiaan, ketenteraman dan ketenangan. Tetapi fakta berbicara lain, realita di lapangan menunjukkan bahwa secara umum orang-orang barat itu hidup penuh dengan penderitaan. Hal ini dikuatkan dengan berbagai hasil penelitian yang dilakukan oleh orang-orang barat sendiri tentang kasus pembunuhan, bunuh diri dan berbagai tindakan kejahatan yang lainnya, namun ada sekelompok manusia yang memahami hakikat kebahagiaan bahkan mereka sudah menempuh jalan untuk mencapainya. Merekalah orang-orang yang beriman kepada Allah. Mereka memandang kebahagiaan itu terdapat dalam sikap taat kepada Allah dan mendapat ridho-Nya, menjalankan perintah-perintahNya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi di antara mereka yang tidak memiliki kebutuhan pokoknya setiap harinya, akan tetapi dia adalah seorang yang benar-benar bahagia dan bergembira bagaikan pemilik dunia dan segala isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya iti dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mayoritas manusia kebingungan mengenai jalan yang harus ditempuh menuju bahagia maka hal ini tidak pernah dialami oleh seorang mukmin. Bagi seorang mukmin jalan kebahagiaan sudah terpampang jelas di hadapannya. Cita-cita agar mendapatkan kebahagiaan terbesar mendorongnya untuk menghadapi beragam kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat berbagai keterangan dari wahyu Alloh sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang beriman bahwasanya dirinya sudah berada di atas jalan yang benar dan tepat Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَالِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’aam: 153)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di antara kita yang bertanya bagaimanakah yang dirasakan bagi orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka maka Allah sudah memberikan jawaban dengan firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ خَالِدِينَ فِيهَا مَادَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ إِلاَّمَاشَآءَ رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَادَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ إِلاَّ مَاشَآءَ رَبُّكَ عَطَآءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun orang-orang yang celaka, Maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih), Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (QS. Hud: 106-108)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di antara kita yang bertanya-tanya bagaimanakah cara untuk menjadi orang yang berbahagia, maka Alloh sudah memberikan jawabannya dengan firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ٌّفَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَيَشْقَى وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thoha: 123-124)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga dalam firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan seorang mukmin semakin bertambah ketika dia semakin dekat dengan Tuhannya, semakin ikhlas dan mengikuti petunjuk-Nya. Kebahagiaan seorang mukmin semakin berkurang jika hal-hal di atas makin berkurang dari dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang mukmin sejati itu selalu merasakan ketenangan hati dan kenyamanan jiwa. Dia menyadari bahwasanya dia memiliki Tuhan yang mengatur segala sesuatu dengan kehendak-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh menakjubkan keadaan orang-orang yang beriman. Sesungguhnya seluruh keadaan orang yang beriman hanya akan mendatangkan kebaikan untuk dirinya. Demikian itu tidak pernah terjadi kecuali untuk orang-orang yang beriman. Jika dia mendapatkan kesenangan maka dia akan bersyukur dan hal tersebut merupakan kebaikan untuknya. Namun jika dia merasakan kesusahan maka dia akan bersabar dan hal tersebut merupakan kebaikan untuk dirinya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang merupakan puncak dari kebahagiaan. Kebahagiaan adalah suatu hal yang abstrak, tidak bisa dilihat dengan mata, tidak bisa diukur dengan angka-angka tertentu dan tidak bisa dibeli dengan rupiah maupun dolar. Kebahagiaan adalah sesuatu yang dirasakan oleh seorang manusia dalam dirinya. Hati yang tenang, dada yang lapang dan jiwa yang tidak dirundung malang, itulah kebahagiaan. Bahagia itu muncul dari dalam diri seseorang dan tidak bisa didatangkan dari luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda Kebahagiaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Al Qoyyim mengatakan bahwa tanda kebahagiaan itu ada 3 hal. 3 hal tersebut adalah bersyukur ketika mendapatkan nikmat, bersabar ketika mendapatkan cobaan dan bertaubat ketika melakukan kesalahan. Beliau mengatakan: sesungguhnya 3 hal ini merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba dan tanda keberuntungannya di dunia dan di akhirat. Seorang hamba sama sekali tidak pernah bisa terlepas dari 3 hal tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Syukur ketika mendapatkan nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang manusia selalu berada dalam nikmat-nikmat Allah. Meskipun demikian, ternyata hanya orang berimanlah yang menyadari adanya nikmat-nikmat tersebut dan merasa bahagia dengannya. Karena hanya merekalah yang mensyukuri nikmat, mengakui adanya nikmat dan menyanjung Zat yang menganugerahkannya. Syukur dibangun di atas 5 prinsip pokok:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Ketundukan orang yang bersyukur terhadap yang memberi nikmat.&lt;br /&gt;   2. Rasa cinta terhadap yang memberi nikmat.&lt;br /&gt;   3. Mengakui adanya nikmat yang diberikan.&lt;br /&gt;   4. Memuji orang yang memberi nikmat karena nikmat yang dia berikan.&lt;br /&gt;   5. Tidak menggunakan nikmat tersebut dalam hal-hal yang tidak disukai oleh yang memberi nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa saja yang menjalankan lima prinsip di atas akan merasakan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, jika lima prinsip di atas tidak dilaksanakan dengan sempurna maka akan menyebabkan kesengsaraan selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sabar ketika mendapat cobaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup ini di samping ada nikmat yang harus disyukuri, juga ada berbagai ujian dari Allah dan kita wajib bersabar ketika menghadapinya. Ada tiga rukun sabar yang harus dipenuhi supaya kita bisa disebut orang yang benar-benar bersabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Menahan hati untuk tidak merasa marah terhadap ketentuan Allah.&lt;br /&gt;   2. Menahan lisan untuk tidak mengadu kepada makhluk.&lt;br /&gt;   3. Menahan anggota tubuh untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak di benarkan ketika terjadi musibah, seperti menampar pipi, merobek baju dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah tiga rukun kesabaran, jika kita mampu melaksanakannya dengan benar maka cobaan akan berubah menjadi sebuah kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bertaubat ketika melakukan kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Allah menghendaki seorang hamba untuk mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan akhirat, maka Allah akan memberikan taufik kepada dirinya untuk bertaubat, merendahkan diri di hadapan-Nya dan mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai kebaikan yang mampu untuk dilaksanakan. Oleh karena itu, ada seorang ulama salaf mengatakan: “Ada seorang yang berbuat maksiat tetapi malah menjadi sebab orang tersebut masuk surga. Ada juga orang yang berbuat kebaikan namun menjadi sebab masuk neraka.” Banyak orang bertanya kepada beliau, bagaimana mungkin hal tersebut bisa terjadi?, lantas beliau menjelaskan: “Ada seorang yang berbuat dosa, lalu dosa tersebut selalu terbayang dalam benaknya. Dia selalu menangis, menyesal dan malu kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hatinya selalu sedih karena memikirkan dosa-dosa tersebut. Dosa seperti inilah yang menyebabkan seseorang mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan. Dosa seperti itu lebih bermanfaat dari berbagai bentuk ketaatan, Karena dosa tersebut menimbulkan berbagai hal yang menjadi sebab kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba. Sebaliknya ada juga yang berbuat kebaikan, akan tetapi kebaikan ini selalu dia sebut-sebut di hadapan Allah. Orang tersebut akhirnya menjadi sombong dan mengagumi dirinya sendiri disebabkan kebaikan yang dia lakukan. Orang tersebut selalu mengatakan ’saya sudah berbuat demikian dan demikian’. Ternyata kebaikan yang dia kerjakan menyebabkan timbulnya ‘ujub, sombong, membanggakan diri dan merendahkan orang lain. Hal-hal ini merupakan sebab kesengsaraan seorang hamba. Jika Allah masih menginginkan kebaikan orang tersebut, maka Allah akan memberikan cobaan kepada orang tersebut untuk menghilangkan kesombongan yang ada pada dirinya. Sebaliknya, jika Allah tidak menghendaki kebaikan pada orang tersebut, maka Allah biarkan orang tersebut terus menerus pada kesombongan dan ‘ujub. Jika ini terjadi, maka kehancuran sudah berada di hadapan mata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hasan al-Bashri mengatakan, “Carilah kenikmatan dan kebahagiaan dalam tiga hal, dalam sholat, berzikir dan membaca Al Quran, jika kalian dapatkan maka itulah yang diinginkan, jika tidak kalian dapatkan dalam tiga hal itu maka sadarilah bahwa pintu kebahagiaan sudah tertutup bagimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malik bin Dinar mengatakan, “Tidak ada kelezatan selezat mengingat Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ulama salaf yang mengatakan, “Pada malam hari orang-orang gemar sholat malam itu merasakan kelezatan yang lebih daripada kelezatan yang dirasakan oleh orang yang bergelimang dalam hal yang sia-sia. Seandainya bukan karena adanya waktu malam tentu aku tidak ingin hidup lebih lama di dunia ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama’ salaf yang lain mengatakan, “Aku berusaha memaksa diriku untuk bisa sholat malam selama setahun lamanya dan aku bisa melihat usahaku ini yaitu mudah bangun malam selama 20 tahun lamanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama salaf yang lain mengatakan, “Sejak 40 tahun lamanya aku merasakan tidak ada yang mengganggu perasaanku melainkan berakhirnya waktu malam dengan terbitnya fajar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim bin Adham mengatakan, “Seandainya para raja dan para pangeran mengetahui bagaimana kebahagiaan dan kenikmatan tentu mereka akan berusaha merebutnya dari kami dengan memukuli kami dengan pedang.” Ada ulama salaf yang lain mengatakan, “Pada suatu waktu pernah terlintas dalam hatiku, sesungguhnya jika penghuni surga semisal yang kurasakan saat ini tentu mereka dalam kehidupan yang menyenangkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnul Qoyyim bercerita bahwa, “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: ‘Sesungguhnya dalam dunia ini ada surga. Barang siapa belum pernah memasukinya maka dia tidak akan memasuki surga diakhirat kelak.’” Wallahu a’laam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diterjemahkan dengan bebas dari As Sa’adah, Haqiqatuha shuwaruha wa asbabu tah-shiliha, cet. Dar. Al Wathan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Makalah Studi Islam Intensif 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusun oleh: Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5587366944880896836-2996220131680942114?l=pengajianbahrain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/2996220131680942114/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5587366944880896836&amp;postID=2996220131680942114' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/2996220131680942114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/2996220131680942114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/2008/12/resep-hidup-bahagia.html' title='Resep Hidup Bahagia'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836.post-1791351776088943440</id><published>2008-12-19T04:40:00.000-08:00</published><updated>2008-12-19T04:42:37.582-08:00</updated><title type='text'>Saudaraku, Kenapa Engkau Lalai Sholat Shubuh ?</title><content type='html'>Kategori: Akhlaq dan Nasehat, Fiqh dan Muamalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kondisi sebagian kaum muslimin saat ini. Sedih banget hati ini melihat sebagian saudara kami sudah terbiasa dengan aktivitas semacam ini, sebagaimana kami pernah ceritakan hal ini dalam posting sebelumnya. Sudah jadi kebiasaan memang, bangun di pagi hari pada saat matahari sudah meninggi. Setelah bangun langsung bergegas mandi dan mulailah dia bersiap-siap ke kantor, ke kampus atau ke tempat kuliah, luputlah shalat shubuh darinya. Ini bukanlah kita temui pada satu atau dua orang saja, namun kebanyakan kaum muslimin seperti ini. Mungkin ada yang lebih parah lagi, tidak mengerjakan shalat sama sekali selama hidupnya (dia mengaku beragama Islam dalam KTP) atau dalam mayoritas waktu yang Allah berikan, dia lalai atau meninggalkan shalat lima waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya air mata ini mau menetes melihat sebagian saudara kami seperti ini. Semua orang pasti sudah tahu bahwa shalat lima waktu itu wajib, bahkan orang kafir pun tahu bahwa umat Islam memiliki kewajiban semacam ini. Kami tidak mungkin menegur langsung satu per satu orang yang lalai dari shalat shubuh setiap harinya atau yang lalai dari shalat 5 waktu yang lain. Karena ada juga yang tidak kami kenal. Kami cuma berharap agar setiap orang yang membaca tulisan ini bisa menyampaikan kepada kerabat, sahabat atau saudara muslim lainnya. Semoga dengan penyampaian Fatwa Al Lajnah Ad Da’imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) berikut, di antara saudara kita bisa terbuka hatinya dan mendapatkan taufik dari Allah Ta’ala. Berilah peringatan, sesungguhnya peringatan akan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa Pertama (Pertanyaan ke-12 dari Fatwa no. 7942, 6/15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;Apa hukum orang yang sengaja mengatur waktu bangun paginya yaitu mayoritas waktunya dia bangun setelah matahari terbit, lalu dia shalat shubuh setelah matahari terbit? Dia mengatur seperti ini karena dia memiliki hajat lembur (begadang) di malam hari untuk mengulang pelajaran. Apakah orang seperti ini wajib diingkari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajib bagi kita menunaikan shalat wajib pada waktu yang telah ditentukan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa’: 103)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Perlu diperhatikan bahwa) waktu shalat shubuh adalah mulai dari terbit fajar kedua (fajar shodiq) hingga terbit matahari. Lalu alasan yang engkau sampaikan tadi (karena alasan belajar di malam hari hingga semalam suntuk, pen) bukanlah alasan untuk mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya. Namun, seseorang hendaklah mencari sebab agar dia bisa bangun pagi agar dia bisa mengerjakan shalat (Shubuh) di waktunya. Jika orang tersebut tidak melakukan kewajiban semacam ini (mencari sebab tadi, pen), maka dia wajib diingkari. Namun ingatlah, hendakah kita mengingkarinya dengan cara yang penuh hikmah.&lt;br /&gt;Semoga kita selalu mendapatkan taufik Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, pengikutnya dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts wal Ifta’: Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa Kedua (Pertanyaan pertama dan kedua dari Fatwa no. 8371)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan pertama:&lt;br /&gt;Ada seseorang mengerjakan shalat shubuh setelah matahari terbit dan ini sudah jadi kebiasaannya setiap paginya dan hal ini sudah berlangsung selama dua tahun. Dia mengaku bahwa tidur telah mengalahkannya karena dia sering lembur. Dia mengisi waktu malamnya dengan menikmati hiburan-hiburan. Apakah sah shalat yang dilakukan oleh orang semacam ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan kedua:&lt;br /&gt;Apakah boleh kita bermajelis dan tinggal satu atap dengan orang semacam ini? Kami sudah menasehatinya namun dia tidak menghiraukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharamkan bagi seseorang mengakhirkan shalat sampai ke luar waktunya. Wajib bagi setiap muslim yang telah dibebani syari’at untuk menjaga shalat di waktunya –termasuk shalat shubuh dan shalat yang lainnya-. Dia bisa menjadikan alat-alat pengingat (seperti alarm)  untuk membangunkannya (di waktu shubuh).&lt;br /&gt;Kita diharamkan lembur di malam hari untuk menikmati hiburan dan semacam itu. Lembur (begadang) di malam hari telah Allah haramkan bagi kita jika hal ini melalaikan dari mengerjakan shalat shubuh di waktunya atau melalaikan dari shalat shubuh secara jama’ah. Hal ini terlarang karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang begadang setelah waktu Isya’ jika tidak ada manfaat syar’i sama sekali. (Perlu diketahui pula bahwa) setiap amalan yang dapat menyebabkan kita mengakhirkan shalat dari waktunya, maka amalan tersebut haram untuk dilakukan kecuali jika amalan tersebut dikecualikan oleh syari’at yang mulia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang keadaan orang yang engkau sebutkan tadi adalah seperti itu, maka nasehatilah dia. Jika dia tidak menghiraukan, tinggalkan dan jauhilah dia. Semoga kita selalu mendapatkan taufik Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, pengikutnya dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts wal Ifta’: Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dalam Fatwa Al Lajnah Ad Daimah yang lain (no. 7976) dijelaskan bahwa jika seseorang sengaja tidur sehingga lalai dari shalat dan ketika bangun tidur dia pun sengaja meninggalkan shalat, hal ini dilakukan berkali-kali (bukan hanya sekali); atau mungkin pula dia mengerjakan shalat ketika dia bangun tidur namun di luar waktunya, maka orang-orang semacam ini sama saja dengan orang-orang yang meninggalkan shalat. Juga termasuk orang yang meninggalkan shalat adalah orang yang sengaja tidur dan tidak mau menunaikan shalat di waktunya, dia tidak mengambil sebab untuk bangun di pagi harinya agar bisa mengerjakan shalat tepat waktu. –Demikian maksud dari Fatwa Lajnah-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya Menarik Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang lalai dari shalat shubuh mungkin ada beberapa sebab. Mungkin karena ingin mengulang pelajaran, seperti persiapan kebut semalam (SKS = sistem kebut semalam) yang dilakukan oleh para pelajar atau mahasiswa ketika besok paginya akan menghadapi ujian. Atau mungkin pula karena ada kerjaan yang harus dilembur hingga larut malam. Atau mungkin pula karena malamnya diisi dengan menikmati hiburan seperti di night club dan semacamnya. Atau mungkin pula hal tersebut sudah menjadi kebiasaannya, apalagi sudah diseting (diatur) dengan alarm untuk bangun di pagi pagi pada pukul 6, dan ini sudah rutin setiap harinya.  Jika memang alasan-alasannya seperti ini dan dilakukan rutin, tanpa mengambil sebab untuk bangun pagi, maka ini sama saja dengan meninggalkan shalat. Ingatlah bahwa meninggalkan shalat bukanlah perkara sepele. Dosanya bukan dosa yang biasa-biasa saja. Perlu diketahui bahwa dosa meninggalkan shalat adalah termasuk dosa besar yang paling besar, sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 7, mengatakan, “Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir (pembahasan dosa-dosa besar), hal. 25, Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar daripada dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya dan membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir, hal. 26-27, juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat secara keseluruhan  -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga juga kita merenungkan hadits-hadits berikut ini yang menunjukkan besarnya dosa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja dan karena malas-malasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih no. 574)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu -bekas budak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ الكُفْرِ وَالإِيْمَانِ الصَّلَاةُ فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pemisah Antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.” (HR. Ath Thobariy dengan sanad shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat Shohih At Targib wa At Tarhib no. 566)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, orang-orang yang meninggalkan shalat seperti yang kami contohkan di atas haruslah bertaubat dengan penuh penyesalan, bertekad tidak akan mengulanginya lagi dan dia harus kembali menunaikan setiap shalat pada waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kalau bangun di pagi hari ketika matahari terbit tidak menjadi kebiasaan, maka dia harus mengerjakan shalat tersebut ketika dia ingat atau ketika dia bangun dari tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat melihat hal ini dalam hadits dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang lupa atau tertidur dari shalat, maka kafaroh (tebusannya) adalah dia shalat ketika dia ingat.” (Muttafaqun’ alaih, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Lihat Misykatul Mashobih yang ditahqiq oleh Syaikh Al Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Qotadah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ليس في النوم تفريط إنما التفريط في اليقظة . فإذا نسي أحدكم صلاة أو نام عنها فليصلها إذا ذكرها فإن الله تعالى قال : ( وأقم الصلاة لذكري )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika seseorang tertidur, itu bukanlah berarti lalai dari shalat. Yang disebut lalai adalah jika seseorang dalam keadaan sadar (sudah terbangun). Jika seseorang itu lupa atau tertidur, maka segeralah dia shalat ketika dia ingat. Karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Tunaikanlah shalat ketika seseorang itu ingat.” (QS. Thaha: 14).” (HR. Muslim. Shohih. Lihat Misykatul Mashobih yang ditahqiq oleh Syaikh Al Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Mengerjakan Shalat Ketika Matahari Terbit padahal Terdapat Larangan Mengenai Hal Ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijelaskan dalam Fatwa Lajnah no. 5545 bahwa jika seseorang tertidur sehingga luput dari shalat shubuh, dia terbangun ketika matahari terbit atau beberapa saat sebelum matahari terbit atau beberapa saat sesudah matahari terbit; maka wajib baginya mengerjakan shalat shubuh ketika dia terbangun, baik matahari terbit ketika dia sedang shalat atau ketika mau memulai shalat matahari sedang terbit atau pun memulai shalat ketika matahari sudah terbit, dalam kondisi ini hendaklah dia sempurnakan shalatnya sebelum matahari memanas. Dan tidak boleh seseorang menunda shalat shubuh hingga matahari meninggi atau memanas.&lt;br /&gt;Adapun hadits yang menyatakan larangan shalat ketika matahari terbit karena pada waktu itu matahari terbit pada dua tanduk setan (HR. Muslim), maka larangan yang dimaksudkan adalah jika kita mau mengerjakan shalat sunnah yang tidak memiliki sebab atau mau mengerjakan shalat wajib yang tidak disebabkan karena lupa atau karena tertidur. –Demikian maksud dari Fatwa Lajnah- Oleh karena itu, jika memang kita lupa atau tertidur sehingga luput menunaikan shalat wajib, maka tidak terlarang kita mengerjakan shalat ketika matahari terbit. Wallahu a’lam bish showab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, jadikanlah kami sebagai hamba-hamba-Mu yang selalu ta’at kepada-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diselesaikan di pagi hari yang penuh berkah di rumah tercinta Pangukan -Sleman, 15 Dzulqo’dah 1429&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T.&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5587366944880896836-1791351776088943440?l=pengajianbahrain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/1791351776088943440/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5587366944880896836&amp;postID=1791351776088943440' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/1791351776088943440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/1791351776088943440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/2008/12/saudaraku-kenapa-engkau-lalai-sholat.html' title='Saudaraku, Kenapa Engkau Lalai Sholat Shubuh ?'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836.post-1242657039588744076</id><published>2008-12-19T04:27:00.000-08:00</published><updated>2008-12-19T04:35:32.500-08:00</updated><title type='text'>Bolehkah Seorang Muslim mengucapkan Selamat Natal ?</title><content type='html'>Bolehkah Seorang Muslim mengucapkan Selamat Natal ?&lt;br /&gt;Posted: 17 Dec 2008 07:24 PM CST&lt;br /&gt;Alhamdulillahi robbil ‘alamin, wa shalaatu wa salaamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sering kita mendengar ucapan semacam ini menjelang perayaan Natal yang dilaksanakan oleh orang Nashrani. Mengenai dibolehkannya mengucapkan selamat natal ataukah tidak kepada orang Nashrani, sebagian kaum muslimin masih kabur mengenai hal ini. Sebagian di antara mereka dikaburkan oleh pemikiran sebagian orang yang dikatakan pintar (baca: cendekiawan), sehingga mereka menganggap bahwa mengucapkan selamat natal kepada orang Nashrani tidaklah mengapa (alias ‘boleh-boleh saja’). Bahkan sebagian orang pintar tadi mengatakan bahwa hal ini diperintahkan atau dianjurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun untuk mengetahui manakah yang benar, tentu saja kita harus merujuk pada Al Qur’an dan As Sunnah, juga pada ulama yang mumpuni, yang betul-betul memahami agama ini. Ajaran islam ini janganlah kita ambil dari sembarang orang, walaupun mungkin orang-orang yang diambil ilmunya tersebut dikatakan sebagai cendekiawan. Namun sayang seribu sayang, sumber orang-orang semacam ini kebanyakan merujuk pada perkataan orientalis barat yang ingin menghancurkan agama ini. Mereka berusaha mengutak-atik dalil atau perkataan para ulama yang sesuai dengan hawa nafsunya. Mereka bukan karena ingin mencari kebenaran dari Allah dan Rasul-Nya, namun sekedar mengikuti hawa nafsu. Jika sesuai dengan pikiran mereka yang sudah terkotori dengan paham orientalis, barulah mereka ambil. Namun jika tidak bersesuaian dengan hawa nafsu mereka, mereka akan tolak mentah-mentah. Ya Allah, tunjukilah kami kepada kebenaran dari berbagai jalan yang diperselisihkan –dengan izin-Mu-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dengan berbagai fatwa dari ulama yang mumpuni, kita mendapat titik terang mengenai permasalahan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa Pertama: Mengucapkan Selamat Natal dan Merayakan Natal Bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah fatwa ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah, dari kumpulan risalah (tulisan) dan fatwa beliau (Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin), 3/28-29, no. 404.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau rahimahullah pernah ditanya,&lt;br /&gt;“Apa hukum mengucapkan selamat natal (Merry Christmas) pada orang kafir (Nashrani) dan bagaimana membalas ucapan mereka? Bolehkah kami menghadiri acara perayaan mereka (perayaan Natal)? Apakah seseorang berdosa jika dia melakukan hal-hal yang dimaksudkan tadi, tanpa maksud apa-apa? Orang tersebut melakukannya karena ingin bersikap ramah, karena malu, karena kondisi tertekan, atau karena berbagai alasan lainnya. Bolehkah kita tasyabbuh (menyerupai) mereka dalam perayaan ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau rahimahullah menjawab:&lt;br /&gt;Memberi ucapan Selamat Natal atau mengucapkan selamat dalam hari raya mereka (dalam agama) yang lainnya pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca: ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah. Beliau rahimahullah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” –Demikian perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan di atas, maka dapat kita tangkap bahwa mengucapkan selamat pada hari raya orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan. Alasannya, ketika mengucapkan seperti ini berarti seseorang itu setuju dan ridho dengan syiar kekufuran yang mereka perbuat. Meskipun mungkin seseorang tidak ridho dengan kekufuran itu sendiri, namun tetap tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk ridho terhadap syiar kekufuran atau memberi ucapan selamat pada syiar kekafiran lainnya karena Allah Ta’ala sendiri tidaklah meridhoi hal tersebut. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (Qs. Az Zumar [39]: 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala juga berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Qs. Al Maidah [5]: 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Perlu Membalas Ucapan Selamat Natal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberi ucapan selamat semacam ini pada mereka adalah sesuatu yang diharamkan, baik mereka adalah rekan bisnis ataukah tidak. Jika mereka mengucapkan selamat hari raya mereka pada kita, maka tidak perlu kita jawab karena itu bukanlah hari raya kita dan hari raya mereka sama sekali tidak diridhoi oleh Allah Ta’ala. Hari raya tersebut boleh jadi hari raya yang dibuat-buat oleh mereka (baca : bid’ah). Atau mungkin juga hari raya tersebut disyariatkan, namun setelah Islam datang, ajaran mereka dihapus dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajaran Islam ini adalah ajaran untuk seluruh makhluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai agama Islam yang mulia ini, Allah Ta’ala sendiri berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Qs. Ali Imron [3]: 85)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Jika Menghadiri Perayaan Natal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun seorang muslim memenuhi undangan perayaan hari raya mereka, maka ini diharamkan. Karena perbuatan semacam ini tentu saja lebih parah daripada cuma sekedar memberi ucapan selamat terhadap hari raya mereka. Menghadiri perayaan mereka juga bisa jadi menunjukkan bahwa kita ikut berserikat dalam mengadakan perayaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Hukum Menyerupai Orang Nashrani dalam Merayakan Natal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula diharamkan bagi kaum muslimin menyerupai orang kafir dengan mengadakan pesta natal, atau saling tukar kado (hadiah), atau membagi-bagikan permen atau makanan (yang disimbolkan dengan ’santa clause’ yang berseragam merah-putih, lalu membagi-bagikan hadiah, pen) atau sengaja meliburkan kerja (karena bertepatan dengan hari natal). Alasannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim mengatakan, “Menyerupai orang kafir dalam sebagian hari raya mereka bisa menyebabkan hati mereka merasa senang atas kebatilan yang mereka lakukan. Bisa jadi hal itu akan mendatangkan keuntungan pada mereka karena ini berarti memberi kesempatan pada mereka untuk menghinakan kaum muslimin.” -Demikian perkataan Syaikhul Islam-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang melakukan sebagian dari hal ini maka dia berdosa, baik dia melakukannya karena alasan ingin ramah dengan mereka, atau supaya ingin mengikat persahabatan, atau karena malu atau sebab lainnya. Perbuatan seperti ini termasuk cari muka (menjilat), namun agama Allah yang jadi korban. Ini juga akan menyebabkan hati orang kafir semakin kuat dan mereka akan semakin bangga dengan agama mereka.&lt;br /&gt;Allah-lah tempat kita meminta. Semoga Allah memuliakan kaum muslimin dengan agama mereka. Semoga Allah memberikan keistiqomahan pada kita dalam agama ini. Semoga Allah menolong kaum muslimin atas musuh-musuh mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha Mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa Kedua: Berkunjung Ke Tempat Orang Nashrani untuk Mengucapkan Selamat Natal pada Mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dari fatwa Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah dari Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin, 3/29-30, no. 405.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh rahimahullah ditanya: Apakah diperbolehkan pergi ke tempat pastur (pendeta), lalu kita mengucapkan selamat hari raya dengan tujuan untuk menjaga hubungan atau melakukan kunjungan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau rahimahullah menjawab:&lt;br /&gt;Tidak diperbolehkan seorang muslim pergi ke tempat seorang pun dari orang-orang kafir, lalu kedatangannya ke sana ingin mengucapkan selamat hari raya, walaupun itu dilakukan dengan tujuan agar terjalin hubungan atau sekedar memberi selamat (salam) padanya. Karena terdapat hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkunjung ke tempat orang Yahudi yang sedang sakit ketika itu, ini dilakukan karena Yahudi tersebut dulu ketika kecil pernah menjadi pembantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala Yahudi tersebut sakit, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya dengan maksud untuk menawarkannya masuk Islam. Akhirnya, Yahudi tersebut pun masuk Islam. Bagaimana mungkin perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengunjungi seorang Yahudi untuk mengajaknya masuk Islam, kita samakan dengan orang yang bertandang ke non muslim untuk menyampaikan selamat hari raya untuk menjaga hubungan?! Tidaklah mungkin kita kiaskan seperti ini kecuali hal ini dilakukan oleh orang yang jahil dan pengikut hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa Ketiga: Merayakan Natal Bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa berikut adalah fatwa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi) no. 8848.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;Apakah seorang muslim diperbolehkan bekerjasama dengan orang-orang Nashrani dalam perayaan Natal yang biasa dilaksanakan pada akhir bulan Desember? Di sekitar kami ada sebagian orang yang menyandarkan pada orang-orang yang dianggap berilmu bahwa mereka duduk di majelis orang Nashrani dalam perayaan mereka. Mereka mengatakan bahwa hal ini boleh-boleh saja. Apakah perkataan mereka semacam ini benar? Apakah ada dalil syar’i yang membolehkan hal ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;Tidak boleh bagi kita bekerjasama dengan orang-orang Nashrani dalam melaksanakan hari raya mereka, walaupun ada sebagian orang yang dikatakan berilmu melakukan semacam ini. Hal ini diharamkan karena dapat membuat mereka semakin bangga dengan jumlah mereka yang banyak. Di samping itu pula, hal ini termasuk bentuk tolong menolong dalam berbuat dosa. Padahal Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Qs. Al Maidah [5]: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memberi taufik pada kita. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, pengikut dan sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Al Lajnah Ad Da’imah: Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya Menarik Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan di atas, kita dapat menarik beberapa kesimpulan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Kita –kaum muslimin- diharamkan menghadiri perayaan orang kafir termasuk di dalamnya adalah perayaan Natal. Bahkan mengenai hal ini telah dinyatakan haram oleh Majelis Ulama Indonesia sebagaimana dapat dilihat dalam fatwa MUI yang dikeluarkan pada tanggal 7 Maret 1981.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Kaum muslimin juga diharamkan mengucapkan ’selamat natal’ kepada orang Nashrani dan ini berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim. Jadi, cukup ijma’ kaum muslimin ini sebagai dalil terlarangnya hal ini. Yang menyelisihi ijma’ ini akan mendapat ancaman yang keras sebagaimana firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Qs. An Nisa’ [4]: 115). Jalan orang-orang mukmin inilah ijma’ (kesepakatan) mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, yang mengatakan bahwa Al Qur’an dan Hadits tidak melarang mengucapkan selamat hari raya pada orang kafir, maka ini pendapat yang keliru. Karena ijma’ kaum muslimin menunjukkan terlarangnya hal ini. Dan ijma’ adalah sumber hukum Islam, sama dengan Al Qur’an dan Al Hadits. Ijma’ juga wajib diikuti sebagaimana disebutkan dalam surat An Nisa ayat 115 di atas karena adanya ancaman kesesatan jika menyelisihinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, jika diberi ucapan selamat natal, tidak perlu kita jawab (balas) karena itu bukanlah hari raya kita dan hari raya mereka sama sekali tidak diridhoi oleh Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, tidak diperbolehkan seorang muslim pergi ke tempat seorang pun dari orang-orang kafir untuk mengucapkan selamat hari raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, membantu orang Nashrani dalam merayakan Natal juga tidak diperbolehkan karena ini termasuk tolong menolong dalam berbuat dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, diharamkan bagi kaum muslimin menyerupai orang kafir dengan mengadakan pesta natal, atau saling tukar kado (hadiah), atau membagi-bagikan permen atau makanan dalam rangka mengikuti orang kafir pada hari tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah beberapa fatwa ulama mengenai hal ini. Semoga kaum muslimin diberi taufiko oleh Allah untuk menghindari hal-hal yang terlarang ini. Semoga Allah selalu menunjuki kita ke jalan yang lurus dan menghindarkan kita dari berbagai penyimpangan. Hanya Allah-lah yang dapat memberi taufik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diselesaikan pada siang hari, di rumah mertua tercinta, Panggang-Gunung Kidul, 18 Dzulhijah 1429 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T.&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5587366944880896836-1242657039588744076?l=pengajianbahrain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/1242657039588744076/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5587366944880896836&amp;postID=1242657039588744076' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/1242657039588744076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/1242657039588744076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/2008/12/bolehkah-seorang-muslim-mengucapkan.html' title='Bolehkah Seorang Muslim mengucapkan Selamat Natal ?'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836.post-5814481411399822816</id><published>2008-03-06T10:59:00.000-08:00</published><updated>2008-03-06T11:03:23.860-08:00</updated><title type='text'>BULAN SURO: Bulan Penuh Kesialan?</title><content type='html'>Kamis, 17 Januari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan suro. Nama ini begitu populer di kalangan orang Jawa, meskipun tak menutup kemungkinan banyak penduduk Indonesia lain yang mengenalnya. Bulan yang dinamakan Suro ini, tak lain adalah Muharram menurut kalender Islam. Bulan ini memiliki makna yang sangat penting terhadap masyarakat Jawa -atau sebagian mereka- khususnya terkait dengan tradisi yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu yang dapat dilihat ketika bulan ini tiba adalah masih banyaknya keyakinan di tengah masyarakat bahwa bulan Muharram (Suro) adalah bulan keramat (bulan penuh kesialan). Sehingga sebagian mereka tidak berani untuk mengadakan hajatan seperti pernikahan. Menurut keyakinan mereka, bila hal ini tidak diindahkan akan menimbulkan petaka dan kesialan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada berbagai tradisi yang dilakukan untuk menghindari kesialan tersebut. Di antaranya adalah acara ruwatan, yang berarti pembersihan. Mereka yang diruwat diyakini akan terbebas dari sukerta atau kekotoran. Ada beberapa kriteria bagi mereka yang wajib diruwat, antara lain ontang-anting (putra/putri tunggal), kedono-kedini (sepasang putra-putri), sendang kapit pancuran (satu putra diapit dua putri). Mereka yang lahir seperti ini menjadi mangsa empuk Bhatara Kala, simbol kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebagian keyakinan masyarakat tatkala bulan Muharram (Suro) datang. Namun, kita sebagai seorang muslim, alangkah baiknya jika meninjau ulang keyakinan tersebut, apakah betul sudah sesuai dengan perkataan Allah dan Rasul-Nya. "Kepada-Nya lah kita bertawakkal dan kepada-Nya lah kita mengembalikan segala urusan." (QS. Asy-Syuura [42] : 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Muharram Termasuk Bulan Suci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam agama ini, bulan Muharram, yang dikenal oleh Masyarakat Jawa dengan bulan Suro, merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram (baca: bulan suci). Lihatlah firman Allah ta'ala berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan suci. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu." (QS. At Taubah [9] : 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa empat bulan yang suci tersebut? Hal ini dijelaskan dalam hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"... satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan suci. Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo'dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir, ed) dan Sya'ban." (HR. Bukhari no. 3025)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah: (1) Dzulqo'dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; (4) Sya'ban. Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qodhi Abu Ya'la rahimahullah mengatakan, "Dinamakan haram karena di dalamnya ada dua makna. Pertama, karena diharamkan pembunuhan pada bulan tersebut. Orang-orang Jahiliyyah juga telah meyakini demikian. Kedua, karena pelarangan untuk melakukan berbagai perbuatan haram pada bulan tersebut lebih keras dari pada bulan-bulan lainnya." (Lihat Zadul Masir, Ibnul Jauziy)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Muharram Disebut Bulan Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam." (HR. Muslim no. 2812)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah pada hadits tersebut bulan Muharram dikatakan sebagai 'syahrullah' (bulan Allah) hal ini menunjukkan bahwa bulan tersebut memiliki kemuliaan. Sebagaimana juga Masjidil Haram disebut Baitullah (rumah Allah) karena masjid tersebut memiliki kemuliaan daripada masjid-masjid lainnya. (Lihat Faidul Qodir, 2/53, dinukil dari perkataan Az Zamakhsariy)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Kenapa Muharram Disebut Bulan Allah (syahrullah)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Muharram ini adalah nama Islami, berbeda dengan nama bulan-bulan lainnya. Bulan lainnya (selain Muharram) masih menggunakan nama seperti pada masa jahiliyyah dahulu. Pada masa jahiliyah, Muharram disebut dengan Shafar Al Awwal (Shafar yang pertama) sedangkan bulan sesudahnya (yang dikenal dengan Shafar pada masa Islam) disebut dengan Shafar Ats Tsani (Shafar yang kedua). Pada masa Islam, Allah menamakan Muharram dengan disandarkan pada-Nya dengan disebut sebagai syahrullah (bulan Allah). (Lihat Ad Dibaj 'ala Muslim, 3/251, Jalaludin As Suyuthi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hafizh Abul Fadhl Al 'Iroqiy mengatakan dalam Syarh Tirmidzi, "Apa hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah?". Beliau rahimahullah menjawab, "Disebut demikian karena di dalamnya diharamkan pembunuhan. Juga bulan Muharram adalah bulan pertama dalam setahun. Bulan ini disandarkan pada Allah (sehingga disebut syahrullah atau bulan Allah, pen) adalah untuk menunjukkan istimewanya bulan ini. Dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah ta'ala kecuali bulan Allah - Muharram. (Dinukil dari Syarh Suyuthi li Sunan An Nasa'i, 3/206)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Muharram Dikatakan Membawa Berbagai Musibah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan di atas, kita mengetahui dengan jelas bahwasanya bulan Muharram (bulan Suro) adalah bulan suci hingga diharamkan berbagai keharaman pada bulan itu. Juga disebut sebagai syahrullah (bulan Allah) yang menunjukkan bahwa bulan tersebut adalah bulan yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apakah sikap orang-orang yang menyatakan bulan tersebut sebagai bulan penuh musibah (petaka) adalah benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita melihat dari dalil-dalil sebelumnya, tentu saja perbuatan ini tidaklah benar karena kok bulan suci dan mulia malah mendatangkan bencana. Ini suatu hal yang tidak mungkin. Allah sendiri telah mencela keadaan orang-orang musyrik yang menyatakan bahwa yang mencelakakan dan membinasakan mereka adalah waktu. Allah mencela sikap mereka sebagaimana pada firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa (waktu)", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja." (QS. Al Jatsiyah [45] : 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam shohih Muslim, dibawakan Bab dengan judul 'larangan mencela waktu (ad-dahr)'. Di antaranya terdapat hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah 'Azza wa Jalla berfirman, 'Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang." (HR. Muslim no. 6000)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lafazh yang lain, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَقُولُ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ. فَلاَ يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ. فَإِنِّى أَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَهُ فَإِذَا شِئْتُ قَبَضْتُهُمَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah 'Azza wa Jalla berfirman, 'Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mengatakan 'Ya khoybah dahr' [ungkapan mencela waktu, pen]. Janganlah seseorang di antara kalian mengatakan 'Ya khoybah dahr' (dalam rangka mencela waktu, pen). Karena Aku adalah (pengatur) waktu. Aku-lah yang membalikkan malam dan siang. Jika suka, Aku akan menggenggam keduanya." (HR. Muslim no. 6001)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shohih Muslim mengatakan bahwa orang Arab dahulu biasanya mencela masa (waktu) ketika tertimpa berbagai macam musibah seperti kematian, kepikunan, hilang (rusak)-nya harta dan lain sebagainya sehingga mereka mengucapkan 'Ya khoybah dahr' (ungkapan mencela waktu, pen) dan ucapan celaan lainnya yang ditujukan kepada waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka lihatlah dalil-dalil yang ada, dari situ terlihat bahwasanya kita dilarang mencela waktu atau mengatakan bahwa waktu tersebut yang mencelakakan kita. Kenapa demikian? Lihatlah dalam hadits-hadits di atas, terlihat bahwa Allah-lah yang mengatur siang dan malam. Apabila seseorang mencela waktu dengan menyatakan bahwa bulan ini adalah bulan sial atau bulan ini selalu membuat celaka, maka sama saja dia mencela Pengatur Waktu, yaitu Allah 'Azza wa Jalla. Maka mencela masa bisa terjatuh dalam dosa bahkan bisa termasuk syirik akbar. Perhatikanlah rincian Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah dalam Al Qoulul Mufid 'ala Kitabit Tauhid berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencela Waktu ituTerbagi Menjadi Tiga Macam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama; jika dimaksudkan hanya sekedar berita dan bukanlah celaan, ini diperbolehkan. Misalnya ucapan, "Kita sangat kelelahan karena hari ini sangat panas" atau semacamnya. Hal ini diperbolehkan karena setiap amalan tergantung pada niatnya. Hal ini juga dapat dilihat pada perkataan Nabi Luth 'alaihis salam, "Ini adalah hari yang amat sulit." (QS. Hud [11] : 77)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua; jika menganggap bahwa waktulah pelaku yaitu yang membolak-balikkan perkara menjadi baik dan buruk, ini termasuk syirik akbar. Hal ini berarti meyakini bahwa ada pencipta bersama Allah disebabkan menyandarkan berbagai kejadian pada selain Allah. Barang siapa meyakini ada pencipta selain Allah maka dia telah kafir. Sebagaimana seseorang meyakini bahwa ada sesembahan selain Allah, maka dia juga kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga; jika mencela waktu karena waktu adalah tempat terjadinya perkara yang di benci, maka ini adalah haram, dan tidak sampai derajat syirik. Tindakan semacam ini termasuk tindakan bodoh (alias dungu) yang menunjukkan kurangnya akal dan agama. Hakikat mencela waktu, sama saja dengan mencela Allah karena Dia-lah yang mengatur waktu, di waktu tersebut Dia menghendaki adanya kebaikan maupun kejelekan. Maka waktu bukanlah pelaku. Tindakan mencela waktu semacam ini bukanlah bentuk kekafiran karena orang yang melakukannya tidaklah mencela Allah secara langsung. -Demikianlah rincian dari beliau rahimahullah yang sengaja kami ringkas-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka perhatikanlah saudaraku, mengatakan bahwa waktu -termasuk bulan Muharram- adalah bulan sial atau celaka, ini sama saja dengan mencela waktu. Mencela waktu bisa jadi haram, bahkan bisa termasuk perbuatan syirik. Hati-hatilah dengan melakukan perbuatan semacam ini. Ingatlah di sisi kita semua selalu ada malaikat yang akan mengawasi tindak-tanduk kalian. Allah ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (16) إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan para malaikat Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri." (QS. Qaaf [50] : 16-17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa Sial pada Bulan Muharram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang juga selalu menganggap sial dengan bulan Suro ini. Ada sebagian orang tua yang sangat mengkhawatirkan anaknya seperti melarang jangan ngebut-ngebutan pada bulan ini karena bulan ini adalah bulan penuh musibah (petaka). Sampai-sampai ada juga yang dilarang untuk menikah pada bulan ini, karena khawatir akan terjadi sesuatu pada bahtera rumah tangganya kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sedikit dari berbagai anggapan sial di tengah masyarakat tatkala berada di bulan Suro. Tetapi sebaiknya kita menilik kembali keyakinan semacam ini berdasarkan perkataan Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah firman Allah ta'ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: "Itu adalah karena (usaha) kami". Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS. Al A'raaf [7] : 131)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah ayat ini. Ketika Fir'aun dan pengikutnya mendapatkan hujan, kesuburan, rizki yang melimpah dan keselamatan, mereka menyatakan bahwa itu adalah karena mereka memang pantas untuk mendapatkannya. Mereka tidaklah mengakui bahwa limpahan nikmat tersebut berasal dari Allah dan mensyukuri-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tatkala hujan tidak turun, kekeringan dan berbagai bencana datang, mereka menyatakan bahwa ini semua adalah kesialan dari Musa dan pengikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah juga kelakuan orang Arab dahulu. Tatkala ingin melakukan sesuatu, terlebih dahulu mereka menggertak (membentak) buruk. Jika burung tersebut terbang ke arah kiri, ini pertanda sial. Namun, jika burung terbang ke arah kanan, ini pertanda baik (berkah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah, terakhir Allah ta'ala katakan bahwa kesialan yang menimpa mereka adalah ketetapan dari Allah. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ahli tafsir Qur'an, mengatakan maksud ayat terakhir ini adalah bahwa apa saja yang menimpa mereka berasal dari Allah. (Lihatlah penjelasan ini dalam Zadul Masir pada tafsir surat Al A'raaf ayat 131)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga telah menyatakan bahwa beranggapan sial seperti ini termasuk kesyirikan. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ - ثَلاَثًا - وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beranggapan sial termasuk kesyirikan, beranggapan sial termasuk kesyirikan. (Beliau menyebutnya tiga kali, lalu beliau bersabda), tidak ada di antara kita yang selamat dari beranggapan sial. Menghilangkan anggapan sial tersebut adalah dengan bertawakkal." (HR. Abu Daud no. 3912. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 429. Lihat penjelasan hadits ini dalam Al Qoulul Mufid - Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, menganggap sial terhadap sesuatu termasuk menganggap sial karena bertemu dengan bulan tertentu seperti bulan Muharram (Suro) adalah terlarang bahkan termasuk kesyirikan. Ingatlah setiap kesialan atau musibah yang menimpa bukanlah disebabkan oleh waktu, orang atau tempat tertentu! Namun, semua itu adalah ketentuan Allah ta'ala Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertimpa Musibah, Disebabkan Karena Maksiat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang patut direnungkan. Seharusnya seorang muslim apabila mendapatkan musibah yang dibenci, hendaknya dia mengambil pelajaran bahwa ini semua adalah ketentuan dan takdir Allah serta berasal dari-Nya. Allah tidaklah mendatangkan musibah tersebut begitu saja, pasti ada sebab yaitu karena dosa dan maksiat. Perhatikanlah firman Allah 'Azza wa Jalla:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri." (QS. Asy Syuraa [42] : 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hendaklah seorang mukmin bertaubat atas dosa-dosanya dan bersabar dengan musibah yang menimpanya serta mengharap ganjaran dari Allah ta'ala. Janganlah lisannya digunakan untuk mencela waktu dan hari, tempat terjadinya musibah tersebut. Seharusnya seseorang memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya serta ridho dengan ketentuan dan takdir-Nya. Juga hendaklah dia mengetahui bahwa semua yang terjadi disebabkan karena dosa yang telah dilakukan. Maka seharusnya seseorang mengintrospeksi diri dan bertaubat kepada Allah ta'ala. (Lihat I'anatul Mustafid dan Syarh Masa'il Jahiliyyah, Syaikh Sholih bin Fauzan hafizhahullah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isilah Bulan Muharram dengan Puasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup tulisan ini, kami mengajak kaum muslimin sekalian untuk mengisi bulan Muharram dengan melakukan berpuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendorong kita untuk banyak melakukan puasa pada bulan tersebut sebagaimana sabdanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah - Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam." (HR. Muslim no. 2812)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hari-hari yang sebulan itu, puasa yang paling ditekankan untuk dilakukan adalah puasa pada hari 'Asyura' yaitu pada tanggal 10 Muharram karena bepuasa pada hari tersebut akan menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu. Abu Qotadah Al Anshoriy berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ � يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ �. قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ � يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ �&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arofah? Beliau menjawab, "Puasa Arofah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa 'Asyuraa'? Beliau menjawab,"Puasa 'Asyura' akan menghapus dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim no. 2804)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih Baik lagi Jika Berpuasa pula pada Hari Sebelumnya yaitu Tanggal 9 Muharram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata mengenai puasa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada hari 'Asyura'. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu. Lalu para sahabat mengatakan, "Ya Rasulullah, hari 'Asyura' adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ - إِنْ شَاءَ اللَّهُ - صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu, tahun depan -jika Allah menghendaki- kita akan puasa pada hari kesembilan (Muharram)". Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma mengatakan, "Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sudah meninggal dunia." (HR. Muslim no. 2722)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritas ulama berpendapat bahwa 'Asyura' adalah tanggal sepuluh pada bulan Muharram bukan tanggal sembilan, yaitu Sa'id bin Al Musayyib, Al Hasan Al Bashri, Malik, Ahmad, Ishaq, Kholaiq. Inilah yang terlihat jelas pada hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafi'i dan sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya mengatakan bahwa dianjurkan berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus; karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat (berkeinginan) berpuasa juga pada hari kesembilan. ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama mengatakan bahwa sebab Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bepuasa pada hari kesepuluh sekaligus kesembilan, agar tidak tasyabbuh (menyerupai) orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja. Dalam hadits tadi terdapat isyarat mengenai hal ini. Ada juga yang mengatakan bahwa hal ini untuk kehati-hatian, siapa tahu salah dalam penentuan 'Asyura' (hari kesepuluh). Pendapat yang menyatakan bahwa Nabi menambah hari kesembilan agar tidak menyerupai puasa Yahudi adalah pendapat yang lebih kuat. Wallahu a'lam. (Lihat Syarh An Nawawi 'ala Muslim, 4/121)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Penting:&lt;br /&gt;Sebagian ulama berpendapat tentang dianjurkannya puasa pada hari ke-9, 10, dan 11. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْماً أَوْ بَعْدَهُ يَوْماً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Puasalah pada hari 'Asyura' (10 Muharram, pen) dan selisilah Yahudi. Puasalah pada hari sebelumnya atau hari sesudahnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, Ibnu Khuzaimah, Ibnu 'Adiy, Al Baihaqiy, Al Bazzar, Ath Thohawiy dan Al Hamidiy, namun sanadnya dho'if (lemah). Di dalam sanad tersebut terdapat Ibnu Abu Laila -yang nama aslinya Muhammad bin Abdur Rahman-, hafalannya dinilai jelek. Juga terdapat Daud bin 'Ali. Dia tidak dikatakan tsiqoh kecuali oleh Ibnu Hibban. Beliau berkata, "Daud kadang yukhti' (keliru)." Adz Dzahabiy mengatakan bahwa hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah (dalil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, terdapat hadits yang diriwayatkan Abdur Rozaq, Ath Thohawiy dalam Ma'anil Atsar, dan juga Al Baihaqi, dari jalan Ibnu Juraij dari 'Atho' dari Ibnu Abbas. Beliau radhiyallahu 'anhuma berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خَالِفُوْا اليَهُوْدَ وَصُوْمُوْا التَّاسِعَ وَالعَاشِرَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selisilah Yahudi. Puasalah pada hari kesembilan dan kesepuluh Muharram."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanad hadits ini adalah shohih, namun diriwayatkan secara mauquf (hanya sampai pada sahabat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dinukil dari catatan kaki pada Zadul Ma'ad II/60 (Darul Fikr) yang ditahqiq oleh Syaikh Abdul Qodir Arfan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hal ini bukan berarti berpuasa pada hari ke-11 Muharram tidaklah dianjurkan. Namun dalam rangka kehati-hatian penentuan awal Muharram, maka kita dianjurkan pula berpuasa selama tiga hari yaitu 9, 10 dan 11 Muharram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al Mughni, 6/195, Imam Ahmad mengatakan, "Jika ragu mengenai penentuan tanggal 1 Muharram, maka boleh berpuasa pada tiga hari (hari 9, 10, dan 11 Muharram, pen). Hal ini dilakukan agar menjadi yakin telah berpuasa pada hari ke-9 dan 10."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan kita dimudahkan oleh Allah untuk melaksanakan puasa pada bulan Muharram. Insya Allah pada tahun ini, puasa 'Asyura' jatuh pada tanggal 19 Januari 2008, dan lebih baik lagi jika kita berpuasa pada hari sebelumnya untuk menyelisihi Yahudi, atau hari sesudahnya dalam rangka menghilangkan keraguan dalam penentuan awal Muharram. Wallahu a'lam bish showab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin dan dapat memperbaiki keadaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahumman fa'ana bima 'alamtanaa, wa 'alimnaa maa yanfa'una wa zidna 'ilma. Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu 'ala nabiyyina Muhammad wa 'ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusun oleh: Penuntut Ilmu di Ma'had Al 'Ilmi Yogyakarta&lt;br /&gt;Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;Muroja'ah: Ustadz Aris Munandar, S.S.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai disusun di Panggang, Gunung Kidul&lt;br /&gt;Pada Malam Satu Suro 1429 H&lt;br /&gt;Bertepatan dengan 9 Januari 2008&lt;br /&gt;Update Terakhir ( Kamis, 17 Januari 2008&lt;br /&gt;download dari : www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5587366944880896836-5814481411399822816?l=pengajianbahrain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/5814481411399822816/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5587366944880896836&amp;postID=5814481411399822816' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/5814481411399822816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/5814481411399822816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/2008/03/bulan-suro-bulan-penuh-kesialan.html' title='BULAN SURO: Bulan Penuh Kesialan?'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836.post-1759397835095096144</id><published>2008-03-06T10:57:00.000-08:00</published><updated>2008-03-06T10:58:40.310-08:00</updated><title type='text'>PEDIHNYA SIKSA NERAKA</title><content type='html'>ASSALAMUALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد لله ذي العز المجيد، والبطش الشديد، المبدئ المعيد، الفعال لما يريد، المنتقم ممن عصاه بالنار بعد الإنذار والوعيد، المكرم لمن خافه بدار لهم فيها من كل خير مزيد، فسبحان من قسم خلقه قسمين وجعلهم فريقين فمنهم شقي وسعيد، من عمل صالحا فلنفسه ومن أساء فعليها وما ربك بظلام للعبيد ، أما بعد:&lt;br /&gt;Berikut ini ringkasan pengajian Bahrain Jumat 7 Desember 2007 dengan tema "Pedihnya siksa neraka" semoga menjadi peringatan dan pelajaran bagi kita semua. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi neraka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neraka di dalam bahasa arab disebut (النار ) "An Naar" yang artinya: Api. Neraka dinamakan (النار ) "An Naar": Api, karena penghuni neraka disediakan bagi mereka tempat tinggal yang terbuat dari api, pakaian dari api dan merekapun disiksa dengan api.  Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فأنذرتكم نارا تلظى، لا يصلاها إلا الأشقى&lt;br /&gt;"Maka Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala, tidak ada yang masuk ke dalamnya melainkan orang yang paling celaka. (QS. Al Lail:14-15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimanakah letak neraka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana surga adalah tempat orang-orang yang mulia, maka dia berada ditempat yang mulai dan tinggi, yaitu di langit yang ketujuh. Namun nereka adalah tempat orang-orang yang hina dan rendah, maka dia berada di tempat yang paling rendah, yaitu di bagian bumi yang paling bawah. Allah berfirman:&lt;br /&gt;ثم رددناه أسفل سافلين&lt;br /&gt;“Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). (QS. At Tiin:5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalamnya neraka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu ia berkata: “Dahulu ketika kami besama Rosulullah shallallahu alaihi wasallam, kami mendengar suara sesuatu yang jatuh. Beliau berkata: Tahukah kalian suara apakah ini? Kamipun berkata: Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هذا حجر أرسل في جهنم منذ سبعين خريفا فالآن انتهى قعرها&lt;br /&gt;“Ini adalah suara batu yang dilempar dari permukaan neraka jahannam semenjak tujuh puluh tahun yang lalu, sekarang baru sampai ke dasarnya.” (HR. Muslim:2844).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panasnya neraka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu berkata: Dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;ناركم هذه التي يوقد بنو آدم جزء واحد من سبعين جزءا من نار جهنم، قالوا: والله إن كانت لكافية، قال: إنها فضلت عليها بتسعة وستين جزءا كلهن مثل حرها&lt;br /&gt;“Api kalian ini yang digunakan manusia untuk menyalakan sesuatu adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian bagian (panasnya) api neraka. Para Sahabat berkata: Demi Allah sesungguhnya api ini sudah cukup (untuk menyiksa). Beliau bersabda: Sesungguhnya api neraka itu lebih panas dari api dunia enam puluh sembilan kali semua panasnya sama.” (HR. Bukhori:3265, Muslim:2843).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu berkata: Dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;اشتكت النار إلى ربها، فقالت: يا رب أكل بعضي بعضا فنفسني، فأذن لها نفسين: نفس في الشتاء ونفس في الصيف، فأشد ما تجيدون من الحر من سمومها، وأشد ما تجيدون من البرد من زمهررها&lt;br /&gt;“Nereka mengadu kepada Tuhannya, lalu ia berkata: Ya Robbi bagian tubuhku saling memakan antara satu dan yang lainnya, maka berikanlah aku nafas. Lalu Allah memberikannya dua nafas; Satu nafas di musim dingin dan satu nafas di musim panas. Maka kalian menjumpai panas yang sangat luar biasa dari teriknya( yang amat panas) dan kalian menjumpai dingin yang sangat luar biasa dari udaranya (yang amat dingin) .” (HR. Bukhori:536, Muslim:617).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarnya tubuh penghuni neraka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh penghuni neraka sangat besar, namun besarnya tubuh mereka bukanlah sesuatu yang dibanggakan, karena tubuh mereka dibesarkan agar mereka benar-benar merasakan siksa. Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu berkata: Dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;ما بين منكبي الكافر مسيرة ثلاثة أيام للراكب السريع&lt;br /&gt;“Jarak antara kedua pundak orang kafir (di neraka) seperti jarak orang yang menaiki kendaraan dengan cepat selama tiga hari.” (HR. Bukhori:5661, Muslim:2582).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu berkata: Dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;ضرس الكافر أو ناب الكافر مثل أحد، وغلظ جلده مسيرة ثلاثة أيام&lt;br /&gt;“(Besar) gigi geraham orang kafir atau gigi taringnya (di neraka) seperti gunung uhud, dan tebal kulitnya jarak perjalanan tiga hari.” (HR. Muslim:2851).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulit mereka yang begitu tebal dibakar dengan api yang menyala-nyala hingga kulit itupun hangus, apabila kulit itu hangus Allah menggantinya dengan kulit yang lain, Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُواْ الْعَذَابَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا} (56) سورة النساء&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan kedalam neraka. Setiap kulit tubuh mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan adzab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An Nisa’:56).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buruknya rupa penghuni neraka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana mereka adalah manusia yang paling buruk amalannya di dunia, Allah merubah rupa mereka di akhirat dengan rupa yang buruk, hitam dan berdebu. Allah Ta'ala berifrman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ُفَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكْفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُواْ الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ} (106) سورة آل عمران&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu." (QS. Ali Imron:106). Allah juga berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ووجوه يومئذ عليها غبرة، ترهقها قترة، أولئك هم الكفرة الفجرة ))&lt;br /&gt;"Dan banyak muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka." (QS. 'Abasa:40-42).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda mengkisahkan Nabi Ibrohim alaihissalam ketika meminta syafaat untuk bapaknya pada hari kiamat, namun syafaatnya ditolak karena bapaknya adalah penyembah patung, lalu dikatakan kepada Nabi Ibrohim:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يا إبراهيم ! انظر ما وراءك، فإذا هو بذيخ ملطخ، فيؤخذ بقوائمه ويلقى في النار&lt;br /&gt;"Hai Ibrohim! Lihatlah kebelakang, tiba-tiba dia melihat seekor heyna jantan yang berlumuran darah, lalu diambil tubuhnya dan dilemparkan ke neraka." (HR. Bukhori:3350).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakaian penghuni neraka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka diberi pakaian, namun pakaian mereka tidak nyaman, mereka diberi pakaian namun pakaian tersebut tidak dapat melindungi tubuh mereka, malah pakaian itu membakar tubuh mereka sendiri; karena pakaian mereka terbuat dari api. Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;فالذين كفروا قطعت لهم ثياب من نار&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang kafir, Allah jadikan bagi mereka baju yang terbuat dari api.” (QS. Al Hajj:19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan dan minuman penghuni neraka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka merasakan lapar yang luar biasa, namun mereka tiada mendapatkan makanan yang mengeyangkan dan menghilangkan rasa lapar, Allah Ta’ala befirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ليس لهم طعام إلا من ضريع، لا يسمن ولا يغني من جوع&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka tiada memperoleh makanan, selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangka lapar." (QS. Al Ghaasyiyah:6-7).&lt;br /&gt;Allah juga berfirman:&lt;br /&gt;إن شجرة الزقوم، طعام الأثيم، كالمهل يغلي في البطون كغلي الحميم&lt;br /&gt;"Sesungguhnya pohon zaqqum itu, makanan orang yang banyak berdosa, seperti kotoran yang mendidih di dalam perut, seprti mendidihnya air yang sangat panas." (QS. Ad Dukhaan:43-46).&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhuma berkata: Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;لو أن قطرة من الزقوم قطرت في دار الدنيا لأفسدت على أهل الدنيا معايشهم، فكيف بمن تكون طعامه ؟&lt;br /&gt;“Sekiranya satu tetes dari Zaqqum menetes ke dunia, niscaya akan mengancurkan kehidupan penduduk dunia, lalu bagaimana dengan orang yang memakannya?!”. (HR. Ahmad, Tirmidzi, lihat Shohihul Jami’:525).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kepanasan dan merasakan haus yang luar biasa, namun mereka tidak mendapatkan udara sejuk yang menghilangkan panasnya neraka jahannam dan tidak pula mendapatkan air segar yang menghilangkan rasa haus. Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;لا يذوقون فيها بردا ولا شرابا، إلا حميما وغساقا&lt;br /&gt;“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak pula (mendapat) minuman, selain air mendidih dan nanah.” (QS. An Naba’:24-25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamiman (حميما ): Air mendidih yang sangat panas yang menghanguskan muka dan menghancurkan segala yang ada di perut. Gossaqon (غساقا ): Minuman yang terbuat dari nanah, darah, keringat dan luka penguhuni neraka, minuman tersebut sangat dingin dan berbau busuk. Allah telah berfirman:&lt;br /&gt;من ورائه جهنم ويسقى من ماء صديد يتجرعه ولا يكاد يسيغه ويأتيه الموت من كل مكان وما هو بميت ومن ورائه عذاب غليظ&lt;br /&gt;“Di hadapannya (yaitu orang yang sombong) ada neraka jahannam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah, diminumnya air dari nanah itu, dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah maut kepadanya dari segala penjuru, tetapi dia juga tidak mati; dan di hadapannya masih ada azab yang berat.”(QS. Ibrahim: 16-17).&lt;br /&gt;Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;لو أن دلوا من غساق يهراق في الدنيا لأنتن أهل الدنيا&lt;br /&gt;“Sekiranya timba yang berisi Gossaq dituangkan ke dunia, niscaya menjadikan busuk penduduk dunia.”(HR. Ahmad dan Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rohimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala meniadakan kesejukan yang menjadikan segar tubuh bagian luar, dan juga meniadakan minuman yang menjadikan dingin tubuh bagian dalam, yang demikian itu karena penghuni neraka apabila kehausan mereka meminta minum, sebagaimana Allah berfirman:&lt;br /&gt;وإن يستغيثوا يغاثوا بماء كالمهل يشوي الوجوه بئس الشراب وساءت مرتفقا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan apabila mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.”(QS. Al Kahfi: 29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah air yang yang panasnya seperti besi mendidih, apabila didekatkan ke wajah dapat menghanguskan wajah tersebut, apakah air itu bermanfaat bagi peminumnya?&lt;br /&gt;Allah juga berfirman:&lt;br /&gt;يصبّ من فوق رؤوسهم الحميم يصهر ما في بطونهم والجلود&lt;br /&gt;“Disiramkan air yang mendidih dari atas kepala mereka, dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka).”(QS. Al Hajj: 19-20).&lt;br /&gt;Apa yang ada di dalam perut mereka adalah usus, sedangkan kulit adalah tubuh bagian luar. Maka barangsiapa yang minumannya seperti itu sungguh mereka tidak merasakan kesejukan dan tidak pula mendapatkan minuman yang menghilangkan panas didalam tubuhnya.” (dinukil dari Tafsir Juz Amma Surat An Naba’ ayat:24-25, karya: Syaikh Muhammad Al Utsaimin, dengan sedikit ringkasan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghuni neraka ingin menebus siksa neraka dengan harta dan anak mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka ingin menebus siksa dengan harta benda yang mereka miliki, namun Allah menolak tebusan mereka, Allah Ta’ala befirman:&lt;br /&gt;إن الذين كفروا لو أن لهم ما في الأرض جميعا ومثله معه ليفتدوا به من عذاب يوم القيامة ما تقبل منهم ولهم عذاب أليم&lt;br /&gt;"Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu pula untuk menebus diri mereka dengan itu dari adzab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka mendapatkan adzab yang pedih." (QS. Al Maaidah:36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan mereka ingin menebus siksa dengan anak-anak mereka, istri mereka, saudara mereka, keluarga mereka, namun semua itu tidak diterima. Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang yang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari adzab hari itu dengan anak-anaknya, isrtinya dan saudaranya, dan familinya yang melindunginya (di dunia), dan orang-orang diatas bumi seluruhnya, kemudian mereka (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya. Sekali-kali tidak dapat. Sesugguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak. (QS. Al Ma'aarij:11-15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa penghuni neraka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghuni neraka berharap dan berdoa agar mereka dikeluarkan dari neraka, dihidupkan kembali ke dunia untuk beramal sholih, sebagaimana Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ربنا أخرجنا منها فإن عدنا فإنا ظالمون قال اخسئوا فيها ولا تكلمون&lt;br /&gt;“Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami darinya (kembalikan kami kedunia untuk beramal sholih), maka jika kami kembali (kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.” Allah berfirman: “Tinggallah di dalamnya dengan hina, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.”(QS. Al Mu’minuun: 107-108). Lalu mereka meminta kepada Malik penjaga neraka supaya Allah mematikan mereka, sebagaimana Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ونادوا يا مالك ليقض علينا ربك قال إنكم ماكثون&lt;br /&gt;“Mereka berseru: “Wahai Malik biarlah Tuhanmu membunuh kami saja, Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu tetap tinggal (di neraka ini).”(QS. Az Zukhruf: 77).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian mereka meminta keringanan agar tidak disiksa satu hari saja, sebagaimana Allah berfirman:&lt;br /&gt;(( وقال الذين في النار لخزنة جهنم ادعوا ربكم يخفف عنا يوما من العذاب قالوا أولم تك تأتيكم رسلكم بالبينات قالوا بلى قالول فادعوا وما دعاء الكافرين إلا في ضلال ))&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada kepada penjaga-penjaga jahannam: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari”. Penjaga Jahannam berkata: “Bukankah telah datang kepada kamu rosul-rosulmu denagn membawa keterangan?” Mereka menjawab: “Benar sudah datang”. Penjaga jahannam berkata: “Berdoalah kamu”. Dan doa-doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka.”(QS. Al Mu’min: 49-50).&lt;br /&gt;Lalu turunlah ayat kepada penghuni neraka yang memutuskan segala harapan mereka, Allah berfirman:&lt;br /&gt;فذوقوا فلن نزيدكم إلا عذابا&lt;br /&gt;“Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada adzab.” (QS. An Naba’:30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh As Sa’dy rohimahullah berkata: ( فذوقوا ) : Maka rasakanlah olehmu wahai para pendusta siksaan yang pedih lagi menghinakan dan kekal, ( فلن نزيدكم إلا عذابا ) : Setiap waktu dan setiap saat bertambah siksaan mereka. Ayat ini adalah ayat yang paling keras yang menjelaskan pedihnya siksaan terhadap penghuni neraka –semoga Allah melindungi kita darinya-.” (lihat Tafsir As Sa'dy Juz Amma Surat An Naba':30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyesalan dan tangisan penghuni neraka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menyesal, benar mereka menyesal namun penyesalan mereka tiada lagi artinya. Mereka menangis, sungguh mereka benar-benar menangis, karena mereka mengalami penderitaan yang tiada seorangpun yang sabar menahannya. Bahkan mereka banyak menangis, sampai-sampai air mata mereka bisa dilalui kapal karena banyaknya. Mereka mengangis dan terus menangis sehingga apabila air mata mereka habis, mereka menangis dengan mengeluarkan darah sebagai pengganti air mata. Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فليضحكوا قليلا وليبكوا كثيرا جزاء بما كانوا يعملون&lt;br /&gt;"Maka hendaklah mereka tertawa sedikit (di dunia) dan menangis banyak (di akhirat), sebgai balasan dari apa yang selalu mereka kerjakan." (QS. At Taubah:82).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Musa Al Asy’ari rodhiyallahu anhu, dari Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;إن أهل النار ليبكون حتى لو أجريت السفن في دموعهم لجرت، وإنهم ليبكون الدم –يعني- مكان الدمع&lt;br /&gt;"Sesungguhnya penghuni neraka mereka benar-benar menangis, sampai-sampai kalau sekiranya kapal-kapal dijalankan diatas air mata mereka niscaya kapal-kapal tersebut berjalan, sesungguhnya mereka menangis mengeluarkan darah sebagai ganti air mata." (HR. Hakim, di hasankan Syaikh Albani Shohihu Jami':2032  dan lihat Ash Shohihah:1679).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian disembelih di antara Surga dan Nereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Di datangkan kematian seakan-akan ia adalah seekor domba, lalu di berhentikan di antara surga dan neraka, dikatakan kepada penghuni surga: Wahai penghuni surga tahukah kalian ini? Merekapun berkumpul, melihat dan berkata: Ya ini adalah kematian. Kemudian dikatakan kepada penghuni neraka: Wahai penghuni neraka tahukah kalian ini? Merekapun berkumpul, melihat dan berkata: Ya ini adalah kematian. Kemudian diperintahkan kepada kematian lalu iapun disembelih. Kemudian dikatakan: Wahai penghuni surga kekal dan tidak ada lagi kematian, wahai penghuni neraka kekal dan tidak ada lagi kematian." (Muttafaqun Alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan dari siksa neraka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai hamba Allah ingatlah Tuhanmu, murnikanlah ibadah hanya kepada-Nya, janganlah engkau menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Jagalah sholatmu dan janganlah engkau termasuk orang yang menyia-nyiakan sholat. Sadarlah hidup ini hanya sementara, maka janganlah engkau lalai dengannya. Bertaubatlah dari segala dosa dan jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka, Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يا أيها الذين آمنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا وقودها الناس والحجارة عليها ملائكة غلاظ شداد لا يعصون الله ما أمرهم ويفعلون ما يؤمرون&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar; yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At Tahrim:6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah tunjukkan kami ke jalan-Mu yang lurus, yaitu jalan yang mengantrakan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari siksa api neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار&lt;br /&gt;“Wahai Tuhan kami berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan selamatkan kami dari siksa api neraka.” Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WASSALAMUALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis hamba Allah yang faqir kepada ampunan-Nya: Ahmad Jamil bin Alim bin Hamid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinukil dari Muqoddimah kitab At Takhwif Minan Naar" karya Ibnu Rojab Al Hambali hal-9.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5587366944880896836-1759397835095096144?l=pengajianbahrain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/1759397835095096144/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5587366944880896836&amp;postID=1759397835095096144' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/1759397835095096144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/1759397835095096144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/2008/03/pedihnya-siksa-neraka.html' title='PEDIHNYA SIKSA NERAKA'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836.post-141066186702883388</id><published>2008-03-06T10:55:00.000-08:00</published><updated>2008-03-06T10:57:07.437-08:00</updated><title type='text'>TAMASYA KE TAMAN SYURGA</title><content type='html'>بسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamualaikum Warohmatullahi   Wabarokatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على النبي الأمين وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد:&lt;br /&gt;Berikut ini ringkasan Pengajian Bahrain Jumuah 23 November 2007, materi: “Tamasya ke Taman Syurga”, mudah-mudahan bermanfaat terutama bagi rekan yang tidak hadir di pengajian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi Surga secara bahasa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surga dalam bahasa arab disebut (جَنَّةٌ ) “Jannatun” yang artinya: Taman yang di dalamnya terdapat pemandangan yang indah dan pepohonan yang rindang. Surga dinamakan (جَنَّةٌ ) “Jannatun” karena di dalam surga terdapat pemandangan yang sangat indah dipandang dan juga terdapat pepohonan yang rindang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimanakah letak surga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surga berada di tempat yang tinggi yaitu berada dilangit yang ketujuh yang bernama “Sidrotul Muntaha”. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( عند سدرة المنتهى ، عندها جنة المأوى ))&lt;br /&gt;“(Yaitu) di Sidrotul Muntaha, di dekatnya terdapat surga tempat kembali.” (QS. An Najm:14-15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebaliknya nereka berada di tempat yang paling rendah, yaitu di bagian bumi yang paling bawah. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( ثم رددناه أسفل سافلين ))&lt;br /&gt;“Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). (QS. At Tiin:5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luasnya Surga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surga sangat luas seperti luasnya langit dan bumi. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السماوات والأرض أعدت للمتقين ))&lt;br /&gt;“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron:133).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( والذي نفس محمد بيده إن ما بين المصراعين من مصاريع الجنة لكما بين مكة وهجر ))&lt;br /&gt;“Demi jiwa Muhammad yang berada di Tangan-Nya, sesungguhnya jarak antara dua sisi pintu dari pntu-pintu surga seperti jarak antara Makkah dan Hajar (Kota dekat Dammam dan Ahsa’). (HR. Bukhori&amp;Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keindahan Surga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keindahan surga sangat luar biasa sehingga tidak bisa dijangkau dengan angan-angan manusia. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( فلا تعلم نفس ما أخفي لهم من قرة أعين جزاء بما كانوا يعملون ))&lt;br /&gt;“Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam keni’matan) yang menyejukkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. As Sajdah:17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Allah Azza Wa Jalla berfirman:&lt;br /&gt;(( أعددت لعبادي الصالحين ما لا عين رأت ولا أذن سمعت ولا خطر على قلب بشر ))&lt;br /&gt;“ِAku persiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang sholih keni’matan (disurga) yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pula terdengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dihati manusia.” (HR Bukhori:3244, Muslim:2824). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah, kerikil, batu bata di Surga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( لبنة ذهب ولبنة فضة وملاطها المسك وحصباؤها اللؤلؤ والياقوت وترابها الزعفران ))&lt;br /&gt;“Batu bata (di surga) dari emas dan batu bata dari perak,  lumpur (untuk mengecat) dindingnya terbuat dari minyak kesturi, kerikilnya terbuat dari mutiara dan intan, tanahnya terbuat dari minyak za’faron.” (HR. Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah dan istana di Surga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( دخلت الجنة فإذا أنا بقصر من ذهب ))&lt;br /&gt;“Aku masuk surga, tiba-tiba aku melihat istana yang terbuat dari emas.” (HR. Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( من قرأ قل هو الله أحد حتى يختمها عشر مرات بنى الله له قصرا في الجنة. قال عمر: إذن تكثر قصورنا يا رسول الله. فقال: الله أكثر وأطيب ))&lt;br /&gt;“Barangsiapa membaca Qul Huwallahu Ahad (Surat Al Ikhlash) dan menghatamkannya sepuluh kali, maka Allah akan membangunkan baginya istana di surga. Umar berkata: Kalau begitu istana kita banyak Ya Rosulallah. Beliau bersabda: Apa-apa yang disisi Allah lebih banyak dan lebih baik.” (HR. Ahmad:4/103).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman dan pepohonan di Surga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( وأصحاب اليمين ما أصحاب اليمين، في سدر مخضود، وطلح منضود، وظل ممدود ))&lt;br /&gt;“Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. (Mereka) berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas.” (QS. Al Waqi’ah:27-30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( إن في الجنة لشجرة يسير الراكب في ظلها مائة عام لا يقطعها ))&lt;br /&gt;“Sesungguhnya di dalam surga terdapat pohon, apabila seseorang yang berkendaraan lewat dibawah naungannya selama seratus tahun, ia tidak dapat menempuhnya.” (HR. Bukhori&amp;Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( ما في الجنة شجرة إلا وساقها من ذهب ))&lt;br /&gt;“Tidak ada pohon di surga melainkan tangkainya terbuat dari emas.” (QS. HR. Tirmidzi:2525).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah-buahan di Surga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( وفاكهة كثيرة، لا مقطوعة ولا ممنوعة ))&lt;br /&gt;“Dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya.” (QS. Al Waqi’ah:32-33).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( قطوفها دانية ))&lt;br /&gt;“Buah-buahannya dekat.” (QS. Al Haqqoh:23).&lt;br /&gt;Ibnu Abbas rodhiyallahu anhuma berkata: “Apabila penghuni surga ingin mengambil buah-buahan surga, maka buah tersebut turun mendekat sehingga diapun mengambil apa saja yang ia suka.” Baro’ bin Azib rodhiyallahu anhuma berkata: “Mereka memetik buah dengan tidur.”  (Hadil Arwah karya Ibnul Qoyyim:230-231).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( إنه عرضت علي الجنة وما فيها من الزهرة والنضرة، فتناولت منها قطفا من عنب لآتيكم به، فحيل بيني وبينه، ولو أتيتكم به لأكل منه من بين السماء والأرض لا ينقصونه ))&lt;br /&gt;“Sesungguhnya pernah dinampakkan surga kepadaku, akupun melihat keindahan dan keelokan di dalamnya, lalu aku mengulurkan tanganku untuk memetik setangkai buah anggur agar aku dapat membawanya ke hadapan kalian, namun ada sesuatu yang menghalangiku darinya, kalau seandainya aku dapat membawanya kepada kalian niscaya buah tersebut cukup dimakan semua yang ada di antara langit dan bumi, serta tidak kurang.” (HR. Ahmad:352-353) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai-sungai di Surga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( مثل الجنة التي وعد المتقون فيها أنهار من ماء غير آسن وأنهار من لبن لم يتغير طعمه وأنهار من خمر لذة للشاربين وأنهار من عسل مصفى ولهم فيها من كل ثمرات من ربهم ))&lt;br /&gt;“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa, di dalamnya terdapat sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khomr yang lezat bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring, dan mereka mendapatkan di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka.” (QS. Muhammad:15).&lt;br /&gt;Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata: “Sungai-sungai tersebut mengalir di bawah kamar-kamar mereka, istana-istana mereka dan kebun-kebun mereka.” (Hadil Arwah:236).&lt;br /&gt; Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( الكوثر نهر في الجنة حافتاه من ذهب، ومجراه على الدر والياقوت، تربته أطيب من المسك، وماؤه أحلى من العسل وأبيض من الثلج  ))&lt;br /&gt;“Al Kautsar adalah sungai di surga kedua tepinya tebuat dari emas, alirannya diatas mutiara dan permata Yaqut, tanahnya lebih harum dari minyak kesturi, airnya lebih manis daripada madu dan lebih putih daripada salju.” (HR. Tirmidzi:3361).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan dan minuman Surga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( مثل الجنة التي وعد المتقون تجري من تحتها الأنهار أكلها دائم وظلها ))&lt;br /&gt;“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa mengalir sungai-sungai di dalamnya, buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula).” (QS. Ar Ro’d:35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( وأمددناكم بفاكهة ولحم مما يشتهون ))&lt;br /&gt;“Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini.” (QS Ath Thuur:22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( يأكل أهل الجنة ويشربون ولا يمتخطون ولا يغوطون ولا يبولون، طعامهم جشاء كريح المسك ))&lt;br /&gt;“Penghuni surga makan dan minum namun tidak mengeluarkan ingus dan tidak mengeluarkan kotoran besar dan tidak pula kencing, makanan mereka menjadi sendawa (dan keringat) baunya seperti bau minyak kesturi.” (HR. Muslim:2835).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baju penghuni Surga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( إن المتقين في مقام أمين، في جنات وعيون، يلبسون من سندس وإستبرق متقابلين ))&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, di dalam taman-taman dan mata air-mata air, mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan.” (HR. Ad Dukhon: 51-53).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( إن الذين آمنوا وعملوا الصالحات إنا لا نضيع أجر من أحسن عملا، أولئك لهم جنات عدن تجري من تحتهم الأنهار يحلون فيها من أساور من ذهب ويلبسون ثيابا خضرا من سندس وإستبرق متكئين فيها على الأرائك نعم الثواب وحسنت مرتفقا ))&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholih, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalnya dengan baik. Mereka itu memperoleh surga Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya, dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang  emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar diatas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya dan tempat istirahat yang indah.” (QS. Al Kahfi:30-31).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( من لبس الحرير في الدنيا لم يلبسه في الآخرة ))&lt;br /&gt;“Siapa yang memakai sutera di dunia, maka dia tidak memakainya di akhirat.” (HR. Bukhori:5832,Muslim:2073).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri-istri (bidadari) di Surga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidadari istri-istri penghuni Surga sangat cantik dan jelita ibarat bulan purnama, wajah mereka indah mempesona, mereka suci dan tidak pernah di sentuh oleh jin ataupun manusia, Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( ولهم فيها أزواج مطهرة وهم فيها خالدون ))&lt;br /&gt;“Dan untuk mereka ada istri istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al Baqarah:25).&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas rodhiyallahu anhuma berkata: “(Istri-istri surga) mereka tidak haid, tidak mengeluarkan berhadats (kencing dan buang kotoran besar) dan tidak pula mengeluarkan ingus.” Mujahid rohimahullah berkata: “Mereka tidak kencing dan tidak mengeluarkan kotoran besar, tidak mengeluarkan madhi dan mani, tidak haid, tidak meludah, tidak mengeluarkan ingus dan tidak pula melahirkan.” (Hadil Arwah:284).&lt;br /&gt;Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( ولو اطلعت امرأة من نساء الجنة إلى الأرض لملأت بينهما ريحا ولأضاءت ما بينهما ))&lt;br /&gt;“Kalau seandainya wanita surga melongok ke bumi, niscaya antara langit dan bumi penuh dengan bau harum dan bersinar.” (HR. Ahmad:3/264).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang beriman di dalam surga bersenang-senang dengan istri-istri mereka, Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( إن أصحاب الجنة اليوم في شغل فاكهون، هم وأزواجهم على الأرائك متكئون ))&lt;br /&gt;“Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan, mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.” (QS. Yasin:55-56).&lt;br /&gt;Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhuma berkata: “Mereka sibuk memecahkan keperawanan bidadari.” Muqotil berkata: “Mereka sibuk memecahkan keperawanan bidadari sampai lupa dengan penghuni neraka, sehingga mereka tidak ingat dan tidak memperhatikan mereka (penghuni neraka). (Hadil Arwah:310).&lt;br /&gt;Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Penghuni surga di beri kekuatan seratus orang.” (HR. Tirmidzi:2536).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghuni Surga dikumpulkan bersama keluarga mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pertemuan pasti ada perpisahan dan setiap perkumpulan pasti ada permasalahan. Akan tetapi pertemuan dan perkumpulan di surga tiada lagi perpisahan dan tiada pula permasalahan. Wahai alangkah indahnya pertemuan dan perkumpulan itu, yaitu di saat Allah Ta'ala menyatukan orang-orang yang beriman pada hari kiamat dengan keluarganya. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء ))&lt;br /&gt;"Dan orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada sedikitpun mengurangi pahala amal mereka." (QS. Ath Thur:21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghuni Surga diantara mereka saling mengingat amalan yang mereka  kerjakan di dunia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( وأقبل بعضهم على بعض يتساءلون ، قالوا إنا كنا قبل في أهلنا مشفقين ، فمنّ الله علينا ووقانا عذاب السموم ، إنا كنا من قبل ندعوه إنه هو البر الرحيم ))&lt;br /&gt;"Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling bertanya. Mereka berkata: "Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diadzab). Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dialah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Mulia." (QS. Ath Thuur:28).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghuni Surga melihat Wajah Allah di Surga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat Wajah Allah di surga adalah keni’matan yang paling besar. Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( للذين أحسنوا الحسنى وزيادة ولا يرهق وجوههم قتر ولا ذلة أولئك أصحاب الجنة هم فيها خالدون ))&lt;br /&gt;"Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahan (melihat Wajah Allah). Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak pula kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya." (QS. Yunus:26).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( وجوه يومئذ ناضرة ، إلى ربها ناظرة ))&lt;br /&gt;"Wajah-wajah (orang mu'min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat." (QS. Al Qiyamah:20-21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, Allah Azza Wa Jalla berfirman (kepada mereka): Apakah kalian menginginkan tambahan? Mereka berkata: Bukankah Engkau telah membuat putih wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka? Kemudian Allah menyingkap tabir, maka mereka tidak mendapat keni'matan yang lebih mereka cintai dari melihat Wajah Tuhan mereka Azza Wa Jalla." (HR. Muslim:181).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian disembelih di antara Surga dan Nereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Di datangkan kematian seakan-akan ia adalah seekor domba, lalu di berhentikan di antara surga dan neraka, dikatakan kepada penghuni surga: Wahai penghuni surga tahukah kalian ini? Merekapun berkumpul, melihat dan berkata: Ya ini adalah kematian. Kemudian dikatakan kepada penghuni neraka: Wahai penghuni neraka tahukah kalian ini? Merekapun berkumpul, melihat dan berkata: Ya ini adalah kematian. Kemudian diperintahkan kepada kematian lalu iapun disembelih. Kemudian dikatakan: Wahai penghuni surga kekal dan tidak ada lagi kematian, wahai penghuni neraka kekal dan tidak ada lagi kematian." (Muttafaqun Alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Saudaraku! Ingatlah kebahagiaan dunia hanyalah sementara, sedangkan kebahagiaan akhirat kekal selama-lamanya. Orang-orang yang cerdik mereka menyiapkan masa depannya yang abadi, adapun orang-orang yang dungu mereka silau dan tertipu dengan gemerlapnya keni'matan duniawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah tunjukkan kami selalu kepada jalan-Mu yang lurus, yaitu jalan yang mengantarkan kami kepada surga-Mu. Amin Ya Robbal A'lamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Jamil bin Alim bin Hamid.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5587366944880896836-141066186702883388?l=pengajianbahrain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/141066186702883388/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5587366944880896836&amp;postID=141066186702883388' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/141066186702883388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/141066186702883388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/2008/03/tamasya-ke-taman-syurga.html' title='TAMASYA KE TAMAN SYURGA'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836.post-3586873358301950611</id><published>2008-03-06T10:53:00.000-08:00</published><updated>2008-03-06T10:55:11.341-08:00</updated><title type='text'>SYARAT LAA ILAHA ILLALLOH</title><content type='html'>Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.&lt;br /&gt;الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد:  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini kami hadirkan ke hadapan rekan-rekan sekalian ringkasan Pengajian Bahrain, jumat 28 Desember 2007, dengan judul “Syarat-syarat “Syahadat La ilaha illallah”. Sebagaimana kita telah mempelajari "la ilaha illallah", kami berdoa kepada Allah Yang Maha Pemurah agar meneguhkan kita diatas tauhid “la ilaha illallah” dan mengakhiri kehidupan kita dari dunia yang fana ini dengan mengucapkan kalimat “la ilaha illallah”. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Allah merohmatimu- bahwasanya "la ilaha illallah" adalah kalimat yang sangat agung, yang karenanya Allah menciptakan alam dan seisinya. "La ilaha illallah" adalah kalimat yang karenanya Allah mengutus para Rosul dan menurunkan Al Kitab. Tidaklah Allah memerintahkan sebuah perintah dan melarang sebuah larangan melainkan hanya karena "la ilaha illallah". Allah menciptakan surga karena "la ilaha illallah" dan menciptakan neraka karena "la ilaha illallah", surga diciptakan karena ia tempat kembali orang-orang yang bertauhid "la ilaha illallah", dan begitu pula  neraka diciptakan karena ia tempat kembali para penentang "la ilaha illallah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"La ilaha illallah" adalah kalimat yang sangat mulia yang memiliki keistimewaan yang begitu banyak, diantranya adalah sebagai berikut:  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Orang-orang yang bertauhid la ilaha illallah mereka adalah manusia yang paling berbahagia dengan syafa'at Nabi Muhammad shallallahu alihi wasallam di hari kiamat. Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu berkata : Saya bertanya : Ya Rasulullah siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafaatmu pada hari kiamat? Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"لقد ظننت يا أبا هريرة أن لا يسألني عن هذا الحديث أحد أول منك لما رأيت من حرصك على الحديث، أسعد الناس بشفاعتي يوم القيامة من قال : لا إله إلا الله خالصا من قلبه أو من نفسه"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sungguh aku mengira tidak ada seorangpun yang bertanya tentang hadits ini sebelum kamu, karena aku melihat kesungguhanmu dalam mempelajari hadits. Manusia yang paling berbahagia dengan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau dari jiwanya. ( HR. Bukhori 1/99 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Siapa yang mengucapkan la ilaha illallah dengan benar (yakin, ikhlash, paham maknanya dan konsekuensinya) maka Allah akan menyelamatkannya dari siksa neraka. Dari Umar rodhiyallahu anhu ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"إني لأعلم كلمة لا يقولها عبد حقا من قلبه فيموت على ذلك إلا حرم على النار : لا إله إلا الله "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sungguh aku akan mengajarkan sebuah kalimat, tidaklah seorang hamba mengucapkannya dengan benar dari hatinya, lalu ia mati diatas keyakinan itu, kecuali (Allah) mengharamkan tubuhnya dari api neraka. Yaitu kalimat la ilaha illallah. ( HR. Hakim, lihat Shohih Targhib wa Tarhib : 1528)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Barangsiapa yang di akhir hayatnya sebelum dia meninggalkan dunia yang fana ini mengucapkan la ilaha illallah, Allah akan menjaminnya masuk surga. Dari Mu’adz bin Jabal y dari Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa diakhir hayatnya mengucapkan la ilaha illallah, maka dia pasti masuk syurga. (HR. Abu Dawud, lihat Shohihul Jami’ : 6479)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Allah Azza Wa Jalla meneguhkan orang-orang yang memurnikan tauhid dengan kalimat tauhid la ilaha illallah di dunia, di dalam kubur dan di akhirat. Dari Baro’ bin ‘Azib rodhiyallahu anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"المسلم إذا سئل في القبر يشهد أن لا إله إلا الله  و أن محمدا رسول الله  فذلك قوله : يثبت الله الذين آمنوا بالقول الثابت في الحياة الدنيا وفي الآخرة"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Seorang muslim apabila ditanya didalam kubur, kemudian dia bersaksi sesungguhnya tiada tuhan yang haq selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, itulah makna firman Allah : (Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat) (QS. Ibrohim : 27) ( HR. Bukhori 5/4699  )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ketahuilah wahai saudaraku -semoga Allah merohmatimu dan menujukkanmu ke jalan yang lurus- sesungguhnya orang-orang yang bersyahadat "la ilaha illallah" sekali-kali tidak akan diterima disisi Allah dan tidak pula bermanfaat baginya kecuali apabila dia memenuhi syarat-syarat "la ilaha illallah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat-syarat Laa ilaaha illallah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dinukil dari Mathwiyat Makna Syahadatain yang diterbitkan oleh Al Maktab At Ta’awuni lida’watil Jaliyat Robwah-Saudi, yang diterjemahkan oleh: Abdullah Haidir, dengan tambahan dan penyesuaian.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama menyatakan bahwa ada tujuh syarat bagi kalimat “la ilaha illallah”. Kalimat tersebut tidak sah selama ketujuh syarat tersebut tidak terkumpul dan sempurna dalam diri seseorang, begitu pula harus disertai  mengamalkan segala apa yang terkandung didalamnya dan tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengannya. Yang dimaksud bukan sekedar menghitung lafaz-lafaznya dan menghafalnya; sebab betapa banyak orang yang hafal kalimat “la ilaha illallah” akan tetapi ia keluar bagaikan anak panah yang melesat dari busurnya (keluar dari Islam), sehingga anda akan lihat dia banyak melakukan banyak perbuatan yang bertentangan (bahkan merusak “la ilaha illallah” sedang dia tidak menyadarinya). Berikut ini syarat-syaratnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Ilmu yang tidak dicampuri dengan kebodohan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud adalah memiliki ilmu tentang maknanya kalimat “laa ilaha illallah” baik dalam hal nafy (peniadaan) maupun itsbat (penetapan) dan segala amal yang dituntut darinya (memahami konsekuensinya). Jika seorang hamba mengetahui bahwa Allah Ta'ala adalah semata-mata yang disembah dengan benar dan bahwa penyembahan kepada selainnya adalah bathil, kemudian dia mengamalkan sesuai dengan ilmunya tersebut. Lawan dari mengetahui adalah bodoh, yaitu dia tidak mengetahui wajibnya mengesakan Allah dalam ibadah, bahkan dia menilai bolehnya beribadah kepada selain Allah disamping beribadah kepada-Nya, Allah Ta'ala juga berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُوْن"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafaat ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya)”      (QS. Az Zukhruf:86). Maksudnya adalah: Siapa yang bersaksi sedangkan hati mereka mengetahui apa yang diucapkan lisan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempelajari makna “la ilaha illallah” adalah kewajiban yang paling pertama dan paling utama, karena bagaimana mungkin seseorang mengucapkan “la ilaha illallah” sedangkan ia tidak memahami maknanya, Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( فاعلم أنه لا إله إلا الله ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada sesembahan (yang haq) selain Allah." (QS. Muhammad 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah I menggabungkan lafadz ilmu dengan kalimat “la ilaha illallah”, hal ini menunjukkan bahwasanya ilmu yang pertama dan paling utama untuk dipelajari adalah ilmu tentang “la ilaha illallah”. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rohimahullah berkata : “Ilmu yang Allah perintahkan untuk mempelajarinya adalah ilmu tentang mentauhidkan Allah. Maka wajib bagi setiap manusia untuk mempelajarinya, dan tidak ada seorangpun yang gugur dari kewajiban ini siapapun juga orangnya. Mereka semuanya wajib mempelajari (ilmu tentang) la ilaha illallah. ( Taisir Karimir Rohman : 5/39 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna “la ilaha illallah” adalah tiada Tuhan yang disembah dengan benar selain Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kalau anda mengartikan “la ilaha illallah” dengan "tiada tuhan yang disembah selain Allah", ini adalah artian yang batil karena tuhan yang disembah selain Allah banyak, namun hanya Allah Tuhan yang disembah dengan benar, sedangkan tuhan selain Allah, mereka memang disembah akan tetapi disembah dengan batil. Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( ذلك بأن الله هو الحق وأن ما يدعون من دونه هو الباطل وأن الله هو العلي الكبير ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) yang Haq dan sesungguhnya apa yang mereka seru selain Allah, adalah (tuhan) yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar." (QS. Al Hajj 62).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula kalau anda mengartikan “la ilaha illallah” dengan “tiada Pencipta selain Allah”, ini juga artian yang batil; karena seluruh manusia baik yang beriman ataupun yang kafir meyakini akidah ini, bahkan orang-orang musyrikin Quraisy ketika ditanya: Siapakah yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki? Mereka semua menjawab: Yang mampu melakukan hal itu hanyalah Allah. Namun ketika mereka diajak oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam untuk mengucapkan “la ilaha illallah” yaitu memurnikan segala jenis dan bentuk peribadatan hanya kepada Allah; merekapun mengingkari dan memusuhi beliau shallallahu alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian setelah kita mengetahui arti makna “la ilaha illallah”, kita harus mengetahui pula konsekuensi dari “la ilaha illallah”; Yaitu janganlah kita beribadah melainkan hanya kepada Allah, janganlah berdoa meminta pertolongan kepada patung, jangan pula meminta pertolongan kepada berdoa kepada para Wali yang telah mati, bahkan jangan meminta pertolongan kepada para Nabi, akan tetapi berdoalah dan mintalah pertolongan hanya kepada Allah. Janganlah kita  bertawakkal melainkan hanya kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah berserah diri diri kepada jin ataupun kepada tukang sihir dan jangan pula berserah diri kepada ramalan bintang! Namun berserahlah diri hanya kepada Allah. Janganlah bersyukur terhadap keni’matan yang dierikan kepadamu melainkan hanya kepada Allah; janganlah bersyukur kepada para imam yang telah mati, namun bersyukurlah hanya kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Yakin yang tidak dicampuri dengan keraguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu seseorang mengucapkan syahadat dengan keyakinan sehingga hatinya tenang dengannya, tanpa sedikitpun pengaruh keraguan yang dibisikkan oleh syetan-syetan jin dan manusia, bahkan dia mengucapkannya dengan penuh keyakinan atas kandungan yang ada didalamnya. Siapa yang mengucapkan “la ilaha illallah” maka wajib baginya meyakininya didalam hati dan mempercayai kebenaran apa yang diucapkannya yaitu adanya hak ketuhanan hanya dimiliki Allah Ta'ala dan tidak adanya sifat ketuhanan kepada segala sesuatu dari selain-Nya. Juga berkeyakinan bahwa kepada selain Allah tidak boleh diarahkan kepadanya ibadah dan penghambaan. Jika dia ragu terhadap syahadatnya atau tidak mengakui bathilnya sifat ketuhanan selain Allah Ta'ala, misalnya dengan mengucapkan: “Saya meyakini akan ketuhanan Allah Ta'ala akan tetapi saya ragu akan bathilnya ketuhanan selain-Nya”, maka batallah syahadatnya dan tidak bermanfaat baginya. Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"إِنَّمَا اْلمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ آمَنُوا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu ”.  (QS. Al Hujurat:15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hendaklah kita yakin bahwasanya Tuhan yang disembah dengan benar hanya Allah, adapun selain Allah adalah tuhan-tuhan yang batil. Dan janganlah kita ragu-ragu akan hal ini, karena ragu-ragu dalam masalah ini adalah sifat orang-orang munafikin, Allah Ta’la berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"مذبذبين بين ذلك لا إلى هؤلاء ولا إلى هؤلاء، ومن يضلل الله  فلن تجد له سبيلا"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka (orang-orang munafik) dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir); tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak pula kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barang siapa yang disesatkan Allah, maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (QS. An Nisa’:143).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menerima yang tidak dicampuri dengan penolakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya adalah menerima semua ajaran yang terdapat dalam kalimat tersebut dalam hatinya dan lisannya. Dia membenarkan dan beriman atas semua berita dan apa yang disampaikan Allah dan Rasul-Nya, tidak ada sedikitpun yang ditolaknya dan tidak berani memberikan penafsiran yang keliru atau perubahan atas nash-nash yang ada sebagaimana hal tersebut dilarang Allah Ta'ala. Dia berfirman:&lt;br /&gt;"قُوْلُوا آمَنَّا بِاللهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah, kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami”. (QS. Al Baqarah:136)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lawan dari menerima adalah menolak. Ada sebagian orang yang mengetahui makna syahadatain dan yakin akan kandungan yang ada didalamnya akan tetapi dia menolaknya karena kesombongannya dan kedengkiannya. Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"فَإِنَّهُمْ لاَ يُكَذِّبُوْنَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِيْنَ بِأَيَاتِ اللهِ يَجْحَدُوْنَ"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah”    (QS. Al An’am:33).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosulullah shallallahu alaihi wasallam ketika berdakwah kepada orang-orang musyrikin Quraisy untuk mengucapkan kalimat “la ilaha illallah” yaitu dengan memurnikan segala bentuk dan jenis peribadatan hanya kepada Allah; mereka menolaknya dengan sombong. Allah Ta’ala mengkisahkan penolakan mereka dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"إنهم كانوا إذا قيل لهم لا إله إلا الله يستكبرون، ويقولون أئِنا لتاركوا آلهتنا لشاعر مجنون، بل جاء بالحق وصدّق المرسلين"  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyom    kan diri. Dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair yang gila? Sebenarnya dia Muhammad) telah datang membaa kebenaran dan membenarkan rosul-rosul (sebelumnya). (QS. Ash Shoffat: 35-37).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk penolakan adalah perkataan manusia hari ini, ketika dikatakan kepada mereka: “Janganlah berdoa kepada para imam yang telah mati, seperti doa: (Ya Ali tolonglah kami), (Ya Husain tolonglah kami), (Ya Fatimah mudahkan urusan kami) dll, karena ini semua adalah doa-doa syirik yang merusak Tauhid “la ilaha illallah”, . Mereka berkata: “Ini adalah madzhab kami dan keyakinan kami”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kami katakan: “Inna lillahi wa inna ilaihi riji’un, apakah madzhab dan keyakinan mereka didasari dengan syirik meyekutukan Allah Ta’ala”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk dikatakan menolak, jika seseorang menentang atau benci dengan  sebagian hukum-hukum Syari’at atau hudud (hukum pidana Islam). Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;"يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya”. (QS. Al Baqarah:208)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tunduk yang tidak dicampuri dengan pengingkaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimasud adalah tunduk atas apa yang diajarkan dalam kalimat Ikhlas, yaitu dengan menyerahkan dan merendahkan diri serta tidak membantah terhadap hukum-hukum Allah. Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"وَأَنِيْبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya”.  (QS. Az Zumar:54).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk juga tunduk terhadap apa yang dibawa Rasulullah sollallohu ‘alihi wa salam dengan diiringi sikap ridho dan mengamalkannya tanpa bantahan serta tidak menambah atau mengurangi. Jika seseorang telah mengetahui makna “la ilaha lllallah” dan yakin serta menerimanya, akan tetapi dia tidak tunduk dan menyerahkan diri dalam melaksanakan kandungannya maka semua itu tidak memberinya manfaat. Termasuk dikatakan tidak tunduk juga adalah tidak menjadikan syariat Allah sebagai sumber hukum dan menggantinya dengan undang-undang buatan manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jujur yang tidak dicampuri dengan kedustaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya  jujur dengan keimanannya dan aqidahnya, selama itu terwujud maka dia dikatakan orang yang membenarkan terhadap kitab Allah Ta'ala dan sunnahnya, Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُوْن"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafaat ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya)”      (QS. Az Zukhruf:86). Maksudnya adalah: Siapa yang bersaksi sedangkan hati mereka mengetahui apa yang diucapkan lisan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lawan dari jujur adalah dusta, jika seorang hamba berdusta dalam keimanannya, maka seseorang tidak dianggap beriman bahkan dia dikatakan munafiq walaupun mengucapkan syahadat dengan lisannya, maka syahadat tersebut baginya tidak menyelamatkannya, Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ومن الناس من يقول آمنا بالله واليوم الآخر وما هم بمؤمنين، يخادعون الله والذين آمنوا وما يخدعون إلا أنفسهم وما يشعرون، في قلوبهم مرض فزادهم الله مرضا ولهم عذاب أليم بما كانوا يكذبون"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan diantara manusia ada yang mengatakan: Kami beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya; dan bagi mereka adzab yang pedih disebabkan mereka berdusta.” (QS. Al Baqarah:8-10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk yang menghilangkan sahnya syahadat adalah mendustakan apa yang dibawa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam atau mendustakan sebagian yang dibawanya, karena Allah Ta'ala telah memerintahkan kita untuk ta’at kepadanya dan membenarkannya dan mengaitkannya dengan ketaatan kepada-Nya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Ikhlas yang tidak dicampuri dengan kesyirikan dan riya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya adalah mensucikan setiap amal perbuatan dengan niat yang murni dari kotoran-kotoran syirik, yang demikian itu terwujud dari apa yang tampak dalam perkataan dan perbuatan yang semata-mata karena Allah Ta'ala dan karena mencari ridho-Nya. Tidak ada didalamnya kotoran riya’ dan ingin dikenal, atau tujuan duniawi dan pribadi, atau juga melakukan sesuatu karena kecintaannya terhadap seseorang atau golongannya atau partainya dimana dia menyerahkan dirinya kepada hal-hal tersebut tanpa petunjuk Allah Ta'ala, Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"ألاَ لِلَّهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُ" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)”. (QS. Az Zumar:3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus” . (QS. Al Bayinah:5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lawan dari ikhlas adalah Syirik dan riya’, yaitu mencari keridhoan selain Allah Ta'ala. Jika seseorang telah kehilangan dasar keikhlasannya, maka syahadat tidak bermanfaat baginya. Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْناَهاَ هَبَاءً مَنْثُوراً"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan”    (QS. Al Furqon:23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dengan demikian tidak ada manfaat baginya semua amalnya karena dia telah kehilangan landasannya.  Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءَ  وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ افْتَرَى إِثْما عَظِيْماً"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sengguh ia telah berbuat dosa yang besar”.  (QS. An Nisa:48).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Cinta yang tidak dicampuri dengan kebencian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu mencintai kalimat yang agung ini serta semua ajaran dan konsekwensi yang terkandung didalamnya maka dia mencintai Allah dan Rasul-Nya dan mendahulukan kecintaan kepada keduanya atas semua kecintaan kepada yang lainnya serta melakukan semua syarat-syaratnya dan konsekwensinya. Cinta terhadap Allah adalah rasa cinta yang diiringi dengan rasa pengangungan dan rasa takut dan pengharapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk cinta kepada Allah adalah mendahulukan apa yang Allah cintai atas apa yang dicintai hawa nafsu dan segala tuntutannya, termasuk juga rasa cinta adalah membenci apa yang Allah benci, maka dirinya membenci orang-orang kafir serta memusuhi mereka. Dia juga membenci kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk tanda cinta adalah tunduk terhadap syariat Allah dan mengikuti ajaran nabi Muhammad dalam setiap urusan. Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهَ وَيَغْفِرْلَكُمْ  ذُنُوْبَكُمْ"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali Imran:30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lawan dari cinta adalah benci. Yaitu membenci kalimat ini dan semua ajaran yang terkandung didalamnya atau mencinta sesuatu yang disembah selain Allah bersama kecintaannya terhadap Allah. Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amala mereka”. (QS. Muhammad:9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk yang menghilangkan sifat cinta adalah membenci Rasulullah sollallohu ‘alihi wa salam dan mencintai musuh-musuh Allah serta membenci wali-wali Allah dari golongan orang yang beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami memohon kepada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang untuk selalu memperbaiki keimanan dan keislaman kita dan mudah-mudahan Allah selalu menunjukkan kita kepada jalan yang lurus sampai kita berjumpa dengan-Nya. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis hamba Allah yang faqir kepada ampunan-Nya: Ahmad Jamil bi Alim bin Hamid.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5587366944880896836-3586873358301950611?l=pengajianbahrain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/3586873358301950611/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5587366944880896836&amp;postID=3586873358301950611' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/3586873358301950611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/3586873358301950611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/2008/03/syarat-laa-ilaha-illalloh.html' title='SYARAT LAA ILAHA ILLALLOH'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836.post-4694989494091790922</id><published>2008-03-06T10:51:00.000-08:00</published><updated>2008-03-06T10:53:06.748-08:00</updated><title type='text'>PERAYAAN TAHUN BARU ITU SYIAR KAUM KUFFÂR</title><content type='html'>Oleh : Muhammad Abū Salmâ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tet Tet Tet”, saya mendengar bising suara anak-anak kecil meniup terompet. Bising sekali. Di pinggiran jalan, berjejer panjang para penjual terompet dengan berbagai aksesorisnya mengais rezeki. Saya teringat, ohya… beberapa hari lagi akan masuk pergantian tahun. Subhânallôh, di mana-mana masyarakat tampaknya sedang sibuk mempersiapkan perayaan tahun baru. Mulai dari spanduk, baleho, umbul-umbul, aksesoris dan lainnya. Di perempatan lampu merah, mata saya tertarik dengan sebuah spanduk bertuliskan, ”Muhasabah Akhir Tahun &amp; Istighotsah” bersama ”Gus…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, penyelenggara acara tersebut berfikir, daripada kaum muslimin berhura-hura pada saat pergantian akhir tahun, lebih baik membuat acara yang Islâmî sebagai alternatif daripada acara hura-hura. Tapi, apa benar bahwa perayaan Tahun baru itu merupakan syiarnya kaum kuffâr?!! Masak hanya merayakan perayaan dan peringatan seperti ini saja dikatakan syiarnya kaum kuffâr?!! Mungkin, demikian pertanyaan yang muncul dari benar para pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, peringatan tahun baru (New Year Anniversary) itu merupakan syiar kaum kuffâr. Karena, tidaklah peringatan ini dirayakan, melainkan ia satu paket dengan peringatan natal (christmas). Kita sering lihat dan mendengar, bahwa tahni`ah (ucapan selamat) kaum Nasrani adalah : “Marry Christmas and Happy New Year”, “Selamat Natal dan Tahun Baru”. Namun, tunggu dulu. Tidak itu saja… Ternyata kaum pagan Persia yang beragama Majūsî (penyembah api), menjadikan tanggal 1 Januari sebagai hari raya mereka yang dikenal dengan hari Nairuz atau Nurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab mereka menjadikan hari tersebut sebagai hari raya adalah, ketika Raja mereka, ‘Tumarat’ wafat, ia digantikan oleh seorang yang bernama ‘Jamsyad’, yang ketika dia naik tahta ia merubah namanya menjadi ‘Nairuz’ pada awal tahun. ‘Nairuz’ sendiri berarti tahun baru. Kaum Majūsî juga meyakini, bahwa pada tahun baru itulah, Tuhan menciptakan cahaya sehingga memiliki kedudukan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah perayaan mereka ini direkam dan diceritakan oleh al-Imâm an-Nawawî dalam buku Nihâyatul ‘Arob dan al-Muqrizî dalam al-Khuthoth wats Tsâr. Di dalam perayaan itu, kaum Majūsî menyalakan api dan mengagungkannya –karena mereka adalah penyembah api. Kemudian orang-orang berkumpul di jalan-jalan, halaman dan pantai, mereka bercampur baur antara lelaki dan wanita, saling mengguyur sesama mereka dengan air dan khomr (minuman keras). Mereka berteriak-teriak dan menari-nari sepanjang malam. Orang-orang yang tidak turut serta merayakan hari Nairuz ini, mereka siram dengan air bercampur kotoran. Semuanya dirayakan dengan kefasikan dan kerusakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, sebagian kaum muslimin yang lemah iman dan ilmunya tidak mau kalah. Mereka bagaikan kaum Nabî Mūsâ dari Banî Isrâ`il yang setelah Allôh selamatkan dari pasukan Fir’aun dan berhasil melewati samudera yang terbelah, mereka berkata kepada Mūsâ ‘alaihis Salâm untuk membuatkan âlihah (sesembahan-sesembahan) selain Allôh, sehingga Mūsâ menjadi murka kepada mereka. Sebagian kaum muslimin di zaman ini turut merayakan perayaan tahun baru Masehi ini. Bahkan sebagian lagi, supaya tampak Islâmî merubah perayaan ini pada tahun baru Hijriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Muqrizî di dalam Khuthath-nya (I/490) menceritakan bahwa yang pertama kali mengadakan peringatan tahun baru Hijriah ini adalah para pendukung bid’ah dari penguasa zindîq, Daulah ‘Ubaidiyah Fâthimîyah di Mesir, daulah Syi`ah yang mencabik-cabik kekuasaan daulah ‘Abbâsiyah dengan pengkhianatan dan kelicikan. Dan sampai sekarang pun, anak cucu mereka masih gemar merayakan perayaan-perayaan bid’ah yang tidak pernah Allôh dan Rasūl-Nya tuntunkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta tahun baru sendiri, merupakan syiarnya kaum Yahūdî yang dijelaskan di dalam taurat mereka, yang mereka sebut dengan awal Hisya atau pesta awal bulan, yaitu hari pertama tasyrîn, yang mereka anggap sama dengan hari raya ‘Idul Adhhâ-nya kaum muslimin. Mereka mengklaim bahwa pada hari itu, Allôh memerintahkan Ibrâhîm untuk menyembelih Ishâq ‘alaihis Salâm yang lalu ditebus dengan seekor kambing yang gemuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ini adalah sebuah kedustaan yang besar yang diada-adakan oleh Yahūdî. Karena sebenarnya yang diperintahkan oleh Allôh untuk disembelih adalah Ismâ’îl bukan Ishâq ‘alaihimâs Salâm. Karena sejarah mencatat bahwa Ismâ’îl adalah lebih tua daripada Ishâq dan usia Ibrâhîm pada saat itu adalah 99 tahun. Mereka melakukan tahrîf (penyelewengan fakta) semisal ini disebabkan oleh kedengkian mereka. Karena mereka tahu bahwa Ismâ’îl adalah nenek moyang orang ‘Arab sedangkan Ishâq adalah nenek moyang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian datanglah kaum Nasrani mengikuti jejak orang-orang Yahūdî. Mereka berkumpul pada malam awal tahun Mîlâdîyah. Dalam perayaan ini mereka melakukan do`a dan upacara khusus dan begadang hingga tengah malam. Mereka habiskan malam mereka dengan menyanyi-nyanyi, menari-nari, makan-makan dan minum-minum sampai menjelang detik-detik akhir pukul 12 malam. Lampu-lampu dimatikan dan setiap orang memeluk orang yang ada di sampingnya, sekitar 5 menit. Semuanya sudah diatur, bahwa disamping pria haruslah wanita. Kadang-kadang mereka saling tidak mengenal dan setiap orang sudah tahu bahwa orang lain akan memeluknya ketika lampu dipadamkan. Mereka memadamkan lampu itu bukannya untuk menutupi aib, namun untuk menggambarkan akhir tahun mulainya tahun baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, perayaan ini telah menjadi suatu trend mark tersendiri. Muda, tua, pria, wanita, anak-anak, dewasa, muslim, kâfir, semuanya berkumpul untuk merayakan tahun baru. Segala bentuk acara untuk menyambut perayaan ini bermacam-macam. Ada yang sarat dengan kesyirikan, ada lagi yang sarat dengan kemaksiatan dan kefasikan, dan ada lagi yang sarat dengan kebid’ahan, dan ada pula yang sarat dengan kesemua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sarat dengan kesyirikan seperti, upacara penyambutan tahun baru yang kental diwarnai dengan klenik, perdukunan dan ilmu sihir. Segala paranormal berkumpul dan memberikan ramalan tentang awal tahun, baik dan buruknya. Sebagian lagi ada yang nyepi ke gunung-gunung atau tempat keramat untuk mencari ‘wangsit’ alias ilham dari setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi yang sarat dengan kemaksiatan dan kefasikan. Dan ini sangat banyak sekali dan mendominasi. Mulai dari pentas musik akhir tahun yang menghadirkan wanita-wanita telanjang tidak punya malu yang bergoyang-goyang dan menari-nari merusak moral, sampai acara minum-minuman keras, narkoba dan seks bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi yang mengisi kegiatan ini dengan bid’ah-bid’ah yang tidak pernah dituntunkan oleh Rasūlullâh dan tidak pula dikerjakan oleh generasi terbaik, para sahabat dan as-Salaf ash-Shâlih. Mereka melakukan sholât malam (Qiyâmul Layl) berjama’ah khusus pada malam tahun baru saja dan disertai niat pengkhususannya. Ada lagi yang melakukan Muhâsabah atau renungan suci akhir tahun, dengan membaca ayat-ayat al-Qur`ân sambil menangis-nangis. Ada lagi yang berdzikir berjamâ’ah bahkan sampai istighôtsah kubrô. Dan segala bentuk bid’ah-bid’ah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalîl-Dalîl Pengharamannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak dalîl-dalîl yang menjelaskan keharaman perayaan-perayaan yang merupakan syiar kaum kuffâr ini. Semuanya kembali kepada haramnya tasyabbuh ’alal Kuffâr (meniru kaum kuffâr) dan mengerjakan amalan yang tidak dituntunkan oleh Rasūlullâh dan para sahabatnya (bid’ah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islâm Ibnu Taimîyah rahimahullâh menulis sebuah kitâb khusus dan lengkap tentang larangan menyerupai kaum kuffâr, terutama yang berkaitan dengan hari-hari raya dan ritual ibadah mereka yang berjudul Iqtidhâ` ash-Shirâthal Mustaqîm li Mukhâlafati Ashhâbil Jahîm. Beliau menyebutkan dan memaparkan dalîl-dalîlnya dari al-Qur`ân lebih dari 30 ayat dan lebih dari 100 hadîts berserta wajhu dilâlah (sisi pendalilannya), termasuk juga ijma’ ulama, âtsâr dan i’tibâr-nya. Sampai-sampai al-Mufti, al-’Allâmah Muhammad bin Ibrâhîm Âlu Syaikh memujinya dan mengatakan, ”Betapa berharganya kitâb ini dan betapa besar faidahnya.” (Fatâwa wa Rosâ`il III/109).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islâm rahimahullâh berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;موافقة الكفار في أعيادهم لا تجوز من طريقين: الدليل العام، والأدلة الخاصة: أما الدليل العام: أن هذا موافقة لأهل الكتاب فيما ليس من ديننا، ولا عادة سلفنا، فيكون فيه مفسدة موافقتهم، وفي تركه مصلحة مخالفتهم، لما في مخالفتهم من المصلحة لنا، لقوله - صلى الله عليه وسلم -: (من تشبه بقوم فهو منهم) فإن موجب هذا تحريم التشبه بهم مطلقاً، وكذلك قوله (خالفوا المشركين) وأعيادهم من جنس أعمالهم التي هي دينهم أو شعار دينهم، الباطل.وأما الأدلة الخاصة في نفس أعياد الكفار، فالكتاب والسنة والإجماع والاعتبار دالة على تحريم موافقة الكفار في أعيادهم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Menyepakati kaum kuffâr di dalam perayaan-perayaan mereka tidak boleh hukumnya dengan dua argumentasi dalil, yaitu dalil umum dan dalil khusus. Dalil umumnya adalah, bahwa menyepakati ahli kitâb di dalam perkara yang tidak berasal dari agama kita dan tidak pula berasal dari kebiasaan salaf kita, maka di dalamnya terdapat kerusakan menyepakati mereka dan meninggalkannya terdapat maslahat menyelisihi mereka. Menyelisihi mereka ada maslahatnya bagi kita, sebagaimana sabda Nabî Shallâllâhu ’alaihi wa sallam : ”Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” Hadîts ini berkonsekuensi akan haramnya menyerupai kaum kuffâr secara mutlak. Demikian pula sabda Nabî, ”Selisihilah kaum musyrikîn”, sedangkan hari raya mereka termasuk jenis amal perbuatan berupa agama atau syiar agama mereka yang bâthil. Adapun dalîl-dalîl khusus tentang (haramnya menyepakati) perayaan kaum kuffâr ada di dalam al-Kitâb, as-Sunnah, al-Ijmâ’ dan al-I’tibar yang menunjukkan atas haramnya menyepakati kaum kuffâr di dalam berbagai perayaan mereka.” [Iqtidhâ` ash-Shirâthal Mustaqîm].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikarenakan banyaknya dalîl yang diuraikan oleh Syaikhul Islâm, maka saya akan meringkaskannya dan mencuplik sebagian saja. Berikut ini diantara dalîl-dalîl khusus akan haramnya menyepakati kaum kuffâr di dalam perayaan mereka :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allôh Azza wa Jalla berfirman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kepalsuan, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS al-Furqân : 72)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ } وقال أبو العالية، وطاوس، ومحمد بن سيرين، والضحاك، والربيع بن أنس، وغيرهم: هي أعياد المشركين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abūl ’Âliyah, Thôwus, Muhammad bin Sîrîn, adh-Dhohhâk, Rabî’ bin Anas dan selain mereka, mengatakan bahwa maksud Lâ yasyhadūna biz Zūr adalah (tidak menghadiri) perayaan kaum musyrikîn. [Lihat : Tafsîr Ibnu Katsîr VI/130; lihat pula Iqtidhâ` I/80]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وفي رواية عن ابن عباس – رضي الله عنهما - : أنه أعياد المشركين . وقال عكرمة – رحمه الله - : (لعب كان في الجاهلية يسمى بالزور )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut riwayat Ibnu ’Abbâs radhiyallâhu ’anhumâ bahwa yang dimaksud (az-Zūr) adalah perayaan kaum musyrikin. ’Ikrimah rahimahullâhu berkata : ”Permainan di masa jahiliyah disebut dengan az-Zūr.” [Lihat : al-Jâmi` li Ahkâmil Qur`ân karya Imâm al-Qurthubî XIII/79/80].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ayat di atas, Allôh menyatakan Lâ Yasyhadūna az-Zūr (tidak menyaksikan kepalsuan) bukan Lâ Yasyhadūna biz Zūr (tidak memberikan kesaksian palsu), hal ini menguatkan tafsîr para imâm dan ulama di atas. Oleh karena itulah Syaikhul Islâm menguatkan makna tafsîr di atas, beliau rahimahullâh berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والعرب تقول : (شهدت كذا : إذا حضرته) . كقول ابن عباس – رضي الله عنهما- : (( شهدت العيد مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Orang ’Arab mengatakan : Syahidtu kadzâ (aku menyaksikan begini) maksudnya bila aku menghadirinya. Sebagaimana perkataan Ibnu ’Abbâs radhiyallâhu ’anhu : ”Saya menghadiri ’îd bersama Rasūlullâh Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam.” [Lihat Iqtidhâ` I/429].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak ayat-ayat al-Qur`ân lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hadîts-hadîts yang melarang menyepakati perayaan kaum kuffâr banyak sekali. Diantaranya adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أنس بن مالك - رضي الله عنه – قال: قدم رسول الله - صلى الله عليه وسلم – المدينة، ولهم يومان يلعبون فيهما، فقال: ما هذان اليومان، قالوا: كنا نلعب فيهما في الجاهلية. فقال رسول الله - صلى الله عليه وسلم –: (إن الله قد أبدلكم بهما خيراً منهما، يوم الأضحى، ويوم الفطر)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas bin Mâlik radhiyallâhu ’anhu beliau berkata : Rasūlullâh Shallâllâhu ’alahi wa Sallam tiba di Madînah dan mereka memiliki dua hari yang mereka bermain-main di dalamnya. Lantas beliau bertanya, ”dua hari apa ini?”. Mereka menjawab, ”Hari dahulu kami bermain-main di masa jahiliyah.” Rasūlullâh Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam mengatakan : ”Sesungguhnya Allôh telah menggantikan kedua hari itu dengan dua hari yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari idul adhhâ dan idul fithri.” [Shahîh riwayat Imâm Ahmad, Abū Dâwud, an-Nasâ`î dan al-Hâkim.]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فوجه الدلالة أن اليومين الجاهليين لم يقرهما رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ولا تركهم يلعبون فيهما على العادة، بل قال إن الله قد أبدلكم بهما يومين آخرين، والإبدال من الشيء يقتضي ترك المبدل منه، إذ لا يجمع بين البدل والمبدل منه.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sisi pendalilan hadîts di atas adalah, bahwa dua hari raya jahiliyah tersebut tidak disetujui oleh Rasūlullâh Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam dan Rasūlullâh tidak meninggalkan (memperbolehkan) mereka bermain-main di dalamnya sebagaimana biasanya. Namun beliau menyatakan bahwa sesungguhnya Allôh telah mengganti kedua hari itu dengan dua hari raya lainnya. Penggantian suatu hal mengharuskan untuk meninggalkan sesuatu yang diganti, karena suatu yang mengganti dan yang diganti tidak akan bisa bersatu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali hadîts yang memerintahkan kita untuk menyelisihi kaum kuffâr, misalnya kita disuruh untuk menyemir rambut dalam rangka menyelisihi Yahūdi dan Nashrâni, Rasūlullâh Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنَّ اليهود والنصارى لا يصبغون فخالفوهم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sesungguhnya orang Yahūdi dan Nashrâni tidak menyemir rambut mereka, maka selisihilah mereka.” [Muttafaq ’alaihi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga diperintahkan untuk memelihara jenggot dan memotong kumis, diantara hikmahnya adalah untuk menyelisihi kaum musyrikin. Rasūlullâh Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خالفوا المشركين أحفوا الشوارب وأوفوا اللحى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Selisihilah orang musyrikin, potonglah kumis dan biarkan jenggot kalian.” [HR Muslim].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;جزوا الشوارب، وأرخوا اللحى، وخالفوا المجوس&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Guntinglah kumis, panjangkan jenggot dan selisihilah orang Majūsî.” [HR Muslim].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pun disyariatkan sholât dengan sandal dan khūf (alas kaki/sepatu) untuk menyelisihi orang Yahūdi. Rasūlullâh Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خالفوا اليهود فإنهم لا يصلون في نعالهم ولا خفافهم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Selisihilah Yahūdi karena mereka tidak sholât dengan sandal dan sepatu mereka.” [HR Abū Dâwud].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dianjurkannya bersahur pun, diantara hikmahnya adalah juga untuk menyelisihi Ahli Kitâb. Rasūlullâh Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فصل ما بين صيامنا وصيام أهل الكتاب أكلة السحر&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yang membedakan puasa kita dengan puasa ahli kitâb adalah, makan sahūr.” [HR Muslim].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan menyegerakan berbuka, juga dianjurkan untuk menyelisihi ahli Kitâb :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لا يزال الدين ظاهراً ما عجل الناس الفطر ؛ لأن اليهود والنصارى يؤخرون&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Agama ini akan senantiasa menang selama manusia menyegerakan berbuka, karena orang Yahūdi dan Nashrâni mengakhirkannya.” [HR Abū Dâwud].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi hadits-hadits lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi pendalilan hadits-hadits di atas adalah, apabila dalam masalah penampilan saja, seperti menyemir rambut dan memelihara jenggot kita diperintahkan untuk menyelisihi kaum kuffâr, maka tentu saja dalam hal perayaan yang bersifat bagian dari ritual dan syiar keagamaan mereka lebih utama dan lebih wajib untuk diselisihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun âtsar sahabat dan ulama salaf dalam masalah ini, sangatlah banyak. Diantaranya adalah ucapan ’Umar radhiyallâhu ’anhu, beliau berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اجتنبوا أعداء الله في عيدهم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jauhilah hari-hari perayaan musuh-musuh Allôh.” [Sunan al-Baihaqî IX/234].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’Abdullâh bin ’Amr radhiyallâhu ’anhumâ berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من بنى ببلاد الأعاجم وصنع نيروزهم ومهرجانهم ، وتشبه بهم حتى يموت وهو كذلك حُشِر معهم يوم القيامة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Barangsiapa yang membangun negeri orang-orang kâfir, meramaikan peringatan hari raya nairuz (tahun baru) dan karnaval mereka serta menyerupai mereka sampai meninggal dunia dalam keadaan demikian. Ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.” [Sunan al-Baihaqî IX/234].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imâm Muhammad bin Sîrîn berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;: أُتي على -رضي الله عنه- بهدية النيروز. فقال : ما هذا ؟ قالوا : يا أمير المؤمنين هذا يوم النيروز . قال : فاصنعوا كل يوم فيروزاً . قال أسامة : كره أن يقول : نيروز&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Alî radhiyallâhu ’anhu diberi hadiah peringatan Nairuz (Tahun Baru), lantas beliau berkata : ”apa ini?”. Mereka menjawab, ”wahai Amîrul Mu’minîn, sekarang adalah hari raya Nairuz.” ’Alî menjawab, ”Jadikanlah setiap hari kalian Fairuz.” Usâmah berkata : Beliau (’Alî mengatakan Fairuz karena) membenci mengatakan ”Nairuz”. [Sunan al-Baihaqî IX/234].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imâm Baihaqî memberikan komentar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وفي هذا الكراهة لتخصيص يوم بذلك لم يجعله الشرع مخصوصاً به&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ucapan (’Alî) ini menunjukkan bahwa beliau membenci mengkhususkan hari itu sebagai hari raya karena tidak ada syariat yang mengkhususkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila demikian ini sikap manusia-manusia terbaik, lantas mengapa kita lebih menerima pendapat dan ucapan orang-orang yang jâhil dan mengikuti budaya kaum kuffâr daripada ucapan para sahabat yang mulia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Raya Kita Adalah Idul Fithri dan Idul Adhhâ serta Jum’at&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hadîts yang diriwayatkan oleh Ummul Mu’minîn, ’Â`isyah ash-Shiddîqah binti ash-Shiddîq radhiyallâhu ’anhumâ, beliau menceritakan bahwa ayahanda beliau, Abū Bakr radhiyallâhu ’anhu mengunjungi Rasūlullâh. Kemudian Abū Bakr mendengar dua gadis jâriyah menyanyi dan mengingkarinya. Mendengar hal ini, Rasūlullâh Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يا أبا بكر ! إن لكل قوم عيداً وإن عيدنا هذا اليوم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wahai Abū Bakr, sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai hari raya dan hari raya kita adalah pada hari ini.” [HR Bukhârî].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadîts di atas, ada dua hal yang bisa kita petik :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, sabda Rasūlullâh Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam : ”Sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai hari raya” menunjukkan bahwa setiap kaum itu memiliki hari raya sendiri-sendiri. Hal ini sebagaimana firman Allôh Ta’âlâ :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجاً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Untuk tiap-tiap (ummat) diantara kalian ada aturan dan jalannya yang terang (tersendiri).” [QS al-Mâ`idah : 48].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas menunjukkan bahwa Allôh memberikan aturan dan jalan sendiri-sendiri secara khusus. Kata Lâm (لِ) pada kata Likullin (لِكُلٍّ) menunjukkan makna ikhtishâsh (pengkhususan). Apabila orang Yahūdi memiliki hari raya dan orang Nashrâni juga memiliki hari raya, maka hari-hari raya itu adalah khusus bagi mereka dan tidak boleh bagi kita, kaum muslimin, ikut turut serta dalam perayaan mereka, sebagaimana kita tidak boleh ikut dalam aturan dan jalan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sabda Rasūlullâh Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam : وإن عيدنا هذا اليوم(Dan hari raya kita adalah pada hari ini”), dalam bentuk ma’rifah (definitif) dengan lâm dan idhâfah menunjukkan hasyr (pembatasan), yaitu bahwa jenis hari raya kita dibatasi hanya pada hari itu. Dan hari tersebut di sini masuk pada cakupan hari raya ’îdul Fithri dan ’îdul Adhhâ, seperti dalam perkataan para ulama fikih :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لا يجوز صوم يوم العيد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak boleh berpuasa pada hari raya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka maksudnya tentu saja, tidak boleh berpuasa pada dua hari raya ’Idul Fithri dan ’Idul Adhhâ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalîl lainnya adalah hadîts Anas bin Mâlik :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أنس بن مالك - رضي الله عنه – قال: قدم رسول الله - صلى الله عليه وسلم – المدينة، ولهم يومان يلعبون فيهما، فقال: ما هذان اليومان، قالوا: كنا نلعب فيهما في الجاهلية. فقال رسول الله - صلى الله عليه وسلم –: (إن الله قد أبدلكم بهما خيراً منهما، يوم الأضحى، ويوم الفطر)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas bin Mâlik radhiyallâhu ’anhu beliau berkata : Rasūlullâh Shallâllâhu ’alahi wa Sallam tiba di Madînah dan mereka memiliki dua hari yang mereka bermain-main di dalamnya. Lantas beliau bertanya, ”dua hari apa ini?”. Mereka menjawab, ”Hari dahulu kami bermain-main di masa jahiliyah.” Rasūlullâh Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam mengatakan : ”Sesungguhnya Allôh telah menggantikan kedua hari itu dengan dua hari yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari idul adhhâ dan idul fithri.” [Shahîh riwayat Imâm Ahmad, Abū Dâwud, an-Nasâ`î dan al-Hâkim.]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Jum’at, maka termasuk hari raya kaum muslimin yang berulang-ulang dalam tiap pekannya. Sehingga dengannya telah cukup bagi kita dan tidak mencari hari-hari perayaan lainnya. Dalîl hal ini adalah, sabda Nabî yang mulia Shallâllâhu ’alahi wa Sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أضل الله عن الجمعة من كان قبلنا ، فكان لليهود يوم السبت، وكان للنصارى يوم الأحد فجاء الله بنا، فهدانا الله ليوم الجمعة، فجعل الجمعة والسبت والأحد ، وكذلك هم تبع لنا يوم القيامة، نحن الآخرون من أهل الدنيا ، والأولون يوم القيامة، المقتضي لهم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Alloh simpangkan dari hari Jum’at umat sebelum kita, dahulu Yahudi memiliki (hari agung) pada hari Sabtu dan Nashrani pada hari Ahad. Kemudian Allôh datangkan kita dan Alloh anugerahi kita dengan hari Jum’at, lantas Alloh jadikan hari Jum’at, Sabtu dan Ahad. Demikianlah, mereka adalah kaum yang akan mengekor kepada kita pada hari kiamat sedangkan kita adalah umat yang terakhir dari para penduduk dunia namun umat yang awal pada hari kiamat, yang diadili (pertama kali) sebelum makhluk-makhluk lainnya. [HR Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu ’Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن هذا يوم عيد جعله الله للمسلمين فمن جاء الجمعة فليغتسل…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sesungguhnya hari ini adalah hari ’Ied yang Alloh jadikan bagi kaum Muslimin, barangsiapa yang mendapati hari Jum’at hendaknya ia mandi…” [HR Ibnu Majah dalam Shahih at-Targhib I/298].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencukupkan Diri Dengan Sunnah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca budiman, sesungguhnya mencukupkan diri dengan yang telah diberikan oleh Allôh dan Rasūl-Nya adalah jauh lebih baik dan utama bagi kita, sehingga tidak perlu bagi kita mencari selain dari apa yang dituntunkan dan diperintahkan oleh Rabb dan Nabî kita, lalu mengikuti jalannya orang-orang yang bodoh dan menyimpang. Allôh Ta’âlâ berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kemudian, kami jadikan kamu di atas syariat dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS al-Jâtsiyah : 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ūd radhiyallâhu ’anhu berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الاقتصاد في السنة ، أحسن من الاجتهاد في البدعة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bersederhana di dalam sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh (jawa : ngoyo) di dalam bid’ah.” [al-I’tishâm II/65-72].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga radhiyallâhu ’anhu berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اتبعوا ولا تبتدعوا فقد كُفيتم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mencontohlah janganlah berbuat bid’ah karena kalian telah dicukupi.” [Majma’uz Zawâ`id I/181].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islâm adalah agama yang sempurna, tidak butuh lagi kepada penambahan-penambahan, revisi ataupun penilaian dari luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa al-Imâm Ibnu Baz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditanya al-Imâm Ibnu Baz rahimahullâh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa arahan yang mulia tentang peringatan tahun baru dan apa pendapat anda tentangnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imâm menjawab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Perayaan tahun baru adalah bid’ah sebagaimana dijelaskan oleh para ulama dan masuk ke dalam sabda Nabî Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Barangsiapa mengada-adakan sesuatu di dalam urusan (agama) ini yang tidak ada tuntunannya maka tertolak.” Muttafaq ’alaihi (disepakati keshahihannya) dari hadîts ’Â`isyah radhiyallâhu ’anhâ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabî Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam juga bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Barangsiapa yang mengamalkan suatu perbuatan yang tidak ada perintahnya dari kami maka tertolak.” Dikeluarkan oleh Imâm Muslim di dalam Shahîh-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabî ’alaihi ash-Sholâtu was Salâm juga bersabda di tengah khuthbah jum’at :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أما بعد فإن خير الحديث كتاب الله, وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم, وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Amma Ba’du, Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitâbullâh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallâllâhu ’alaihi wa Sallâm. Seburuk-buruk suatu perkara adalah perkara yang diada-adakah dan setiap bid’ah itu sesat.” Dikeluarkan oleh Muslim di dalam Shahîh-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An-Nasâ`î menambahkan di dalam riwayatnya dengan sanad yang shahîh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وكل ضلالة في النار&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka wajib bagi seluruh muslim baik pria maupun wanita untuk berhati-hati dari segala bentuk bid’ah. Islâm dengan segala puji bagi Allôh telah mencukupi segala hal dan telah sempurna. Allôh Ta’âlâ berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan aku sempurnakan nikmat-Ku serta Aku ridhai Islâm sebagai agama kalian.” (QS al-Mâ`idah :3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allôh telah menyempurnakan bagi kita agama ini segala yang disyariatkan baik berupa perintah maupun segala yang larangan dilarangnya. Manusia tidak butuh sedikitpun kepada bid’ah yang diada-adakan oleh seorangpun, baik itu bid’ah perayaan maupun selainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala bentuk perayaan, baik itu perayaan kelahiran Nabî Shallâllâhu ’alahi wa Sallam, atau peringatan kelahiran (Abū Bakr) ash-Shiddiq, ’Umar, ’Utsmân, ’Alî, Hasan, Husain atau Fâthimah, ataupun Badawî, Syaikh ’Abdul Qadîr Jailânî, atau Fulân dan Fulânah, semuanya ini tidak ada asalnya, mungkar dan dilarang. Semua perayaan ini masuk ke dalam sabda Nabî, ”setiap bid’ah itu sesat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu tidak boleh bagi kaum muslimin untuk merayakan bid’ah ini walaupun manusia mengamalkannya, karena perbuatan manusia itu bukanlah dasar syariat bagi kaum muslimin dan tidak pula qudwah (teladan) kecuali apabila selaras dengan syariat. Semua perbuatan dan keyakinan manusia harus ditimbang dengan timbang syar’î yaitu Kitâbullâh dan Sunnah Rasūlullâh Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam. Apabila selaras dengan keduanya maka diterima dan apabila menyelisihi ditolak, sebagaimana firman Allôh Ta’âlâ :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apabila kalian berbeda pendapat tentang sesuatu hal maka kembalikanlah kepada Allôh (Kitâbullâh) dan Rasūl (hadîts) apabila kalian beriman kepada Allôh dan hari akhir. Yang demikian ini adalah lebih baik akibatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allôh memberikan taufiq dan petunjuk-Nya kepada semuanya ke jalan-Nya yang lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Fatâwâ Nūr ’alad Darb; kaset no.1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ragu lagi, dari ulasan singkat dan sederhana di atas, bahwa perayaan Tahun Baru, maupun perayaan-perayaan lainnya yang tidak ada tuntunannya, merupakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Bid’ah di dalam agama setelah Allôh menyempurnakannya.&lt;br /&gt;   2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Menyerupai orang kuffâr di dalam perayaan mereka.&lt;br /&gt;   3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Turut menghidupkan syiar dan mengagungkan agama kaum kuffâr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allôhu a’lam bish Showâb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Bacaan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Al-Bida’ al-Haulîyah, ’Abdullâh bin ’Abdil ’Azîz at-Tuwaijirî. Riyâdh : 1421/2000, Dârul Fadhîlah. Cet. 1.&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Al-Bida’ al-Haulîyah, ’Abdullâh bin ’Abdil ’Azîz at-Tuwaijirî. Soft Copy dari http://sahab.org.&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Tahrîmul Musyârokah fî A’yâdil Mîlâd wa Ra`sis Sanah, http://magrawi.net&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Waqofah Haula A’yâdi Ra`sis Sanah al-Ifranjîyah, Khâlid ’Abdurrahman asy-Syayi’, http://magrawi.net&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      The Two ‘Eids And Their Significance, ‘Abdul Majîd ‘Alî Hasan, Ebook download dari http://theclearpath.com&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Hukmu A’yâdil Mîlâd, al-‘Allâmah ‘Abdul ‘Azîz bin Baz, http://magrawi.net&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;download from : www.abusalma.wordpress.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5587366944880896836-4694989494091790922?l=pengajianbahrain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/4694989494091790922/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5587366944880896836&amp;postID=4694989494091790922' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/4694989494091790922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/4694989494091790922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/2008/03/perayaan-tahun-baru-itu-syiar-kaum.html' title='PERAYAAN TAHUN BARU ITU SYIAR KAUM KUFFÂR'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836.post-6710888812858844100</id><published>2008-03-06T10:49:00.000-08:00</published><updated>2008-03-06T10:51:08.672-08:00</updated><title type='text'>SELURUH AMAL TERGANTUNG NIATNYA</title><content type='html'>Berikut ini kami bawakan nukilan hadits dari Kitab Al Arba'in AnNawawiyah oleh Imam An Nawawi –rahimahulloh- semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحــديث الأول&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HADITS PERTAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Arti Hadits / ترجمة الحديث :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah –sholallohu 'alahi wa sallam- bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan (1)  tergantung niatnya (2).  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas)berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya (3)karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kita Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah ditulis) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Yang dimaksud perbuatan disini adalah amal ibadah yang membutuhkan niat. Adapun perbuatan buruk niat baiknya tidak akan merubah buruknya menjadi baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Niat adalah keinginan dan kehendak hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hijrah secara bahasa artinya : meninggalkan, sedangkan menurut syariat  artinya : meninggalkan negri kafir menuju negri Islam dengan maksud menyelamatkan agamanya. Yang dimaksud dalam hadits ini adalah perpindahan dari Mekkah ke Madinah sebelum Fathu Makkah (Penaklukan kota Mekkah th. 8 H).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam syafi’i berkata : Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu dari ketiganya. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa dia berkata : Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata : Hadits ini merupakan sepertiga Islam.&lt;br /&gt;   2.  Hadits ini ada sebabnya, yaitu: ada seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi seorang wanita yang konon bernama : “Ummu Qais” bukan untuk mendapatkan keutamaan hijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran yang terdapat dalam Hadits / الفوائد من الحديث :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Niat merupakan syarat layak/diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah Ta'ala).&lt;br /&gt;   2. Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati.&lt;br /&gt;   3. Ikhlas dan membebaskan niat semata-mata karena Allah Ta'ala dituntut pada semua amal shaleh dan ibadah.&lt;br /&gt;   4. Seorang mu’min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya.&lt;br /&gt;   5. Semua pebuatan yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhoan Allah maka dia akan bernilai ibadah.&lt;br /&gt;   6. Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/rutinitas) adalah niat.&lt;br /&gt;   7. Hadits diatas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5587366944880896836-6710888812858844100?l=pengajianbahrain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/6710888812858844100/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5587366944880896836&amp;postID=6710888812858844100' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/6710888812858844100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/6710888812858844100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/2008/03/seluruh-amal-tergantung-niatnya.html' title='SELURUH AMAL TERGANTUNG NIATNYA'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836.post-582622034720631445</id><published>2008-03-06T10:47:00.000-08:00</published><updated>2008-03-06T10:48:40.511-08:00</updated><title type='text'>Jalan menuju penyempurnaan Iman</title><content type='html'>JALAN MENUJU PENYEMPURNAAN IMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Syeikh Abu Abdillah Fathi bin Abdillah Al Mousily hafidzohulloh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterjemahkan oleh Abu Zeyaad Assalafy dari Majalah Al Istiqomah edisi 2 tahun 1424 H/2004 M hal 48 dengan beberapa penyesuaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amal sholeh adalah timbangan yang membedakan antara iman haqiqi nan sempurna dengan iman yang sekedar pengakuan belaka. Oleh karenanya Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati orang-orang yang beriman dengan amalan-amalan; serta menetapkan pahala dan pujian terhadap orang yang melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada jalan untuk mensifati mereka dalam hakekat keimanan kecuali setelah melakukan amal sholeh secara lahir dan batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh Subhanahuwata’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَىٰ رَبهِمْ يَتَوَكَّلُونَ * ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ * أُوْلۤـٰئِكَ هُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ حَقّاً لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ .(الأنفال :2-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Alloh gemetar hatinya, dan apabila dibacakan  ayat-ayat-Nya bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal. Yaitu orang-orang yang melaksanakan sholat dan yang menginfakkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.(QS.Al Anfal 2-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh Subhanahuwata’ala mensifati orang-orang yang beriman dengan sifat – sifat yang mencakup untuk melaksanakan pokok-pokok keimanan dan cabang-cabangnya baik secara lahir maupun batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kesempurnaan iman adalah : Hakekat yang mencakup dari pokok-pokok keimanan, syaria’t Islam dan hakekat ihsan. Orang-orang beriman bertingkat-tingkat dalam hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Hadits yang diriayatkan oleh Abu Daud dan Thobroni dengan sanad yang Hasan, bahwasanya Nabi Sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;من أحب لله,و أبغض لله, و أعطى لله, و منع لله فقد استكمل الإيمان.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mencintai karena Alloh, membenci karena Alloh, memberi karena Alloh dan menahan (pemberian) karena Alloh maka telah sempurna imannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Ibnul Qoyyim Rahimahulloh menjelaskan hadits di atas :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Iman adalah ilmu dan amalan, adapun amalan adalah buah dari ilmu. Sedangkan amalan ada dua macam (amalan hati dan amalan jawarih); amalan hati berupa cinta dan benci, serta melazimkan amalan jawarih (anggota badan) berupa pelaksanaan dan meninggalkan sesuatu; yaitu memberi atau menolak. Apabila keempat hal ini semata-mata karena Alloh, maka pemiliknya telah sempurna imannya. Tidaklah berkurang dari keempat hal tersebut dan ditujukan kepada selain Alloh, melainkan akan berkurang pula keimanannya sesuai dengan kadar pengurangannya.” (Ighotsatul Lahafan :1242)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber realisasi Iman dan kesempurnaannya terletak pada cabang-cabang keimanan, baik yang dzohir maupun batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang shohih , Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;الإيمان بضع و سبعون شعبة أعلاها قول لا إله إلا الله وأدناها إماطة الأذى عن الطريق و الحياء شعبة من الإيمان .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iman terbagi menjadi 70 cabang lebih, cabang paling tinggi adalah ucapan “Laa ilaha illalloh” dan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan dan rasa malu adalah cabang dari iman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keimanan yang diharapkan dalam bab ini adalah keimanan yang mencakup atas keyakinan-keyakinan yang shohihah yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Assunnah, (mencakup) akhlaq mulia yang dengannya kaum muslimin disifati baik dalam kesendirian maupun beserta orang lain, serta mencakup amalan-amalan lahir dan batin dengan dilandasi oleh keikhlasan dan kecintaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecintaan, kebencian dan pemberian mereka semata-mata lillah, fillah dan sesuai dengan kehendak Alloh. Maka mereka sungguh-sungguh kaum mukminin yang sesungguhnya, yang sempurna keimanan dan yang murni keyakinan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyempurnaan iman adalah tujuan dan jalan yang diharapkan. Sedangkan jalan untuk mendapatkan dan untuk merealisasikannya terpaut kepada empat perkara penting, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara Pertama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merealisasikan keikhlasan kepada Alloh Ta’ala dalam setiap amalan,ucapan, keyakinan dan jalan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara Kedua :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membenarkan keimanan dengan amalan nyata dan ketundukan secara lahir dan batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara Ketiga :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecintaan Kepada Alloh dan Rosul-Nya Sholallohu ‘alaihi wa sallam, serta mendahulukan keduanya atas kecintaan terhadap segala sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara Keempat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merealisasikan Ittiba’ Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa Sallam serta mencegah Bid’ah I’tiqody maupun Bid’ah Amali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Seorang yang mendapatkan taufiq selalu menjaga keempat perkara ini dalam jiwanya. Apabila hilang ataupun berkurang, ia segera mundur kembali dengan taubat . apabila ia mampu melaksanakan hal tersebut ia melaluinya dengan muhasabah dan rasa syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keistiqomahan dalam empat perkara ini, menjaganya, serta senantiasa konsisten secara lahir dan batin bergantung kepada seberapa besar kekuatan persiapan seorang hamba menghadapi Hari Akhir bergantung pula terhadap kadar ilmu syar’I seorang hamba, dan usahanya dalam menyempurnakan keimanan serta kontinuitasnya terhadap ketaqwaan dan pengagungannya terhadap syi’ar-syi’ar ketaqwaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Oleh karena itu dibutuhkan kesempatan untuk mengingatkan dengan beberapa wasiat dan hakekat, yang dengannya seorang hamba dapat menjaga keimanan dalam dirinya dan dapat pula mengembalikan keimanan yang telah hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Adapun hakekat-hakekat itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Hakekat Pertama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa tanda pertama seseorang mendapatkan taufiq adalah keistiqomahannya dalam ketaatan, mencari hal-hal yang terpenuhi dengannya kebaikan, memanfaatkan waktu, giat menghadiri majelis-majelis Ilmu dan memanen buah-buahnya, mencermati buku-buku dan memanfaatkan segala kesempatan, mengikhlaskan tujuan dan niat, menghindari tempat-tempat fitnah dan syubhat serta menjaga hak-hak dan amanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qoyim Rahimahulloh berkata : “Adapun Istiqomah adalah kata yang majemuk, yang diambil dari sumber-sumber agama. Yaitu berdiri di hadapan Alloh atas dasar kejujuran yang nyata disertai dengan pemenuhan perjanjian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Hakekat Kedua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bahwasanya tujuan yang diharapkan seorang hamba dalam bab Istiqomah adalah keteguhan diatas Tauhid yang murni, baik dalam hal ilmu, amalan, dakwah ataupun dalam jihad, bahkan dalam masalah kecintaan dan loyalitas. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;قُلْ إِنَّمَآ أَنَاْ بَشَرٌ مثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌ وَاحِدٌ فَٱسْتَقِيمُوۤاْ إِلَيْهِ وَٱسْتَغْفِرُوهُ...(فصلت :6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah (Muhammad): “Aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu tetaplah kamu (beribadah) kepada-Nya dan mohonlah ampunan kepada-Nya…..”(QS.Fushilat :6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu : Istiqomah dalam mentauhidkan Alloh dan mengesakan-Nya dalam ibadah dalam ucapan ,niat maupun amalan. Oleh karena itu Abu Bakar Asshidiq Rodhiyallohu ‘anhu pernah ditanya tentang istiqomah ? maka beliau menjawab : “Hendaklah engkau tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu apapun.” Beliau ingin menjelaskan makna Istiqomah ditinjau dari makna Tauhid. (lihat Madarijus Saalikin :2/79)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qoyyim Rahimahulloh juga berkata: Aku mendengar Syeikhul Islam Rahimahulloh berkata: “Istiqomahlah kalian di atas kecintaan Alloh dan peribadatan kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali menoleh ke kanan dan ke kiri.” (lihat Madarijus Saalikin :2/79)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Hakekat Ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Orang yang menginginkan jalan petunjuk membutuhkan kepada :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         1. Dalil petunjuk dari Al-Qur’an dan Assunnah&lt;br /&gt;         2. Membutuhkan petunjuk untuk memanfaatkan dalil tersebut.&lt;br /&gt;         3. Meninggalkan hal-hal yang merintangi dan menghalangi dari pemanfaatan dalil tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam datang dengan membawa ayat-ayat yang dibaca, tazkiyah (pensucian jiwa) dan ilmu yang bermanfaat, sebagaimana do’a Nabi Ibrohim ‘alaihissalam :&lt;br /&gt;رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُواْ عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنتَ العَزِيزُ الحَكِيمُ (البقرة :129)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Tuhan kami utuslah kepada mereka seorang Rosul dari kalangan mereka yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al-Qur’an) dan Al Hikmah (Assunnah) serta mensucikan mereka, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.Al Baqarah :129)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Para Ahli Ilmu dan Dakwah telah mengetahui pentingnya membahas tentang penghalang-penghalang pensucian jiwa (tazkiyah) dan bahwasanya penghalang-penghalang tersebut bersumber dari Syubhat-syubhat yang menyambar dan syahwat yang mematikan. Sesungguhnya sangat dibutuhkan pengawasan, penelitian, dalam upaya menyingkapnya, menjauhinya, dan memutus jalan masuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara hal-hal yang membantu seorang hamba dalam hal tersebut ada tiga perkara :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Mencela Jiwa dari segala tujuan (yang buruk)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berprasangka buruk terhadap diri sendiri membantu seseorang untuk introspeksi diri, melihat sesuatu atas dasar hakekat yang sebenarnya. Sehingga seorang hamba mendapati sebab kedzoliman dan kebodohan dari dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana firman Alloh Ta’ala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَحَمَلَهَا الإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوماً جَهُولاً (الأحزاب : 72)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka dibebankanlah (amanat itu) kepada manusia dan sesungguhnya manusia itu amatlah dzolim lagi bodoh." (Al-Ahzab :72)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya rintangan penyucian jiwa dan iman terletak pada jiwa seseorang. Maka hendaklah seorang hamba menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang dapat menyucikan jiwanya, memperbaikinya, dan mendidiknya dengan ilmu yang kecil sebelum ilmu yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Membedakan antara Pemberian dan ujian – antara kenikmatan dan hukuman – antara karomah dan istidroj (nglulu-jawa,pent) bahkan membedakan antara kondisi selamat dengan kondisi fitnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang hamba yang mendapatkan taufiq mampu mengetahui perbedaan antara kenikmatan yang membantu untuk mendapatkan kebahagiaan yang abadi dengan kenikmatan yang dekat dengan istidraj. Berapa banyak orang yang mendapatkan istidroj dengan suatu kenikmatan – padahal sebenarnya hal itu adalah hukuman – sedangkan dia tidak merasa, disebabkan terfitnah oleh pujian orang-orang bodoh kepadanya. (lihat Madarijus Salikin : 1/136)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Hendaklah mencukupkan diri dalam amalannya, dengan mengikuti sunnah Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam, seimbang dalam hukum-hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain Istiqomah adalah : keseimbangan yang lepas dari ifrat (berlebih-lebihan) dan tafrit (meremehkan), menghindari penyimpangan terhadap Sunnah, tidak menipu dalam menghukumi dan memutuskan serta tidak berlebih-lebihan dalam memuji dan mencela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qoyyim Rahimahulloh berkata : berkata sebagian Salaf : ”Tidaklah Alloh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan suatu perintah kecuali syeitan memiliki dua tipu daya, baik kepada tafrit atau kepada Ifrat. Syeitan tidak perduli mana dari keduanya yang berhasil, baik bertambah atau berkurang.” (lihat Madarijus Salikin 2/82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna ini terkumpul dalam Hadits Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;إن لكل عمل شرة, و لكل شرة فترة. فمن كانت فترته إلى سنتي فقد اهتدى, ومن كانت فترته إلى غير ذلك فقد هلك .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sesungguhnya setiap amalan memiliki masa-masa giat, dan setiap masa-masa giat ada masa menurun,barangsiapa masa menurunnya di atas Sunnahku sungguh ia telah mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang masa menurunnya kepada selain Sunnahku sungguh ia telah binasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kesudahan yang terpuji dan tempat kembali yang baik bagi orang yang Istiqomah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang senantiasa istiqomah di atas jalan Al-Qur’an dan Assunnah, selalu memurnikan tauhid kepada Tuhannya, memperbaiki ittiba’-nya kepada Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam, serta senantiasa bertaqwa dalam kesendiriannya maupun bersama orang lain; maka mereka mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akherat. Alloh Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;وَأَلَّوِ اسْتَقَامُواْ عَلَى الطَّرِيقَةِ لأَسْقَيْنَاهُم مَّآءً غَدَقاً (الجن : 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Dan bahwasanya : jikalau mereka tetap lurus (istiqomah) di atas jalan itu (Agama Islam), benar-benar kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).” (Al Jin : 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pembahasan yang dapat kami uraikan, mudah-mudahan Alloh meneguhkan hati kita di atas Islam sehingga kita berjumpa dengan-Nya, amien.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5587366944880896836-582622034720631445?l=pengajianbahrain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/582622034720631445/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5587366944880896836&amp;postID=582622034720631445' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/582622034720631445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/582622034720631445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/2008/03/jalan-menuju-penyempurnaan-iman.html' title='Jalan menuju penyempurnaan Iman'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836.post-3212792748379613235</id><published>2008-03-06T10:45:00.002-08:00</published><updated>2008-03-06T10:46:30.271-08:00</updated><title type='text'>Keutamaan Laa ilaha ilalloh 3</title><content type='html'>KEUTAMAAN LAA ILAHA ILLALLOH (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Abu Yusuf As Salafy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERDAKWAH KEPADA LA ILAHA ILLALLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (QS Al Anbiya’ : 25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan: "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut” (QS. An Nahl : 36)&lt;br /&gt;عن ابن عباس رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم  لما بعث معاذا إلى اليمن قال له : إنك تأتي قوما من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas rodhiyallohu 'anhu ia berkata bahwasanya Rasulullah sholallohu 'alaihi wasallam ketika mengutus Mu’adz ke Yaman beliau berkata kepadanya : “Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab, hendaklah yang pertama kali engkau dakwahkan kepada mereka adalah syahadat la ilaha illallah”. (HR. Bukhori 3/160, Muslim 1/50 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakwah kepada tauhid la ilaha illallah adalah dakwah yang pertama dan paling utama. Rasulullah sholallohu 'alaihi wasallam berdakwah kepada tauhid la ilaha illallah selama hidupnya, bahkan lima hari  sebelum wafatnya, Rosulullah sholallohu 'alaihi wasallam memperingatkan umatnya dari bahaya syirik, sebagai upaya memurnikan tauhid la ilaha illallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن جندب رضي الله عنه قال : سمعت النبي صلى الله عليه و سلم قبل أن يموت بخمس وهو يقول : ألا وإن من كان قبلكم كانوا يتخذون قبور أنبيائهم مساجد ألا فلا تتخذوا القبور مساجد فإني أنهاكم عن ذلك&lt;br /&gt;Dari Jundub rodhiyallohu 'anhu ia berkata : Saya mendengar Nabi sholallohu 'alaihi wasallam  lima hari sebelum wafatnya, beliau bersabda : “Ingatlah sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang sholih diantara mereka sebagaimana masjid. Ingatlah janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid, sungguh aku melarang kalian akan hal itu”. ( HR. Muslim : 1188 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEBINASAAN PARA PENENTANG LA ILAHA ILLALLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana ada kebenaran pasti akan muncul kebatilan. Dan tidaklah ada penyeru kebenaran kecuali akan muncul penentang yang mengibarkan bendera kebatilan. Begitupula tidak ada seorangpun yang mendakwahkan la ilaha illallah kecuali mereka mendapatkan penentangan dan permusuhan dari orang-orang yang membenci dakwah kepada tauhid la ilaha illallah. Maha benar Allah dalam firmanNya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan dari jenis manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain dengan perkataan yang indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS. Al Anam : 112)&lt;br /&gt; Namun ketahuilah wahai saudaraku –semoga Allah merahmatimu- orang-orang yang menentang dan memusuhi dakwah la ilaha illallah, mereka tiada mendapatkan melainkan kehinaan dan kebinasaan di dunia dan akhirat. Allah menengggalamkam kaum Nuh karena mereka menentang la ilaha illallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan Kami kabulkan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar. Dan Kami telah menolongnya dari kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat, maka Kami tenggelamkan mereka semuanya. (QS. Al Anbiya’ : 76-77)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wata'ala membinasakan kaum A’ad  karena mereka menolak dakwah la ilaha illallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itulah kisah kaum 'Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, dan mendurhakai rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan begitu pula di hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum 'Ad itu kafir kepada Tuhan mereka. Ingatlah kebinasaanlah bagi kaum 'Ad (yaitu) kaum Huud. (QS. Hud : 59-60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menghancurkan Qorun dan Fir’aun beserta tentaranya karena meraka sombong dan memusuhi dakwah la ilaha illallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qarun dan Fir'aun serta Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di muka bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu). Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak berbuat aniaya terhadap mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. Al Ankabut : 39-40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah akhir kesudahan para penentang tauhid la ilaha illallah, dan setelah itu mereka semua pada hari kiamat akan disiksa didalam api neraka dengan siksaan yang pedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab. Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah mereka menyombongkan diri. (QS. Ash Shoffat :33-35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikianlah penjelasan yang dapat kami uraikan, mudah-mudahan Allah meneguhkan kita diatas tauhid la ilaha illallah dan mengakhiri hidup kita dengan mengucapkan kalimat la ilaha illallah.&lt;br /&gt;(selesai)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5587366944880896836-3212792748379613235?l=pengajianbahrain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/3212792748379613235/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5587366944880896836&amp;postID=3212792748379613235' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/3212792748379613235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/3212792748379613235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/2008/03/keutamaan-laa-ilaha-ilalloh-3.html' title='Keutamaan Laa ilaha ilalloh 3'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836.post-4729561561930143549</id><published>2008-03-06T10:45:00.001-08:00</published><updated>2008-03-06T10:45:49.599-08:00</updated><title type='text'>Keutamaan Laa ilaha ilalloh 2</title><content type='html'>KEUTAMAAN LAA ILAHA ILLALLOH (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Abu Yusuf As Salafy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKNA LA ILAHA ILLALLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La ilaha illallah artinya tiada sesembahan yang benar selain Allah. Adapun kalau anda mengartikan la ilaha illallah tiada tuhan selain Allah, sungguh ini adalah makna yang batil karena tuhan yang disembah selain Allah sangatlah banyak. Dan hanyalah Allah tuhan yang disembah dengan benar, sedangkan tuhan selain Allah, mereka disembah akan tetapi disembah dengan batil. ( Lihat Aqidah Thohawiyah Syarh Syaikh Sholih AL Fauzan -hafidhohulloh - 34-45)&lt;br /&gt;Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) yang Haq dan sesungguhnya apa yang mereka seru selain Allah, adalah (tuhan) yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar. (QS. Al Hajj 62)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMPELAJARI LA ILAHA ILLALLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada sesembahan (yang haq) selain Allah. (QS. Muhammad 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wa ta'ala menggabungkan lafadz ilmu dengan la ilaha illallah, menunjukkan bahwasanya ilmu yang pertama dan paling utama untuk dipelajari adalah ilmu la ilaha illallah. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahulloh berkata : “ilmu yang diperintahkan oleh Allah untuk mempelajarinya, adalah ilmu tentang mentauhidkan Allah. Wajib bagi setiap manusia untuk mempelajarinya, dan tidak ada seorangpun yang gugur dari kewajiban ini siapapun juga orangnya. Bahkan mereka semuanya wajib mempelajari la ilaha illallah.( Taisir Karimir Rohman : 5/39 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMAHAMAN KAUM MUSYRIKIN JAHILIYAH TENTANG LA ILAHA ILLALLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang musyrikin pada zaman jahiliyah paham betul akan makna la ilaha illallah. Sehingga Rasulullah sholallohu 'alaihi wasallam menyeru mereka untuk mengucapkan la ilaha illallah, mereka enggan dan menolak mengucapkannya, karena mereka mengetahui konsekuensi dari kalimat la ilaha illallah, itu meninggalkan segala bentuk peribadatan kepada selain Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas rodhiyallohu 'anhu ia berkata : Rasulullah sholallohu 'alaihi wasallam berkata : “Wahai pamanku ucapkanlah la ilaha illallah. Orang-orang quraisy berkata : Tuhan yang satu saja? Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir, dan ini tidak lain hanyalah dusta yang diada-adakan. Maka Allah menurunkan Al Qur’an :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shaad, demi Al Quran yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu berada dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. Betapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta pertolongan padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. Dan mereka heran karena kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta". Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu hanya tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): "Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir, ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan. (QS. Shaad 1-7). (HR Ahmad 1/228, Tirmidzi, dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir v : 2008 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BODOHNYA UMAT ISLAM HARI INI AKAN LA ILAHA ILLALLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh fenomena yang kita saksikan pada umat islam hari ini, adalah suatu hal yang sangat memperhatikan. Bagamana tidak? Jutaan umat islam tidak mengerti makna la ilaha illallah. Mereka mengucapkan la ilaha illallah, namun perbuatan mereka mengingkari bahkan menggugurkan la ilha illallah sedang mereka tidak menyadari. Ketika mendapatkan musibah, mereka berdoa kepada selain Allah. Dengan mendatangi lembah atau pantai, kemudian mereka melemparkan sesaji, dengan harapan agar mereka selamat dari bencana yang sedang mereka hadapi. Adapula yang mendatangi kuburan para wali, mereka berdoa dengan khusuk bahkan mereka menangis agar sang wali mengabulkan permintaan mereka. Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh yang Maha Mengetahui. (QS. Fathir 13-14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika mendapat kenikmatan, mereka bersyukur kepada selain Allah. Dengan menyembelih binatang ternak, kemudian mereka mendatangi tempat yang dianggap keramat, lalu mereka mengadakan ritual khusus sebagai rasa syukur kepada sang penghuni tempat keramat itu. Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan Allah. Agar mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang (dalam kekafiran). Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya). (QS. Al Ankabut 65-66).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bahkan adapula yang hendak mengadakan resepsi pernikahan, sedangkan orangtuanya telah meninggal, merekapun mendatangi orang tua mereka untuk meminta izin, agar pernikahan mereka mendapatkan restu dari orangtua. Dan masih banyak lagi penyimpangan-penyimpangan yang lain, yang menunjukkan bodohnya umat islam hari ini akan la ilaha illallah. Allahul musta’an. bersambung ........&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5587366944880896836-4729561561930143549?l=pengajianbahrain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/4729561561930143549/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5587366944880896836&amp;postID=4729561561930143549' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/4729561561930143549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/4729561561930143549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/2008/03/keutamaan-laa-ilaha-ilalloh-2.html' title='Keutamaan Laa ilaha ilalloh 2'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836.post-3978035681113261866</id><published>2008-03-06T10:43:00.000-08:00</published><updated>2008-03-06T10:44:33.322-08:00</updated><title type='text'>Keutamaan Laa ilaha ilalloh 1</title><content type='html'>Oleh : Abu Yusuf As Salafy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La ilaha illallah adalah kalimat yang sangat agung, yang karenanya Allah subhanahu wata'ala menciptakan alam dan seisinya. Tidaklah Allah subhanahu wata'ala menciptakan jin dan manusia hanya karena sebuah permainan belaka, akan tetapi Allah subhanahu wata'ala menciptakan mereka, agar mereka memurnikan tauhid la ilaha illallah. Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu hanya sebuah permainan belaka, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah,Raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan yang haq selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) 'Arsy yang mulia. (QS. Al Mukminum 115-116)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada Ku. (QS. Adz Dzariyat 56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidaklah Allah menurunkan kitab dan mengutus para rasul melainkan hanya karena tauhid La ilaha illallah. Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka beribadahlah kamu sekalian kepadaKu ". (QS. Al Anbiya’ 25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wata'ala menciptakan surga sebagai tempat kembali orang-orang yang bertauhid La ilaha illallah. Dan Allah menciptakan neraka sebagai tempat kembali para penentang La ilaha illallah. Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab. Sesungguhnya Demikianlah kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. (QS. Ash Shoffat 33-35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah sholallohu'alaihi wassalam tidak diperintahkan berperang kecuali untuk mengibarkan bendera La ilaha illallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال رسول الله صلى الله  عليه وسلم : أمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا لا إله إلا الله&lt;br /&gt;Rasulullah sholallohu'alaihi wassalam bersabda : “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan la ilaha illallah." (HR.Muslim : 124)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan tidak akan terjadi hari kiamat, selama masih disebut la ilaha illallah di muka bumi. Namun apabila sudah tidak lagi disebut la ilaha illallah di muka bumi, maka akan terjadi hari kiamat. Allah menciptakan dunia karena lailaha illallah, jadi apabila sudah tidak ada lagi la ilaha illallah dunia akan hancur dan pada hari itu akan terjadi kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله  عليه وسلم : لا تقوم الساعة على أحد يقول : لا إله إلا الله&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik rodhiyallohu 'anhu ia berkata : Rasulullah sholallohu'alaihi wassalam bersabda : “Tidak akan terjadi kiamat (apabila) masih ada orang  yang menyebut la ilaha illallah.(HR. Ibnu Hibban, lihat Ta’liqotul Hisan : 6809, Ash Shohihah : 3016)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEUTAMAAN LA ILAHA ILLALLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. (QS. Ibrohim : 24)&lt;br /&gt;Ibnu Abbas rodhiyallohu 'anhu berkata : (perumpamaan kalimat yang baik) adalah bersaksi la ilaha illallah. (Tafsir Al Qur’anul Adhim 2/485)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Baro’ bin ‘Azib rodhiyallohu 'anhu ia berkata : Rasulullah sholallohu 'alaihi wasallam bersabda : “Seorang muslim apabila ditanya didalam kubur, kemudian dia bersaksi sesungguhnya tiada tuhan yang haq selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, itulah makna firman Allah : (Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat) (QS. Ibrohim : 27)(HR. Bukhori 5/4699)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga). Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. (QS.Al Lail : 5-7)&lt;br /&gt;Abu Abdirrahman As Sulami dan Adh Dhohhak berkata : wa soddaqo bi husna maknanya membenarkan la ilaha illallah. (Tafsir Al Qur’anul Adhim 4/471 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي هريرة رضي االله عنه قال : قلت : يا رسول الله  من أسعد الناس بشفاعتك يوم القيامة؟  قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لقد ظننت يا أبا هريرة أن لا يسألني عن هذا الحديث أحد أول منك لما رأيت من حرصك على الحديث , أسعد الناس بشفاعتي يوم القيامة من قال : لا إله إلا الله خالصا من قلبه أو من نفسه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu 'anhu ia berkata : Saya bertanya : Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafaatmu pada hari kiamat? Rasulullah sholallohu 'alaihi wasallam bersabda : “Sungguh aku mengira tidak ada seorangpun yang bertanya tentang hadits ini sebelum kamu, karena aku melihat kesungguhanmu dalam mempelajari hadits. Manusia yang paling berbahagia dengan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau dari jiwanya. ( HR. Bukhori 1/99 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن عمر رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : إني لأعلم كلمة لا يقولها عبد حقا من قلبه فيموت على ذلك إلا حرم على النار : لا إله إلا الله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Umar rodhiyallohu 'anhu ia berkata : saya mendengar Rasulullah sholallohu 'alaihi wasallam bersabda : “Sungguh aku akan mengajarkan sebuah kalimat, tidaklah seorang hamba mengucapkannya dengan benar dari hatinya, lalu ia mati diatas keyakinan itu, kecuali (Allah) mengharamkan tubuhnya dari api neraka. Yaitu kalimat la ilaha illallah. (HR. Hakim, lihat Shohih Targhib wa Tarhib : 1528 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن جابر رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : أفضل الذكر لا إله إلا الله  و أفضل الدعاء الحمد لله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jabir rodhiyallohu 'anhu , dari Nabi sholallohu 'alaihi wasallam beliau bersabda : “Dzikir yang paling utama adalah la ilaha illallah, dan doa yang paling utama adalah alhamdulillah."(HR. Ibnu Majah, An Nasa’I, lihat Shohih Targhib wa Tarhib : 1526 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن معاذ بن جبل رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Mu’adz bin Jabal rodhiyallohu 'anhu  dari Nabi sholallohu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "barangsiapa diakhir hayatnya mengucapkan la ilaha illallah, maka dia pasti masuk syurga." (HR. Abu Dawud, lihat Shohihul Jami’ : 6479 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : قال موسى : يا رب علمني شيئا أذكرك و أدعوك به , قال : قل يا موسى لا إله إلا ألله , قال : كل عبادك يقولون هذا , قال : يا موسى لو أن السماوات السبع  و عامرهن غيري  و الأرضين السبع  في كفة ولا إله إلا الله في كفة مالت بهن لا إله إلا الله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Sa’id Al Khudri rodhiyallohu 'anhu dari Nabi sholallohu 'alaihi wasallam  beliau bersabda : Musa berkata : Wahai Tuhanku ajarkanlah kepadaku sesuatu, yang aku akan berdzikir dan berdoa kepadaMu dengannya. Allah berfirman : Wahai Musa ucapkanlah La ilaha illallah. Musa berkata : Wahai Tuhanku seluruh hambaMu mengucapkan kalimat ini. Allah berfirman : Wahai Musa ! Seandainya langit tingkat tujuh dan apa yang ada didalamnya serta bumi tingkat tujuh selain Aku diletakkan di suatu timbangan, dan la ilaha illallah diletakkan di timbangan yang lain, maka akan berat timbangan la ilaha illallah." (HR. Ibnu Hibban, Hakim, dishohihkan Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari : 11/28 )&lt;br /&gt;bersambung .........&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5587366944880896836-3978035681113261866?l=pengajianbahrain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/3978035681113261866/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5587366944880896836&amp;postID=3978035681113261866' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/3978035681113261866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/3978035681113261866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/2008/03/keutamaan-laa-ilaha-ilalloh-1.html' title='Keutamaan Laa ilaha ilalloh 1'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836.post-430767614387275499</id><published>2008-03-06T10:26:00.000-08:00</published><updated>2008-03-06T10:27:41.902-08:00</updated><title type='text'>Keutamaan Agama Islam part 3</title><content type='html'>KEUTAMAAN AGAMA ISLAM (3)&lt;br /&gt;Oleh: Syeikh Walid bin Muhammad Saif An Nasr hafidzohulloh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * KEBERKAHAN DI DALAM ISLAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang mendatangi Nabi SholAllahu 'alaihi wa sallam, beliau menghidangkan susu kambing kepadanya. Lalu orang tersebut meminumnya sehingga habis 7 bejana. Kemudian esok harinya dia masuk Islam, lalu dihidangkan susu kepadanya, namun dia tidak bisa menghabiskan bejana yang kedua. Maka Rosulullah sholAllahu 'alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;اْلمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مَعٍى وَاحِدٍ وَ الْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءَ (رواه مالك و أحمد 2/375)&lt;br /&gt; "Orang yang beriman makan dengan satu usus, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh usus."&lt;br /&gt;(HR. Malik dan Ahmad 2/375)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَ قَنَعَهَ اللهُ بِمَا آَتَاهُ (رواه مسلم 1054)&lt;br /&gt;Rosulullah SholAllahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, ia diberi rizki yang cukup dan Allah menjadikannya Qona'ah(merasa cukup)dari apa yang Allah berikan kepadanya."  (HR. Muslim:1054)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * ISLAM MENJAMIN KEAMANAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keamanan dan ketentraman adalah dambaan setiap insan. Islam agama yang mulia mempunyai prinsip yang mulia yaitu menjamin keamanan dan melindungi umatnya dari pertumpahan darah dan pembunuhan. Allah Ta'ala mengancam pelaku pembunuhan terhadap orang beriman dengan siksaan yang pedih, yang demikian itu menjelaskan bahwasanya Islam menjamin keamanan dan tidak melegalkan perusakan dan pembunuhan. Allah berfirman :&lt;br /&gt;وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا&lt;br /&gt; "Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya."  (QS.An Nisaa' : 93)&lt;br /&gt;Rosulullah sholAllahu 'alaihi wa sallam berperang, bukanlah bertujuan merusak dan hanya sekedar menumpahkan darah orang-orang kafir, akan tetapi beliau berperang untuk menyebarkan kalimat Tauhid "Laa ilaaha Illallah". Sehingga apabila orang-orang kafir tunduk dengan masuk Islam atau membayar jizyah (pajak/Upeti), maka Rosulullah sholAllahu'alaihi wa sallam menjamin keamanan jiwa dan harta mereka.&lt;br /&gt;Rosulullah sholAllahu 'alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتىَّ يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ فَإِنْ فَعَلُوْا ذَلِكَ عَصَمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَ أَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّهَا وَ حِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ . (رواه البخاري و مسلم)&lt;br /&gt; "Aku diperintahkan memerangi manusia sehingga mereka bersaksi Tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah. Apabila mereka melakukannya (mengucapkan syahadat Laa ilaha illAllah) maka mereka mendapatkan perlindungan terhadap darah dan harta mereka kecuali dengan haknya, sedangkan hisab amalan mereka kembali kepada Allah Azza wa Jalla."  (HR.Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;Diriwayatkan Abu Ubaid, bahwasanya salah seorang Yahudi masuk Islam, lalu ia diminta untuk membayar jizyah, dikatakan kepadanya : "kamu masuk Islam hanya untuk mencari perlindungan." Maka ia berkata : "Sesungguhnya di dalam Islam terdapat perlindungan dan telah ditetapkan bagi siapa yang masuk Islam untuk tidak ditarik darinya jizyah." (lihat Al Irwa' : 1259)&lt;br /&gt;            Adapun oknum-oknum yang melegalkan pemberontakan dan pembunuhan dengan nama Islam, mereka membunuh kafir mu'ahad (kafir yang mendapat jaminan keamanan dari pemerintah) bahkan mereka menghalalkan darah orang yang tidak bersalah dari kaum muslimin dengan alasan berjihad untuk meninggikan bendera Islam. Maka ketahuilah, sesungguhnya mereka tidaklah meninggikan bendera Islam, akan tetapi mereka mengibarkan bendera Khowarij sebagaimana nenek moyang mereka telah memberontak Ali bin Abi Thalib radhiyAllahu'anhu dan di akhir zaman nanti mereka menjadi pengikut Dajjal memerangi kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَ إِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً .&lt;br /&gt; "Barangsiapa membunuh kafir Mu'ahad maka dia tidak dapat mencium bau surga, padahal bau surga dapat dicium dari jarak 40 tahun perjalanan."  (HR.Ahmad, Bukhari,Annasa'I,Baihaqi, lihat Shohih Jami' Shoghir:6457)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * HANYA ALLAH YANG MENUNJUKKAN SESEORANG KE DALAM ISLAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wata'ala berfirman :&lt;br /&gt;يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُل لا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُم بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلإِيمَانِ إِن كُنتُمْ صَادِقِين&lt;br /&gt; "Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar."  (QS.Al Hujurat:17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wata'ala berfirman :&lt;br /&gt;وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا&lt;br /&gt;"Aku sempurnakan kepadamu ni’matKu serta aku ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.”. (QS.Al Ma'idah :3)&lt;br /&gt;Allah subhanahu wata'ala berfirman :&lt;br /&gt;إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُون&lt;br /&gt; "Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam."  (QS.Al Baqarah:132)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wata'ala berfirman :&lt;br /&gt;فَمَن يُرِدِ اللّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإِسْلاَمِ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاء كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُون&lt;br /&gt; "Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam.Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit , seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman."  (QS.Al An'aam:125)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosulullah sholAllahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, baik dari keturunan Arab atau yang lainnya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam agama Islam, kemudian akan muncul fitnah seperti naungan." (lihat Asshohihah :51)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * ORANG-ORANG KAFIR BERANGAN-ANGAN UNTUK MASUK ISLAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wata'ala berfirman :&lt;br /&gt;رُّبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُواْ لَوْ كَانُواْ مُسْلِمِين&lt;br /&gt; "Orang-orang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim."  (QS.Al Hijr :2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wata'ala berfirman :&lt;br /&gt;أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ&lt;br /&gt; "Apakah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang telah Allah berikan kepadanya?"  (QS.An Nisaa' : 54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * MENDAKWAHKAN ISLAM KEPADA ANAK KECIL DAN ORANG BESAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ غُلاَمٌ يَهُوْدِيٌ يَخْدِمُ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم فَمَرَضَ فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم يَعُوْدُهُ فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ : أَسْلِمْ , فَنَظَرَ إِلَى أَبِيْهِ وَهُوَ عِنْدَهُ. فَقَالَ لَهُ : أَطِعْ أَبَا القَاسِمِ صلى الله عليه و سلم , فَخَرَجَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم وَهُوَ يَقُوْلُ : الْحَمْدُ للهِ  الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ. فَلَمَّا مَاتَ قَالَ : صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ . (رواه البخاري و الحاكم و البيهاقي و أحمد انظر أحكام الجنائز ص:21)&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik rodhiyAllahu 'anhu ia berkata : Anak kecil beragama Yahudi menjadi pembantu Rosulullah sholAllahu 'alaihi wa sallam, ketika ia sakit Nabi sholAllahu 'alaihi wa sallam datang untuk menjenguknya, beliau duduk di samping kepalanya lalu berkata kepadanya : "Masuklah Islam." Maka dia melihat ayahnya yang berada di sisinya. Lalu ayahnya berkata kepadanya :"Taatilah Abu Qosim sholAllahu 'alaihi wa sallam." Maka ia masuk Islam. Kemudian Rosulullah sholAllahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka." Ketika dia mati beliau berkata (kepada sahabatnya) : "Shalatilah shahabat kalian." (HR.Bukhari, Hakim, Baihaqi dan Ahmad lihat Ahkamul Jana'iz :21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pembahasan yang dapat kami uraikan, mudah-mudahan Allah meneguhkan hati kita di atas Islam sehingga kita berjumpa dengan-Nya. Amin.&lt;br /&gt;Selesai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5587366944880896836-430767614387275499?l=pengajianbahrain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/430767614387275499/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5587366944880896836&amp;postID=430767614387275499' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/430767614387275499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/430767614387275499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/2008/03/keutamaan-agama-islam-part-3.html' title='Keutamaan Agama Islam part 3'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836.post-5389992029675102333</id><published>2008-03-06T10:24:00.000-08:00</published><updated>2008-03-06T10:25:47.244-08:00</updated><title type='text'>Keutamaan Agama Islam part 2</title><content type='html'>KEUTAMAAN AGAMA ISLAM (2)&lt;br /&gt;Oleh: Syeikh Walid bin Muhammad Saif An Nasr hafidzohulloh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * ISLAM AGAMA YANG SESUAI DENGAN FITROH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahulloh berkata :"Sungguh Nabi sholAllahu'alaihi wa sallam telah bersabda :&lt;br /&gt;كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى اْلفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يَهُوِّدَانِهِ أ َوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ&lt;br /&gt;artinya : "Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan Fitroh (beragama islam) hanya saja kedua orangtuanya menjadikannya beragama Yahudi atau Nasrani atau Majusi."&lt;br /&gt;فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;“ Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama(Allah): (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah)agama yang lurus; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.“  (Ar Ruum:30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَفِي اْلحَدِيْثِ الصَحِيْحِ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم : قَالَ اللهُ تَعَالَى : إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِيْ حُنَفَاءَ, فَاجْتَالَتْهُمُ الشَّيَاطِيْنُ وَ حَرَّمْتُ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَ أَمَرْتُهُمْ أَنْ يُشْرِكُوْا بِي مَا لَمْ يُنَزَّلْ بِهِ سُلْطَانَا.&lt;br /&gt;Dalam Hadits yang shohih, dari Nabi SholAllahu 'alaihi wa sallam : Allah berfirman : "Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan lurus(bertauhid) maka syaiton menyelewengkan mereka. Mereka(syaiton-syaiton) mengharamkan bagi hamba-hamba-Ku apa yang Aku halalkan bagi mereka dan memerintahkan untuk menyekutukan-Ku, yang (Allah) tidak menurunkan keterangan tentang itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama yang lurus adalah istiqomah dengan mengikhlaskan ibadah kepada Allah disertai dengan kecintaan dan ketundukan kepada-Nya. Dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, baik dalam kecintaan maupun ketundukan, karena ibadah mengandung makna yang sempurna dalam kecintaan dan ketundukan, sehingga tidak ada siapapun juga yang berhak diibadahi melainkan hanyalah Allah. Begitu pula dengan rasa takut, taqwa dan tawakal hanya kepada Allah semata. Sedangkan Rosulullah ditaati dan dicintai. Halal adalah apa-apa yang dihalalkan-Nya, sedangkan harom adalah apa-apa yang diharamkan-Nya dan agama adalah seluruh apa yang disyariatkan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ&lt;br /&gt; “ Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rosul-Nya dan takut kepada Allah serta bertaqwa kepada-Nya maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.“  (An Nur : 52)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوْاْ مَا آتَاهُمُ اللّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُواْ حَسْبُنَا اللّهُ سَيُؤْتِينَا اللّهُ مِن فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللّهِ رَاغِبُون&lt;br /&gt; " Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rosul-Nya kepada mereka dan berkata,"Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian karunia-Nya dan demikian (pula) Rosul-Nya. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah." (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka)." (At Taubah : 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah hakekat agama islam yang sebenarnya." (Majmu' fatawa Ibnu Taimiyah 10/467)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * ISLAM MENGHAPUS DOSA YANG TELAH LALU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ عَمْرِو بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ للِنَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم لمَاَ أَسْلَمَ : أُرِيْدُ أَنْ أَشْتَرِطَ قَالَ : تَشْتَرِطُ مَاذَا ؟ قُلْتُ : أَنْ يُغْفَرَ لِي قَالَ : أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الإِسْلاَمَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ.(رواه مسلم:121)&lt;br /&gt;Dari Amr bin Al Ash radhiyAllahu'anhu ia berkata kepada Nabi SholAllahu 'alaihi wa sallam ketika ia masuk Islam : "Saya menginginkan sebuah persyaratan." Beliau bertanya : "Persyaratan apa ? aku berkata : " Persyaratan agar dosaku diampuni." Maka beliau bersabda :"Tidakkah engkau mengetahui bahwasanya Islam menghapus dosa yang telah lalu." (HR.Muslim:121)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ : إِذَا أَسْلَمَ العَبْدُ فَحَسُنَ إِسْلاَمُهُ كَتَبَ اللهُ لَهُ كُلَّ حَسَنَةٍ كَانَ أَزْلَفَهَا وَ مُحِيَتْ عَنْهُ كُلُّ سَيِّئَةٍ كَانَ أَزْلَفَهَا, ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ القِصَاصُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرَةِِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِئَةِ ضِعْفٍ وَ السَيِّئَةُ بِمِثْلِهَا إِلاَّ أَنْ يَتَجَاوَزَ اللهُ.(رواه النسائي :8/105-106)&lt;br /&gt;Dari Abu Sa'id Al Khudry rodhilAllahu'anhu Dari Nabi SholAllahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda :"Apabila seorang hamba masuk ke dalam agama Islam  dan memperbaiki keislamannya, maka Allah mencatat semua kebaikan yang ia kerjakan sebelumnya (sebelum masuk Islam) dan Allah menghapus semua kejelekan yang ia lakukan sebelumnya. Kemudian setelah itu (Allah) membalas satu kebaikan dengan pahala sepuluh kali lipat dari amalannya, bahkan Allah melipatgandakan hingga tujuh ratus kali lipat dari amalannya. Dan kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya, atau Allah mengampuninya." (HR. Nasa'I : 8/105-106)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Rajab Al Hambali rahimahulloh berkata (menjelaskan hadits diatas,red): "Yang dimaksud adalah kebaikan dan kejelekan yang dia kerjakan sebelum masuk Islam. Hal ini menunjukkan bahwasanya kebaikan yang dia kerjakan selama dalam keadaan kafir akan diberi pahala apabila dia masuk Islam dan kejelekan yang dia kerjakan akan terhapus dengan syarat dia memperbaiki keislamannya dan menjauhi kejelekan tersebut setelah masuk islam. Inilah pendapat Imam Ahmad  rahimahulloh. Pendapat ini dikuatkan dengan hadits yang diriwayatkan Bukhari : 2/268 dan Muslim : 120 dari Ibnu Mas'ud radhiyAllahu 'anhu ia berkata :"Wahai Rosulullah ! apakah kita dihukum karena kejelekan yang kita kerjakan pada masa jahiliyah ." Beliau menjawab : "Barangsiapa diantara kalian yang memperbaiki keislamannya maka dia tidak dihukum karena kejelekannya (di masa jahiliyah), dan barangsiapa berbuat kejelekan setelah masuk islam, maka ia dihukum karena kejelekan yang ia lakukan pada masa jahiliyah dan setelah ia masuk Islam." (Iqodzul Himam Al Muntaqo min Jami'il Ulum Wal Hikam hal 177)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : الإِسْلاَمُ يَعْلُوْ وَلاَ يُعْلَى عَلَيْهِ.&lt;br /&gt;Rosululoh  SholAllahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Islam adalah agama yang tinggi.dan tidak ada agama yang lebih tinggi darinya." (Hadits hasan, lihat Irwaul Gholil no. 1268 oleh syaikh al-Albani (tanpa tambahan editor)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * KEBAHAGIAAN DI DALAM ISLAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan dan ketentraman tidaklah diukur dengan banyaknya harta dan benda. Kebahagiaan tidak akan terwujud dengan hanya menumpuk materi dan ketentraman tidak akan terpenuhi hanya dengan mengejar duniawi. Islam agama yang mulia dan penuh berkah, mengajak pemeluknya menjadi orang yang hidup berbahagia. Bahkan barangsiapa yang memperbaiki keislamannya, Islam akan menjamin baginya ketentraman dan kebahagiaan di dunia dan di akherat. Maka berapa banyak orang miskin yang taat kepada Allah dan Rosul-Nya, ia mendapatkan ketentraman dan kebahagiaan. Hidupnya tenang, keluarganya rukun, istri dan anaknya patuh dan sayang kepadanya, sehingga rumahnya laksana surga di dunia. Maha benar Allah dalam firman-Nya :&lt;br /&gt;مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ&lt;br /&gt; "Barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami berikan balasan kepada mereka dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."  (An Nahl : 97)&lt;br /&gt;الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوب&lt;br /&gt; "(yaitu)orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram."  (Ar Ro'd : 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan  sebaliknya betapa banyak orang yang hidup mewah namun jauh dari Allah dan Rosul-Nya, mereka tiada mendapatkan ketentraman dan kebahagiaan. Hidupnya sempit, keluarganya berantakan, istri dan anak durhaka kepadanya, sehingga rumah tangganya ibarat neraka di dunia. Dia mencari kesenangan bahkan dia membeli ketentraman, namun yang ia dapatkan adalah kecelakaan. Dia ingin damai dan bahagia tetapi yang ia jumpai adalah bencana dan malapetaka. Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta (124)Berkatalah ia,"Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?(125)Allah berfirman:"Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat kami, maka kamu melupakannya dan begitu pula pada hari ini kamupun dilupakan(156)Dan demikianlah kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.(127)   (Toha : 124-127)&lt;br /&gt;bersambung .........&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5587366944880896836-5389992029675102333?l=pengajianbahrain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/5389992029675102333/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5587366944880896836&amp;postID=5389992029675102333' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/5389992029675102333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/5389992029675102333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/2008/03/keutamaan-agama-islam-part-2.html' title='Keutamaan Agama Islam part 2'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836.post-8562883532464470615</id><published>2008-03-06T09:55:00.000-08:00</published><updated>2008-03-06T10:20:20.690-08:00</updated><title type='text'>Keutamaan agama Islam part 1</title><content type='html'>Oleh: Syeikh Walid bin Muhammad Saif An Nasr hafidzohulloh&lt;br /&gt;Diterjemahkan oleh Abu Yusuf bin Muhammad Alim As Salafy dari Majalah Al Istiqomah edisi 7 tahun 1423&lt;br /&gt;H/2004 M hal 48 dengan beberapa tambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;artinya : "Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah diterima agama itu daripadanya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi." (Ali Imron: 85)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * HANYA AGAMA ISLAM YANG DITERIMA DI SISI ALLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam adalah agama yang diterima di sisi Allah, selain Islam adalah agama yang tertolak dan pemeluknya menjadi orang-orang yang merugi.&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman :&lt;br /&gt;إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ&lt;br /&gt;artinya : "Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam." (Ali Imron : 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Katsir rahimahulloh berkata (menjelaskan ayat diatas) : " Allah Ta'ala mengkabarkan bahwasanya tidak ada satupun agama yang diterima di sisiNya selain agama Islam. Islam adalah agama yang dianut seluruh Rosul yang diutus oleh Allah pada setiap zaman, yang diakhiri dengan terutusnya Nabi Muhammad shollAllahu 'alaihi wa sallam. Seluruh jalan menuju agama ini sudah tertutup kecuali hanya melalui jalan Muhammad shollAllahu 'alaihi wa sallam. Maka barangsiapa mati setelah diutusnya Nabi Muhammad shollAllahu 'alaihi wa sallam dengan membawa agama selain dari syariatnya, maka agamanya tidak akan diterima."&lt;br /&gt;(Tafsir AlQur'anul Adzim : 2/36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wata'ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ&lt;br /&gt;artinya : "Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah diterima agama itu daripadanya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi." (Ali Imron:85)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَفَغَيْرَ دِينِ اللّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;artinya : "Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan." (Ali Imron:83)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Abdurrahman As Sa'di rahimahulloh berkata (menjelaskan ayat diatas) : "Seluruh makhluk tunduk terhadap perintah Allah dan berserah diri kepadaNya. Ada yang tunduk dan berserah diri secara taat dan cinta, mereka adalah orang islam dan beriman yang tunduk dalam beribadah kepada Tuhannya.  Adapula yang tunduk dan berserah diri secara terpaksa, mereka adalah seluruh makhluk bahkan orang-orang kafir. Mereka berserah diri kepada ketentuan dan takdir Allah. Mereka tidak bisa keluar dan menolak takdir-Nya. Kepada Allahlah seluruh makhluk dikembalikan, maka Allah menghukumi mereka dan membalas perbuatan mereka dengan hikmah yang berkisar antara karunia dan keadilan."&lt;br /&gt;(Tafsir karimi Arrohman fii Tafsiri kalami Al Mannan, Syeikh Abdurrahman Assa'di hal:137)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * ISLAM AGAMA YANG SEMPURNA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wata'ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِيناً&lt;br /&gt;" Pada hari ini Aku telah sempurnakan buat kalian agama kalian, Telah Aku sempurnakan nikmatKu atas kalian dan Aku telah ridhoi Islam buat kalian sebagai diin (sistem hidup) ."(Al Ma'idah :3]&lt;br /&gt;Imam Malik Rahimahulloh berkata :&lt;br /&gt;مَنْ زَعَمَ أَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَدًا خَانَ الرِّسَالَةَ&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang mengadakan dalam Islam sebuah bid'ah yang ia anggap baik, sungguh ia telah menuduh Muhammad sholAllahu 'alaihi wa sallam menghianati risalah (yang telah diturunkan kepadanya)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosulullah sholAllahu 'alihi wasallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ  رَدٌّ.   [رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ]&lt;br /&gt;Dari Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah; Aisyah Radhiallahuanha dia berkata : Rasulullah SholAllahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal darinya), maka dia tertolak." (HR.Bukhori dan Muslim) dalam riwayat Muslim disebutkan: "Siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak").&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosulullah sholAllahu 'alihi wasallam juga bersabda :&lt;br /&gt;إِيَّاكُمْ وَمُحْدثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ (صحيح رواه أبو داود)&lt;br /&gt;"Jauhilah oleh kalian semua yang diada adakan (dalam agama), karena semua yang diada adakan itu bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat." (HR. Abu Daud, shohih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * ISLAM AGAMA PENGHUNI SURGA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosulullah SholAllahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;لاَيَدْخُلُ اْلجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَسْلَمَ (رواه أحمد:4/89)&lt;br /&gt;Artinya : "Tidak akan masuk surga kecuali orang yang beragama islam." (HR.Ahmad 4/89)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُوْلَئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang taat (masuk Islam) maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus."  (Al Jin : 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ . مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ&lt;br /&gt; "Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir), Mengapa kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan."  (Al -Qolam : 35-36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ : وَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِيْ رَجُلٌ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ وَلاَ يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ لَمْ يُؤْمِنْ بِيْ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ (الصحيحة : 157)&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah rodhiyAllahu 'anhu dari Nabi Sholallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda:"Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, tidaklah seorangpun dari umat ini yang mendengar risalah kenabianku baik Yahudi ataupun Nasroni, kemudian tidak beriman kepadaku,kecuali pasti akan menjadi penghuni neraka." (Silsilah Ahadits Asshohihah : 157)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * SELURUH PARA NABI BERAGAMA ISLAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala mengisahkan wasiat Nabi Ya'qub 'alaihissalam kepada anak-anaknya dalam FirmanNya :&lt;br /&gt;أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُواْ نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ&lt;br /&gt; “ Apakah kamu hadir(menyaksikan)ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) kematian, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku ?" Mereka menjawab : "kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma'il dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." (Al Baqoroh : 133 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : وَيُهْلِكُ اللهُ فِيْ زَمَانِهِ المِلَلَ كُلَّهَا إِلاَّ اْلإِسْلاَمَ . (رواه أبو داود)&lt;br /&gt;Rosulullah sholAllahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Allah melenyapkan seluruh agama pada zamannya (Nabi Isa 'alaihissalam ketika turun ke dunia mendekati hari kiamat) kecuali agama Islam." (HR. Abu Dawud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosulullah SholAllahu 'alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;إِنَّا مَعَاشِرَ اْلأَنْبِيَاءِ دِيْنُنَا وَاحِدٌ (رواه البخاري : 3442, مسلم : 143)&lt;br /&gt;artinya : "Sesungguhnya kami seluruh para Nabi, agama kami adalah satu." (HR.Bukhari:3442, Muslim: 143)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ&lt;br /&gt; "Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertaqwalah kepada-Ku."  (Al Mu'minun : 52)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir rahimahulloh berkata (menjelaskan ayat di atas): " maknanya; Agama kamu semua wahai para Nabi adalah agama yang satu, dan ajaran kalian adalah ajaran yang satu; yaitu menyeru untuk beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukannya (dengan sesuatu apapun)." (Tafsir Ibnu Katsir 10/127)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ&lt;br /&gt; “ Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama, apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan  kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.“  (Asy Syuura : 13)&lt;br /&gt;Seluruh Nabi agamanya adalah satu, yaitu Agama Islam. Akan tetapi syariat mereka berbeda-beda. Disyariatkan sebuah perintah (ibadah) disuatu masa karena hikmah, dan disyariatkan perintah yang lain diwaktu yang berlainan pula, karena hikmah. Seperti disyariatkannya sholat menghadap Baitul Maqdis pada masa permulaan Islam, kemudian syariat tersebut dihapus dengan perintah sholat menghadap Ka'bah (karena hikmah dari Allah,red).&lt;br /&gt;Jadi syariat para Nabi bermacam-macam namun pada dasarnya agama mereka hanya satu.&lt;br /&gt;bersambung .........&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5587366944880896836-8562883532464470615?l=pengajianbahrain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/8562883532464470615/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5587366944880896836&amp;postID=8562883532464470615' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/8562883532464470615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/8562883532464470615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/2008/03/keutamaan-agama-islam-part-1.html' title='Keutamaan agama Islam part 1'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836.post-1645972420114762227</id><published>2008-02-14T21:08:00.000-08:00</published><updated>2008-02-14T21:09:29.387-08:00</updated><title type='text'>History</title><content type='html'>&lt;h3 style="text-align: center;"&gt;Sejarah Pengajian Bahrain&lt;/h3&gt;     &lt;p align="justify"&gt;Pengajian Bahrain mulai dirintis kurang lebih 1 tahun yang lalu. Adalah  &lt;strong&gt;Ust. Tsabit Aqdam bin Mahmud&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;saat ini sedang berada di Indonesia&lt;/em&gt;) ketika itu  mengikuti beberapa kegiatan &lt;strong&gt;&lt;a href="file:///www.perkibar.org"&gt;Perkibar&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;(Perhimpunan Keluarga Besar Indonesia di  Bahrain)&lt;/em&gt; dan kemudian mengenal beberapa pembesar WNI di Bahrain diantaranya  &lt;strong&gt;Bp.Rosikin&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;mantan ketua dan salah seorang pendiri perkibar&lt;/em&gt;) &lt;strong&gt;Bp. Fery Djohan&lt;/strong&gt;  (&lt;em&gt;tokoh  Muslim Indonesia di Bahrain&lt;/em&gt;), &lt;strong&gt;Bp.Rian Wisandanu&lt;/strong&gt; (Ketua  Perkibar periode 2007-2008)&lt;strong&gt; Bp.Taufik Kurniawan&lt;/strong&gt;,&lt;strong&gt; Utsman Slemania&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;saat ini  berada di Indonesia&lt;/em&gt;). Maka beliau sering berziaroh(berkunjung) dan berdiskusi agama dengan para pembesar tersebut. Dari situlah kemudian muncul gagasan dan ide perlu diadakan kajian islam ilmiah berbahasa Indonesia bagi WNI yang berada di Kingdom of Bahrain.&lt;br /&gt;Akhirnya pada hari Jum’at tanggal  &lt;strong&gt;1 Desember 2006&lt;/strong&gt; bertepatan dengan tanggal&lt;strong&gt; 10 Dzul Qo’dah 1427 H&lt;/strong&gt;, diadakanlah pertemuan perdana guna membahas lebih lanjut ide dan gagasan kajian islam ilmiah tersebut. Hadir dalam kesempatan itu diantaranya :&lt;/p&gt;     &lt;ol start="1" class="style1" type="1"&gt;&lt;li&gt;Bp. Fery Djohan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bp. Rosikin&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bp. Rian Wisandanu&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ust. Tsabit Aqdam bin Mahmud&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ust. Ahmad Jamil bin Alim&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sdr. Taufik Kurniawan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sdr. Utsman&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sdr. Budi Pranawinata (&lt;em&gt;mantan IT Geant       Hypermarket&lt;/em&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sdr. Nasser Geeman&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;     &lt;p align="justify"&gt;Dalam kesempatan ini Bp. Rosikin memberikan keterangan tentang kondisi yang melatarbelakangi pentingnya segera diadakan pengajian tersebut, sejarah singkat dan sekilas informasi WNI di Bahrain.&lt;br /&gt;      Ada beberapa point yang  berhasil disepakati oleh forum ketika itu :&lt;/p&gt;     &lt;ol start="1" type="a"&gt;&lt;li&gt;         &lt;div align="justify"&gt;Akan       diadakan pengajian tiap hari jum’at ba’da sholat Isya.&lt;br /&gt;        yang bersumber kepada Al Qur'an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman para Salaf Shalih;para sahabat &lt;em&gt;rodhiyallohu 'anhum ajma'in &lt;/em&gt; Ahlu sunnah wal Jama'ah dengan menjauhi segala bentuk kesyirikan, bid'ah dan pemahaman-pemahaman yang menyimpang dari ajaran Rosululloh &lt;em&gt;sholallohu'alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. &lt;/div&gt;       &lt;/li&gt;&lt;li&gt;         &lt;div align="justify"&gt;Pengajian       akan diadakan di Masjid Ali Jabr Kota Hidd.&lt;/div&gt;       &lt;/li&gt;&lt;li&gt;         &lt;div align="justify"&gt;Ust.Ahmad Jamil bersedia menjadi Narasumber dalam       pengajian tersebut.&lt;/div&gt;       &lt;/li&gt;&lt;li&gt;         &lt;div align="justify"&gt;Peserta Pengajian tidak hanya dari WNI tapi dari Negara-negara yang memiliki kesamaan bahasa seperti Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam.&lt;/div&gt;       &lt;/li&gt;&lt;li&gt;         &lt;div align="justify"&gt;Pengajian akan dimulai pada hari Jum’at tanggal 8       Desember 2006/ 17 Dzul qo’dah 1427 H.&lt;/div&gt;       &lt;/li&gt;&lt;li&gt;         &lt;div align="justify"&gt;Pengajian ini dibawah naungan Hidayah Center , Hidd Charity Fund.( Ust. Ahmad Jamil sebagai salah satu Da’I dari Hidayah Center dan mendapatkan Visa dari Ministry of Islamic Affair Kingdom of Bahrain (kementrian Keagamaan Bahrain)&lt;/div&gt;       &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;     &lt;p align="justify"&gt;Pada pengajian perdana tanggal 8 Desember 2006, hadir dalam kesempatan ini kurang lebih 15 orang. Hadir pula perwakilan dari &lt;strong&gt;Konjen RI di Bahrain Bp.Syaefuddin&lt;/strong&gt; dan berkenan memberikan kata sambutannya. Sejak itulah dilaksanakan pengajian secara rutin tiap hari Jum'at malam ba'da sholat Isya.&lt;/p&gt;     &lt;p align="justify"&gt;Jumlah peserta pengajian pada awal mula berdiri mengalami fluktuasi, kadang-kadang 10 orang bahkan pernah hanya 5 orang peserta yang hadir hal ini disebabkan sosialisasi acara ini belum merata ke seluruh WNI di Bahrain. Namun Pengajian tetap dijalankan sesuai dengan agenda setiap pekannya.&lt;/p&gt;     &lt;p align="justify"&gt; Permasalahan yang ada dari awal pembentukan sampai saat ini adalah minimnya sarana transportasi jama'ah. Antar jemput sesama jamaah yang berdekatan pun dilakukan untuk membantu jama'ah yang tidak memiliki sarana transportasi. Seperti &lt;strong&gt;Bp.Rosikin&lt;/strong&gt; paling sering menjadi tumpuan teman-teman dalam hal antar jemput ini, demikian pula &lt;strong&gt;Bp. Rian Wisandanu&lt;/strong&gt; dan yang lainnya.&lt;/p&gt;     &lt;p align="justify"&gt; Sebenarnya di Hidayah Center ada mobil inventaris yang bisa pinjam untuk acara ini. Namun yang menjadi kendala adalah sopir. Pernah seorang Teman &lt;strong&gt;Ust.Ahmad Jamil&lt;/strong&gt; yang bernama&lt;strong&gt; Abdurrohman&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;beliau berasal dari Hyderabat,India&lt;/em&gt;) yang membantu mengantar dan menjemput teman-teman yang ingin mengikuti pengajian. Bahkan beliau sering mengantar sampai di kota Riffa (kira-kira 35 km dari kota Hidd).&lt;/p&gt;     &lt;p align="justify"&gt; Kemudian dibentuk pula Mailing List Pengajian Bahrain, sebagai media tukar menukar informasi dan ilmu pengetahuan seputar hukum-hukum agama dan sebagainya. Media ini pulalah yang bermanfaat untuk menjalin ukhuwah islamiyah dikalangan jama'ah yang saling berjauhan tempat tinggal.&lt;br /&gt;    alhamdulillah di penghujung tahun 2007 yang lalu jumlah peserta kajian meningkat tajam. (&lt;em&gt;bahkan sejak bulan september 2007 &lt;/em&gt;) beberapa bulan terakhir peserta dari negara Jiran; Malaysia  sering mendominasi jumlah peserta kajian. &lt;/p&gt;      Hal ini tidak lepas dari upaya teman-teman dari Malaysia seperti Bp. Ali Hasan , Bp. Helmy, Bp. Zaharin dan yang lain-lain yang aktif mengajak saudara-saudaranya bahkan keluarga (&lt;em&gt;anak dan isterinya&lt;/em&gt;) untuk menghadiri Pengajian ini. &lt;em&gt;semoga Alloh membalas segala amal usaha mereka semua, amien. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Demikian sekelumit cerita perjalanan pengajian bahrain sampai saat ini, insyaalloh disambung lagi pada kesempatan yang lain.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      &lt;strong&gt;Tim Kreatif PB&lt;/strong&gt;, dari berbagai sumber.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5587366944880896836-1645972420114762227?l=pengajianbahrain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/1645972420114762227/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5587366944880896836&amp;postID=1645972420114762227' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/1645972420114762227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/1645972420114762227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/2008/02/history.html' title='History'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5587366944880896836.post-2223702932146772541</id><published>2008-02-14T21:04:00.000-08:00</published><updated>2008-02-14T21:06:35.660-08:00</updated><title type='text'>Profile</title><content type='html'>&lt;h3&gt;Profile Pengajian Bahrain  &lt;/h3&gt;     &lt;p align="justify"&gt;Pengajian Bahrain adalah suatu Majelis Taklim Islam Ilmiah yang secara resmi berada di bawah naungan Markaz Hidayah di kota Hidd, Kingdom of Bahrain yang menginduk kepada Hidd Charity Fund. Serta dibawah pengawasan Ministry of Islamic Affair (&lt;em&gt;Kementrian Agama Islam Bahrain&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;    Suatu wadah bagi para pendatang/&lt;em&gt;expatriate&lt;/em&gt; muslim dari berbagai bangsa yang memiliki kesamaan bahasa induk, seperti Indonesia, Malaysia,Singapura dan Brunei Darussalam.&lt;/p&gt;     Yang berlandaskan kepada Al Qur'an dan Assunnah, sesuai dengan pemahaman Salafus Sholih(Rosululloh, para Sahabat dan Tabi'in/tabiut tabiin) Ahlu Sunnah wal Jama'ah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5587366944880896836-2223702932146772541?l=pengajianbahrain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/feeds/2223702932146772541/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5587366944880896836&amp;postID=2223702932146772541' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/2223702932146772541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5587366944880896836/posts/default/2223702932146772541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengajianbahrain.blogspot.com/2008/02/profile.html' title='Profile'/><author><name>Pengajian Bahrain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06859268043749562010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='14' src='http://1.bp.blogspot.com/_cyjgzSuMphw/SUuTCIDraoI/AAAAAAAAAAg/ADX5TiRsjH4/S220/Bahrain-Ied-1429.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
